Jakarta (ANTARA) - Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) meresmikan delapan sekolah hasil program revitalisasi satuan pendidikan di wilayah tertinggal, terdepan, terluar (3T), yakni Pulau Sebatik, Kabupaten Nunukan, Provinsi Kalimantan Utara.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen), Atip Latipulhayat menerangkan Pulau Sebatik merupakan salah satu pulau kecil terluar, yang berbatasan langsung dengan Malaysia.
“Salah satu komponen penting adalah tersedianya sarana pendidikan yang memadai, yang memenuhi syarat-syarat terciptanya sekolah yang aman, nyaman serta mendukung pembelajaran yang efektif,” kata Wamendikdasmen, Atip dalam pernyataan tertulis di Jakarta, Senin.
Ia menjelaskan pelaksanaan program tersebut yang merupakan instruksi Presiden Prabowo Subianto, sesuai dengan amanat konstitusi, yakni mencerdaskan kehidupan bangsa
Karena itu, Atip berpesan kepada seluruh warga sekolah agar selalu menjaga fasilitas-fasilitas penunjang pendidikan yang sudah dibangun pemerintah.
“Tadi disebut toilet, itu jangan satu tahun dibangun, tahun keduanya kotor, menjaga dan memelihara itu sangat penting,” kata Atip.
Pada kesempatan itu, Wakil Bupati Kabupaten Nunukan Hermanus mengapresiasi kunjungan Wamendikdasmen ke Pulau Sebatik.
Menurutnya, kunjungan itu bukan hanya sekadar kunjungan biasa, tetapi memiliki pesan kuat bahwa negara memberikan perhatian nyata untuk yang tinggal di tapal batas. Anak-anak perbatasan memiliki hak yang sama untuk belajar dengan layak, dan tumbuh menjadi generasi bangsa.
"Secara khusus atas nama bupati saya menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Menteri dan Wakil Menteri Dikdasmen, yang memberikan atensi khusus kepada Kabupaten Nunukan atas pemberian revitalisasi yang luar biasa," ujar Hermanus.
Kepala SMK Negeri 1 Nunukan Jathu Roswita mengungkapkan sebelum revitalisasi, setiap hujan turun saat kegiatan belajar mengajar, para siswa maupun guru merasa khawatir apabila sewaktu-waktu atap maupun plafon akan runtuh akibat sudah lapuk.
“Biasa kami pakaikan terpal untuk menahan supaya tidak bocor ke bawah, juga dengan jumlah siswa kami 752 tentu jumlah toilet kurang,” ujar Roswita.
Dengan revitalisasi ini, lanjutnya, sekolah dapat menciptakan rasa aman dan nyaman, untuk siswa dalam pelaksanaan kegiatan belajar-mengajar, yang juga berpengaruh kepada motivasi siswa untuk masuk sekolah dan belajar.
“Alhamdulillah, setelah mendapatkan revitalisasi ini, siswa atau peserta didik kami merasa senang, lebih termotivasi untuk datang ke sekolah, karena mendapati sekolahnya sudah aman, nyaman, bangunannya menarik,” ujar Roswita.
Baca juga: Kementerian ESDM rencanakan kebut elektrifikasi 3T di 10.000 lokasi dalam 5 tahun
Baca juga: UI minta pemerintah tingkatkan pengetahuan guru atasi kekerasan anak di kawasan 3T
