Situbondo (ANTARA) - "Pak, mari ikut ke dalam, lihat kondisi rumah saya, jebol, dan dagangan di depan rumah juga habis dibawa banjir," kata Halid Firdausi (40), satu dari ratusan korban banjir bandang di Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, Kabupaten Situbondo, Jawa Timur.
Ia memanggil wartawan LKBN ANTARA, mengajak, untuk melihat kondisi rumah semi permanen miliknya yang berantakan, nyaris ambruk, dipenuhi material banjir, seperti lumpur, kayu, ranting kayu dan sampah, setelah diterpa banjir bandang, pada Rabu, 21 Januari 2026.
Dengan suara sedikit tenang dan tertata, ia bercerita, bagaimana banjir luapan air Sungai Lubawang di desanya itu menghempas rumahnya, hingga dinding samping dan belakang jebol dalam sekejap.
Meskipun demikian, sorot mata lelaki itu tak bisa berbohong. Tampak kilatan tegar yang dipaksakan, bercampur kesedihan tertahan di dua sudut mata pria yang kesehariannya menafkahi keluarganya dengan menjadi buruh tani.
Pada Rabu (21/1) malam, sekitar pukul 18.15 WIB, menjadi momen menyakitkan bagi Halid, istri, dan anaknya.
Bagaimana tidak, harta benda dan mata pencarian yang dikelola istri, yakni toko kecil berukuran 1,5 meter X 2 meter di depan rumahnya juga hancur diterpa banjir bandang yang membawa material kayu dan ranting.
Tak hanya bangunan, berbagai jenis isi dagangan toko kecil yang dibangun dengan kayu dan asbes itu, juga lenyap terbawa banjir bandang, dan sebagian kecil telah bercampur lumpur.
Kebutuhan dasarnya pun juga lenyap seketika disapu banjir bandang, yaitu sandang atau pakaian dari keluarga kurang mampu itu.
Halid Firdausi, bersama dengan keluarga kecilnya itu memilih bertahan menjaga harta bendanya, di kala banjir bandang membawa material kayu, ranting dan lumpur, menerjang rumahnya, dan seluruh rumah warga lainnya.
Seakan ia tak peduli dengan keselamatan dirinya, istri dan anaknya, ketika banjir bandang setinggi lebih dari 1,5 meter menggerus sebagian tempat tinggalnya.
"Saya tidak menyangka akan terjadi banjir bandang sebesar ini, dan saya bertahan di rumah bersama keluarga, sembari menyelamatkan apa yang bisa diselamatkan. Kalau pakaian dan seragam anak, kasur, dan perabotan lainnya sudah lenyap terbawa banjir," kata Halid.
Desa Lubawang, Kecamatan Banyuglugur, merupakan salah satu desa paling parah terdampak banjir bandang. Sebanyak 440 unit rumah di daerah itu, sebagian besar mengalami rusak berat.
Selanjutnya, dampak terparah banjir bandang di desa lainnya yang masih dalam satu kecamatan, yakni Desa Kalianget, dengan rumah terdampak sebanyak 246 unit.
Terdampak banjir luapan air Sungai Lubawang lainnya adalah di Kecamatan Besuki yang menimpa 5.425 rumah, tersebar di Desa Pesisir 2.882 rumah, Desa Kalimas 193 rumah, Desa Demung 44 rumah dan Desa Besuki 2.306 rumah.
Banjir bandang yang menggenangi rumah warga di Kecamatan Besuki juga menelan korban jiwa, Abdul Wahed (45), seorang bapak, dan anaknya Adinda Putri Rahayu tersengat listrik saat banjir.
Hujan dengan intensitas tinggi pada Rabu (21/1) juga menyebabkan sejumlah aliran sungai meluap, dan menggenangi 113 rumah warga di Desa Mlandingan Wetan, Kecamatan Bungatan, dan Desa Selomukti, Kecamatan Mlandingan, sebanyak 169 rumah, selanjutnya di Desa/Kecamatan Kendit sebanyak 154 rumah.
Pada waktu yang sama, hujan dengan intensitas cukup tinggi, juga mengakibatkan banjir di jalan raya pantura Dusun Kembangsambi, Desa Pasir Putih, Kecamatan Bungatan.
Banjir luapan air sungai membawa material batu dan pasir serta lumpur menutup akses jalur pantura yang menghubungkan Pulau Jawa dan Bali, selama sekitar sembilan jam.
Jalur pantura Situbondo kembali normal dan bisa dilalui kendaraan, setelah material batu dan pasir dibersihkan dari badan jalan menggunakan alat berat.
Polisi, TNI, BPBD, Tagana, pemerintah desa, pemerintah kecamatan serta masyarakat juga gotong royong membersihkan material banjir luapan air sungai, berupa batu, pasir dan lumpur.
Pemerintah Kabupaten Situbondo, melalui beberapa organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, seperti Dinas PUPP dan BPBD setempat bergerak cepat menangani dampak banjir bandang itu, termasuk memitigasi penyebab banjir.
Selain itu, tenaga kesehatan dari dinas kesehatan dan puskesmas juga turun menangani kesehatan masyarakat terdampak banjir. Langkah ini menjadi kesiapsiagaan dan respons cepat pemerintah daerah dalam penanganan bencana banjir bandang.
Pemerintah Kabupaten Situbondo mendirikan dapur umum pasca-banjir bandang yang menerjang ribuan rumah warga dan fasilitas umum di lima kecamatan.
Wakil Bupati Situbondo Ulfiyah menyampaikan petugas badan penanggulangan bencana daerah (BPBD) bersama tim tanggap bencana (tagana) setempat telah mendirikan dapur umum di Kantor Kecamatan Besuki.
Dapur umum yang sudah mulai berjalan pasca-banjir dan menyuplai makanan yang siap santap bagi warga terdampak banjir bandang.
Pendirian dapur umum itu bertujuan meningkatkan kesiapsiagaan dan respons cepat dalam penanggulangan bencana, dengan menyiapkan makanan siap yang saji, sekaligus menjadi pusat distribusi bantuan.
Musibah banjir bandang yang mengakibatkan hilangnya harta benda dan putusnya mata pencarian para korban bencana alam ini, menggugah masyarakat "Kota Santri" untuk membuka donasi, salah satunya melalui grup WhatsApp (grup WA) "Forum Diskusi Situbondo (FDS).
Gerak cepat pemerintah daerah bersama dengan TNI dan Polri menunjukkan bahwa negara selalu hadir untuk membantu warga. Selain itu, dari banjir bandang ini juga menunjukkan bahwa masyarakat kita masih menjaga nilai-nilai luhur bangsa untuk tolong menolong ketika saudaranya mengalami musibah.
