Depok (ANTARA) - Asosiasi Metalurgi dan Material Indonesia (AMMI) terus menelaah dinamika sektor logam tanah jarang/Rare Earth Elements (REE) global di tahun 2026 yang ditandai dengan pergeseran intensif menuju  upaya pengurangan ketergantungan pada Cina melalui "friend-shoring" sebagai strategi geopolitik di  mana negara-negara dunia dalam mengalihkan rantai pasokan dan proses manufaktur untuk memastikan  keamanan dan stabilitasnya. 

Strategi ini bertujuan untuk mengurangi ketergantungan pada negara-negara berisiko tinggi terhadap stabilitas pasokan, terutama untuk teknologi serta material kritis berikut perluasan pengolahan domestik serta cadangan strategis REE nya.

Sebelumnya, Dominasi Cina dalam rantai pasok rare earth (logam tanah jarang/LTJ) yang menguasai >90 persen pemurnian dan ~60-90.persen produksi magnet telah mendisrupsi sektor pertahanan Dunia Barat hingga menciptakan ketergantungan ekstrem untuk teknologi militer vital (seperti Jet F-35, rudal, radar dan lainnya). 

Penguasaan ini berakibat pada kontrol yang memungkinkan Cina menggunakan pasokan bahan baku sebagai senjata geopolitik yang meningkatkan risiko produksi sekaligus membatasi kemampuan manufaktur industri pertahanan dunia Barat. 

Saat yang sama Cina semakin memimpin standar ISO internasional untuk berbagai terminologi maupu deteksi produk logam tanah jarang, yang semakin memperkuat pengaruhnya terhadap ekosistem perdagangan global.

Dalam penelitian Asosiasi Metalurgi dan Material Indonesia (AMMI) terhadap berbagai literatur diketahui bahwa secara Material Balance Platform militer AS seperti 1 unit kapal selam kelas Virginia membutuhkan  4600 kilogram unsur tanah jarang, terutama pada rudal Tomahawk, sistem radar, dan aplikasi motor penggerak. Selain itu, 1 unit kapal perusak Arleigh Burke juga membutuhkan 2600 kilogram unsur tanah jarang (REE) khususnya untuk sistem radar canggih, sistem pemandu rudal, dan aplikasi propulsi.

Sementara 1 unit Pesawat tempur F-35 saja menggunakan lebih dari 400 kg REE (Neodymium, Samarium, Terbium, Yttrium) yang amat penting untuk sistem penargetan senjata, laser, dan teknologi canggih  lainnya di dalam pesawat (Benchmark Mineral Intelligence).

Data di atas menunjukkan bagaimana unsur tanah jarang tertanam dalam beberapa peralatan militer tercanggih yang digunakan saat ini. Hal ini terlihat dalam kumpulan data yang mencakup total REE yang digunakan (berdasarkan berat) dan aplikasi tipikal pada tiga platform pertahanan utama di atas.

Pada saat yang sama ketegangan Global yang terjadi belakangan ini menjadi persimpangan strategis yakni Isu Kedaulatan dan rencana sekaligus langkah Amerika terhadap Greenland, Venezuela, dan Iran hingga menjadi titik fokus "perang geopolitik dan sumber daya" yang didorong oleh tujuan AS untuk membongkar monopoli Cina atas Unsur Tanah Langka (REE). 

Venezuela diketahui memang memiliki deposit REE, niobium, dan thorium yang belum dieksplorasi (terutama di Cerro Impacto), tetapi ini tetap menjadi hal sekunder dibandingkan perannya sebagai penyedia energi dalam krisis saat ini. 

Karena Pengolahan REE sangat intensif energi, sementara Cina saat ini bergantung pada minyak murah dari Venezuela dan Iran untuk menggerakkan kilang-kilangnya. 

Para analis menilai bahwa Tindakan militer dan diplomatik AS di Venezuela (misalnya, perubahan "Doktrin  Donroe" Januari 2026) dan sanksi terhadap Iran ditafsirkan sebagai upaya untuk membatasi pasokan  energi China, sehingga "menghambat" kemampuan pengolahan REE-nya.

Sementara Kepemilikan potensi  REE di Greenland atau Venezuela mungkin tidak akan langsung menyelesaikan kekurangan REE/LTJ di negara-negara Bara Para analis menekankan bahwa China masih mendominasi pengolahan hulu (90 persen dari kapasitas global) dan manufaktur magnet. Strategi AS saat ini tampaknya berfokus pada pengendalian  "arsitektur pergerakan" (jangkauan angkatan laut, pasokan energi, dan asuransi) untuk melemahkan keunggulan pengolahan China sambil berupaya mengamankan basis bahan baku sendiri di Arktik.

Langkah Indonesia: Fokus pada Integrasi Ekosistem.Askar Triwiyanto, PhD selaku Ketua AMMI menilai bahwa Indonesia berada di posisi strategis namun menantang dalam peta Logam tanah jarang bumi (Rare Earth Elements/REE) dunia tahun 2026. 

