Rejang Lebong, Bengkulu (ANTARA) - Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Rejang Lebong, Provinsi Bengkulu menyebutkan sejak Januari hingga pertengahan Desember 2025 telah menangani 133 kasus demam berdarah dengue (DBD) yang dialami warga di wilayah itu.
"Terhitung Januari hingga Oktober 2025 jumlah warga Rejang Lebong yang terserang DBD mencapai 133 orang, sedangkan untuk bulan November dan Desember tidak ada penambahan kasus," kata Kasi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular (P2PM) Dinkes Rejang Lebong Titin Julita saat dihubungi di Rejang Lebong, Minggu.
Dia menjelaskan, dari 133 kasus DBD yang menimpa warga Rejang Lebong tersebar dalam 15 kecamatan tersebut tidak ada korbannya yang dinyatakan meninggal dunia.
Baca juga: DBD di Manggarai Barat turun
Kasus penyebaran DBD di daerah itu, kata dia, menunjukkan tren penurunan tajam dalam beberapa bulan terakhir, hal ini dapat dilihat dengan tidak adanya penambahan kasus baru sampai pada November hingga pertengahan Desember ini.
Turunnya kasus penyebaran DBD di Kabupaten Rejang Lebong ini, dinilainya akibat masifnya penyuluhan yang dilakukan petugas dinas kesehatan di lapangan, serta meningkatnya kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan lingkungan dengan jalan melakukan pemberantasan sarang nyamuk (PSN).
"Upaya PSN yang dilakukan masyarakat dengan menggelar kegiatan gotong royong di desa dan kelurahan dalam 15 kecamatan di Rejang Lebong terbukti memberikan hasil positif, kasus penyebaran mengalami penurunan drastis," tegasnya.
Baca juga: Kasus DBD di Jakbar jadi yang tertinggi di DKI Jakarta
Kendati dalam beberapa bulan belakangan kasus DBD di Rejang Lebong mengalami penurunan, dia mengimbau kalangan masyarakat daerah itu untuk terus meningkatkan upaya pemberantasan PSN dan gerakan 3M plus serta menjaga kebersihan lingkungan masing-masing.
"Warga diminta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat jika mengalami gejala demam tinggi mendadak, nyeri otot dan sendi, hingga muncul ruam pada kulit, karena dikhawatirkan terjangkit DBD," terangnya.
Menurut dia, pengasapan atau fogging bukan menjadi solusi utama dalam pengendalian DBD, karena hal itu bersifat sementara dan dilakukan apabila ditemukan kasus tertentu dengan indikasi khusus.
