Denpasar (ANTARA) -
Aroma khas lem begitu kuat tercium dari salah satu sudut ruangan di gedung Annika Linden Centre Denpasar, Bali, yang menjadi rumah organisasi pemberdayaan disabilitas di Pulau Dewata.
Aroma tersebut berasal dari produksi kaki palsu yang digarap oleh sejumlah pekerja Pusat Pemberdayaan Penyandang Disabilitas (Puspadi) Bali, salah satu yayasan non profit yang bernaung di gedung tersebut.
Bahan lem itu menjadi salah satu pendukung utama pembuatan alat pendukung mobilitas kepada penyandang disabilitas fisik.
Para pekerja itu juga bukan pegawai biasa karena sebagian besar dari mereka juga merupakan penyandang disabilitas yang bekerja dari Senin hingga Jumat.
Mereka terlihat cekatan, tangan kanan dan kirinya saling bergantian mengerjakan proyek kaki palsu sesuai tahapan produksi, mulai dari mencetak desain, memperhalus, mengelem, memanaskan hingga tiba produk jadi dan pas di tubuh konsumen.
Buatan tangan
Ketua Yayasan Puspadi Bali I Made Gunung menjelaskan dari total 19 karyawan, 13 di antaranya merupakan penyandang disabilitas fisik.
Dari jumlah itu, sebanyak enam pekerja bertugas pada bagian ortotik prostetik atau mereka memproduksi kaki palsu yang sebagian besar dibuat oleh tangan-tangan kreatif.
Pekerja lainnya bertugas sebagai petugas lapangan, bagian kursi roda, hingga manajemen.
Produk kaki palsu yang dibuat adalah kaki palsu atas dan bawah lutut. Kemudian ankle foot orthosis (AFO) atau alat penyangga berbentuk sandal boots.
Alat bantu AFO itu berfungsi untuk memperbaiki bentuk kaki agar lebih stabil, yang digunakan oleh penyandang disabilitas karena cerebral palsy atau lumpuh otak hingga disabilitas akibat penyakit stroke.
Ada juga alat bantu brace atau penyangga kaki untuk penyandang disabilitas polio atau lumpuh layu.
I Made Gunung yang juga penyandang disabilitas fisik di tangan itu menjelaskan setidaknya ada tujuh tahapan pembuatan kaki palsu.
Proses itu dimulai dari asesmen atau pemeriksaan fisik konsumen dan selanjutnya proses pengukuran dan pencetakan kaki palsu.
Pencetakan kaki palsu itu menggunakan bahan cairan gip yang diproses hingga dua jam sampai kering.
Kemudian kaki palsu setengah jadi itu dihaluskan dari serat dan lapisan yang kasar.
Proses ketiga yakni rektifikasi atau memodifikasi bahan untuk mencari ukuran kaki palsu yang pas di konsumen.
Selanjutnya adalah memproses lembaran plastik menjadi soket. Soket ini berfungsi menghubungkan dan menyangga tungkai dengan kaki palsu.
Plastik jenis polystone tersebut dipanaskan selama sekitar 20 menit pada oven dengan suhu 200 derajat celsius.
Setelah beberapa bagian itu jadi, proses selanjutnya adakah perakitan untuk menyesuaikan bentuk kaki palsu, seperti proses perekatan dengan lem, hingga didiamkan beberapa jam agar kuat.
Tahap selanjutnya adalah penyesuaian dengan konsumen dan tahap akhir dengan cara memperhalus kaki palsu.
Dari proses cetak hingga penyesuaian membutuhkan waktu rata-rata tiga hingga empat hari, bergantung pada kondisi konsumen.
“Proses penyesuaian yang lama dan bervariasi tergantung konsumen. Jika karena amputasi akibat kecelakaan, proses lebih cepat dan sebaliknya jika karena diabetes, penyesuaian bisa lebih lama,” kata Made Gunung.
Harga kaki palsu bawah lutut mencapai Rp8,9 juta dan kaki palsu atas lutut mencapai Rp12,3 juta.
Rata-rata per tahun, Puspadi mampu memproduksi hingga 100 unit kaki palsu bawah lutut, kemudian sekitar 50 unit kaki palsu atas lutut, 10-15 unit brace dan hingga 400 unit AFO.
Saat ini, inovasi terus digencarkan salah satunya dengan membuat percontohan pembuatan tangan palsu.
