Kabupaten Bekasi (ANTARA) - Badan Karantina Indonesia (Barantin) mengantisipasi ancaman virus 'Peste des Petits Ruminants' atau PPR yang menyerang kambing dan domba agar tidak masuk ke Indonesia melalui strategi khusus melibatkan lintas lembaga sebagai upaya peningkatan kewaspadaan.
"Kami telah memantau adanya pergerakan penyakit PPR yang menyerang kambing dan domba," kata Kepala Barantin Sahat Manaor Panggabean di Balai Uji Terap Teknik dan Metode Karantina Hewan, Ikan dan Tumbuhan, Jalan Raya Setu nomor 10, Mekarwangi, Kecamatan Cikarang Barat, Kabupaten Bekasi, Kamis.
Ia menjelaskan penyebaran penyakit yang disebabkan virus dan dapat menular melalui kontak langsung, pakan serta udara ini menjadi perhatian khusus Barantin terutama pada aspek pengawasan lalu lintas hewan dan produk ternak khususnya dari luar negeri.
Berdasarkan peta sebaran, penyakit ini berasal dari Afrika namun kini telah bergerak ke kawasan Asia. PPR telah terdeteksi masuk ke beberapa negara Asia Tenggara seperti Vietnam dan Thailand.
"Dari pengalaman sebelumnya, pergerakan penyakit dari kawasan Semenanjung biasanya tidak membutuhkan waktu lama untuk menuju wilayah kita. Hal ini menjadi perhatian serius bagi kami," katanya.
PPR disebut memiliki tingkat kematian yang sangat tinggi, bahkan dapat mencapai 100 persen pada ternak terinfeksi sehingga masyarakat khususnya yang bepergian dari kawasan semenanjung turut diimbau agar tidak membawa kambing atau domba, baik hidup maupun dalam bentuk daging ke Indonesia.
Pihaknya juga meminta perhatian kepada para pelaku transportasi, khususnya kapal-kapal yang biasa masuk melalui Aceh, Sumatera Utara dan Riau agar tidak membawa masuk ternak maupun produk turunannya secara ilegal.
"Kami mohon kerja sama masyarakat di wilayah pesisir untuk memastikan hal tersebut tidak terjadi, terutama untuk hewan hidup," ucapnya.
Barantin juga telah mengarahkan seluruh Unit Pelaksana Teknis (UPT) Karantina di Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait serta pemerintah daerah guna mencegah masuknya penyakit ini.
"Kami juga mengingatkan masyarakat dan peternak agar tidak mudah tergiur dengan tawaran ternak yang terlihat bagus namun berpotensi membawa penyakit. Jika PPR masuk, yang paling terdampak adalah peternak rakyat," ujarnya.
Sahat mengaku meski virus PPR tidak bersifat zoonosis atau tidak menular ke manusia, namun virus ini sangat berbahaya bagi ternak karena dapat memusnahkan seluruh populasi kambing dan domba.
"Saat ini Indonesia belum memiliki vaksin PPR karena penyakit tersebut belum ada di Indonesia. Vaksin memang sudah tersedia di luar negeri, namun kami berharap penyakit ini tidak masuk sehingga kita tidak perlu melakukan impor vaksin," ucapnya.
Dirinya berharap segenap unsur terkait termasuk media dapat membantu mengedukasi masyarakat, khususnya di wilayah Selat Malaka agar pengalaman buruk seperti wabah PMK tidak terulang kembali.
"Konsep yang kami bangun saat ini adalah early warning system, sehingga seluruh pihak dapat bersiap dan melakukan pencegahan sejak dini. Mudah-mudahan penyakit ini tidak sampai masuk ke Indonesia," ucap dia.
Deputi Bidang Karantina Hewan pada Barantin Sriyanto mengungkapkan virus PPR telah memasuki ke kawasan Asia Tenggara dan terakhir terpantau menyerang ternak domba dan kambing di Vietnam pada November 2025 hingga menyebar ke negara lain.
"Sebagai antisipasi penyakit virus ini, kan virus itu biasanya bisa bersifat akut, cepat dia menularnya, bisa melalui udara, kontak langsung, ataupun tadi kalau dengan gejala klinis, gangguan pernafasan, sekresi yang keluar antara hewan sehat dan hewan sakit itu juga akan cepat dan mudah," katanya.
Ia mengaku populasi ternak kambing dan domba di Indonesia sangat besar. Kambing tercatat ada 15,8 juta ekor sementara domba 9,1 juta ekor dengan total 24,9 juta ekor atau dapat dikatakan surplus sehingga tidak perlu melakukan impor daging kambing maupun domba.
"Makanya ini yang kami khawatirkan adalah kaitan dengan perdagangan untuk lalu lintas hewan, terutama kambing, domba dan dagingnya secara ilegal dari negara tetangga kita, terutama dari Thailand dan Vietnam. Bisa juga masuk melalui Malaysia," katanya.
