Jakarta (ANTARA) - Diskusi publik Festival Film Horor (ffhoror) Januari 2026 menyimpulkan, sepanjang tahun ini film horor dalam negeri masih akan mendominasi bioskop, namun yang ramah keluarga dan logis akan lebih digemari masyarakat.
Kesimpulan tersebut disadur dari paparan narasumber Syaifullah Agam (Direktur Film, Musik, dan Seni, Kementerian Kebudayaan), dan Niniek L. Karim, aktris senior dan guru besar psikologi UI, dalam diskusi bulanan ffhoror di Pasar Minggu, Jakarta, pertengahan pekan ini.
Bersama mereka, menjadi narasumber Arya Pramasaputra yang tesis S2-nya di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tentang film horor, serta dua sutradara film Ivan Bandhito dan Bayu Pamungkas. Moderator jurnalis senior Dion Momongan.
Syaifullah menyatakan, film horor telah mengambil pangsa pasar 60 persen penonton film di seluruh bioskop sepanjang tiga tahun terakhir.
“Jumlah penonton film horor 2023-2025 total 128,1 juta, yang berarti lebih dari 60 persen jumlah penonton film secara keseluruhan. Dari 128,1 juta itu, 101,859 juta lebih atau 79 persennya menonton film horor lokal yang terdiri dari 290 judul. Kalau dirata-rata, tiap film horor ditonton 441.933 orang,” kata Syaifullah di hadapan sekitar 50 jurnalis, akademisi, dan masyarakat perfilman.
Berdasarkan angka itu, ia yakin tren film horor tahun ini akan bertahan dengan kemungkinan meningkat, asalkan mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan penonton.
Sebagai contoh, Syaifullah menunjuk film Agak Laen (2024) yang ditonton 9,1 juta dan Kang Mak (2024) dengan 4,8 juta penonton.
“Kedua film itu membuktikan penonton Indonesia menyukai film horor yang ramah keluarga, enak ditonton bersama teman-teman,” kata Syaiful.
Sejalan dengan itu, Niniek L. Karim mengatakan, penonton makin hari makin cerdas, para sineas harus menyesuaikan diri.
“Menghadapi film sebagai obyek, orang akan menentukan sikap berdasarkan masuk akal atau tidak (kognitif), suka atau tidak (afektif) dan ingin atau tidak (konatif). Ringkasnya, film yang tidak masuk akal, tidak logis, cenderung dijauhi calon penonton,” kata Niniek.
Berdasarkan catatan, meskipun film horor dalam negeri telah menjadi lokomotif perfilman Indonesia, sebagaimana yang dikatakqn Syaifullah, tiga film terbawah dalam daftar paling sedikit ditonton sepanjang tahun 2025 adalah film horor juga.
“Misteri Cek Kodam” dapat 27 penonton, “Basement: Jangan Turun ke Bawah” peroleh 115 penonton, dan “Korban Jatuh Tempo Pinjol” total ditonton hanya 179 orang.
Film Pilihan ffhoror Januari
Setelah diskusi publik, Ketua Dewan Juri Ismail Uka-Uka mengumumkan film horor pilihan bulan Januari 2025, yakni “Janur Ireng” yang mendapat Penghargaan Nini Suny.
Aktor Terpilih Tora Sudiro (Janur Ireng), Sutradara Terpilih Kimo Stamboel (Janur Ireng), Aktris Terpilih Wavi Zihan (Qorin 2), DOP/Cameraman terpilih Enggar Budiono (Dusun Mayit).
Ketua ffhoror Chandra NZ menjelaskan, diskusi publik diselenggarakan setiap bulan pada tanggal 13, mulai pukul 13:00. Penyelenggaran pertama 13 Desember 2025 di tempat yang sama, dengan jumlah peserta yang sama membeludaknya.
Tiap akhir tahun, pada 13 Desember, ffhoror akan mengumumkan film horor terbaik sepanjang tahun itu.
Dijelaskan, tujuan festival dan diskusi publik ialah meningkatkan kualitas film horor Indonesia menjadi kekuatan perfilman di Asia.
“Potensi film horor Indonesia sangat besar karena pangsa pasar dalam negeri yang sangat tinggi, jumlah sineas berkualitas melimpah, dan tradisi budaya masyarakat yang kental dengan dunia mistik dan tahayul, sangat kaya dengan cerita horor, variasi hantu, mahluk gaib, bahkan lokasi mistis yang berjibun,” terang Chandra.
Chandra yakin, bila dikelola lebih baik, film horor Indonesia bisa menjadi kekuatan yang berpengaruh dalam skala perfilman dunia.
Film horor mendominasi, yang ramah keluarga digemari
Jumat, 16 Januari 2026 14:58 WIB
Diskusi publik Festival Film Horor (ffhoror) Januari 2026. (ANTARA/istimewa)