Kendala sponsor
Bagi penyandang disabilitas dari kalangan ekonomi mampu harga tersebut kemungkinan tidak menjadi masalah. Namun bagi penyandang disabilitas dari ekonomi tidak mampu, maka harga menjadi persoalan.
Pasalnya, Made Gunung menjelaskan, ada komponen kaki palsu itu masih diimpor dari Kamboja, serta bagian telapak yang didatangkan dari Yogyakarta.
Meski begitu, yayasan yang berdiri sejak 1999 itu tak kehabisan akal.
Mereka harus memutar ide agar para penyandang disabilitas fisik itu mendapatkan kaki palsu, salah satunya melalui bantuan sponsor.
Peristiwa Bom Bali pada 2002 dan 2005, kemudian erupsi Gunung Agung pada 2017 hingga pandemi COVID-19 turut memberi dampak fluktuasi aliran bantuan dari para donatur.
Saat ini, setelah hampir tiga tahun bergulat akibat ekonomi Bali yang nyaris mati suri karena pandemi, sponsor mulai berdatangan meski tak sebanyak sebelumnya.
Kehadiran sponsor dari donatur memegang peranan penting untuk memastikan kelangsungan para penerima bantuan kaki palsu khususnya mereka dari golongan ekonomi tidak mampu.
Yayasan yang membantu mencarikan sponsor untuk membiayai produksi kaki palsu.
Kendati demikian, untuk mendapatkan kaki palsu perlu waktu tunggu hingga diterima di tangan konsumen karena perlu memastikan bantuan dari sponsor.
Secercah harapan
Hendra Eka adalah salah satu penyandang disabilitas fisik yang kini menjadi pengguna kaki palsu.
Pria muda asal Pulau Nias, Sumatera Utara, itu sebelumnya bekerja di salah satu perusahaan di Singaraja, Kabupaten Buleleng, Bali.
Namun naas, pada November 2024 ia mengalami kecelakaan lalu lintas hingga akhirnya kaki kirinya harus diamputasi.
Setelah sempat putus asa dua kali termasuk terkena PHK, kini ia menemukan kembali jalan dan semangat hidupnya berkat kaki palsu tersebut.
Tak butuh waktu lama, ia kemudian mencoba menyesuaikan diri dengan kaki palsu atas lutut yang baru jadi itu.
Untuk pertama kalinya, ia kini bisa perlahan berjalan tanpa menggunakan tongkat kruk yang sudah menemaninya selama hampir lima bulan.
Tak hanya Hendra, pelanggan kaki palsu buatan di Bali itu kini merambah sejumlah kota di Indonesia bagian timur, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Guna menambah kepercayaan diri dan kemandirian ekonomi, yayasan itu juga bekerja sama dengan organisasi non profit lainnya yakni Dnetwork melalui pelatihan kewirausahaan.
Organisasi itu berada dalam satu lingkungan gedung bersama Puspadi Bali dan Yayasan Peduli Kemanusiaan (YPK) Bali.
Para penyandang disabilitas fisik itu menjalani program magang singkat di perhotelan dan perusahaan untuk menimba ilmu dan keahlian.
Bersama organisasi itu pihaknya meningkatkan akses terhadap lapangan pekerjaan, sesuai mandat Undang-Undang Nomor 8 tahun 2916 bahwa pemerintah, badan usaha milik negara dan badan usaha milik daerah wajib mempekerjakan paling sedikit dua persen dan perusahaan swasta minimal satu persen dari jumlah pegawai.
Koordinator Dnetwork Insan Kamil menjelaskan sejak berdiri pada 2013 hingga 2025 pihaknya mendata sudah ada 600 orang penyandang disabilitas yang mereka latih, terserap di lebih dari 500 perusahaan.
Pada 2025, sebanyak 85 penyandang disabilitas diterima bekerja di sejumlah sektor usaha.
Di Bali, sebagian besar mereka terserap di sektor perhotelan dan ritel modern. Sedangkan di luar Bali, juga lebih banyak terserap di sektor ritel.
Selain penyandang disabilitas fisik atau tunadaksa, dunia usaha banyak menyerap tunarungu, tunanetra, hingga tunagrahita.
“Mereka bisa setara karena dibutuhkan untuk kerja. Ini berawal dari pelatihan dan magang,” ucapnya.
Sinergi yang saling berkaitan itu tak bisa dilepaskan dari buah kreativitas para penyandang disabilitas fisik di yayasan tersebut yang membawa secercah harapan kepada sesama.
Mereka juga bisa produktif dan membangun pemberdayaan untuk kesetaraan yang lebih inklusif.