Secara”Pohon Industri” Pengolahan Logam tanah jarang (REE) mengacu pada seluruh rantai pasuk dan nilai dimulai dari ekstraksi bahan mentah hingga produk akhir berteknologi tinggi dimana proses ini melibatkan beberapa tahapan utama dari hulu (upstream) ke hilir (downstream) yang meliputi: o Eksplorasi dan  Penambangan guna mengidentifikasi mineral pembawa seperti Monasit, Senotim dan Bastnasit yang sering kali merupakan hasil samping dari penambangan Timah atau Bauksit. (ii) Selanjutnya berupa  Pemisahan dan Pemurnian, dimana hal ini merupakan tahap yang paling kompleks dikarenakan sifat REE yang mirip hingga sulit dipisahkan satu dengan lainnya. (iii) Berikutnya, Pengolahan dan fabrikasi guna mengubah Oksida REE menjadi produk antara seperti logam paduan/alloy dan Magnet permanen.

Pada tahap akhir berupa Aplikasi Industri seperti Produk elektronik Layar LED, smartphone dan laptop.

Aplikasi sektor Energi seperti turbin angin dan baterai kendaraan listrik (EV) hingga Aplikasi pada industri pertahanan yang sedang disorot dunia seperti sistem rudal, radar dan perangkat optronik.

Mengutip rilis pada tahun 2020 oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) dalam Booklet  Logam Tanah Jarang 2020, potensi mineral tanah jarang di Indonesia berasal dari beberapa produk  turunan dari hasil pengolahan sejumlah mineral, seperti timah, emas, alumina, pasir zircon hingga nikel.

Adapun lokasinya mayoritas berada di Bangka Belitung, Kalimantan Barat, dan Sulawesi. Dari total 28  lokasi mineralisasi LTJ yang terungkap, baru sekitar 9 lokasi mineralisasi LTJ (30 persen) telah dieksplorasi awal, namun 19 lokasi mineralisasi LTJ (70 persen) belum dilakukan/belum optimal dilakukan eksplorasi.

Memasuki tahun 2026, pemerintah Indonesia secara resmi mempercepat operasionalisasi hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ) dengan berupaya mereplikasi kesuksesan hilirisasi nikel ke sektor mineral kritis lainnya. 

Salah satu programnya melalui pembentukan entitas baru dan proyek percontohan strategis. 

Pada 30-31 Januari 2026, pemerintah melalui Sovereign Wealth Fund Danantara meresmikan pembentukan entitas yang bernama Perminas sebagai BUMN khusus yang fokus mengelola mineral strategis dan LTJ. 

Perminas akan memimpin pemrosesan mandiri untuk memutus ketergantungan impor produk LTJ olahan.

Selain itu Proyek yang dikembangkan oleh PT Timah Tbk di Bangka Barat berupa Unit LTJ Tanjung Ular kini memasuki fase krusial operasional menuju komersial awal untuk mengolah monasit menjadi mixed rare earth carbonate yang dilaporkan baru dicapai kandungan Uranium dan Thorium yang kurang dari 50 ppm atau karakteristik produknya belum mencapai target yaitu ≥ REOH 99 persen dalam perkembangan terbaru (November 2025).

Berikutnya adalah Hilirisasi Bauksit dan Alumina. Dalam hal Penelitian awal PT Antam Tbk, LTJ ditemukan dalam unsur sampingan dari endapan bijih nikel (limonit) dan sisa hasil pengolahan produk utama bauksit (red mud). 

Sementara Potensi Logam Tanah Jarang pada endapan Nikel Laterit dan Bauksit yang dimiliki ANTAM terdiri dari Scandium (Sc), Samarium (Sm), Europium (Eu), dan Ytterbium (Yb) yang berada di atas rata–rata kadar dunia. 

Unsur Tanah Jarang yang hadir dengan signifikan namun masih di bawah rata-rata industri dunia diantaranya Cerium (Ce) dan Neodymium (Nd) adanya potensi ini menjadi tantangan dalam pengolahan/ekstraksi logam tanah jarang (paparan Direktur Utama PT Antam Tbk 1 November 2025).

Sebagai bagian dari 6 proyek strategis yang diresmikan Januari 2026 oleh pemerintah, fasilitas refinery di  Matan Hilir dan Capkala Kalimantan Barat yang diharapkan juga dapat mengekstraksi LTJ sebagai produk  sampingan. 

Geopolitik: Antara China dan Barat terhadap 0REE Indonesia Cina telah lama mengincar REE Indonesia untuk memperkuat rantai pasok global mereka. Perusahaan Cina cenderung lebih cepat dalam menawarkan teknologi pengolahan yang sudah matang. 

Saat yang Di sisi lain, Amerika Serikat melalui kerangka kerja seperti Minerals Security Partnership (MSP) berusaha menarik Indonesia menjauh dari orbit China dengan menawarkan bantuan teknis dan investasi hijau agar rantai pasok baterai global lebih terdiversifikasi.

Secara umum, dalam kaitan penguasaan teknologi pengolahan REE Indonesia saat ini terdapat tantangan utama Indonesia di 2026 yakni penguasaan teknologi pemisahan/Separation REE yang kompleks dan mahal. Saat ini, Indonesia masih sangat bergantung pada alih teknologi dari mitra asing.

Dimana beberapa tahap pemisahan menjadi krusial untuk dilakukan yakni; Pemisahan awal dengan metode Magnetik, Elektrostatik dan Grativasi, diikuti Ekstraksi Kimiawi (Hidrometalurgi) dan diakhiri dengan Pemurnian serta Pemisahan unsur radioaktif (Solvent extraction dan Ion Exchange), dimana Cina amat dominan dalam kemampuan ini.

Walaupun unsur tanah jarang melimpah secara geokimia tetapi secara ekonomi dibatasi oleh kimia pemisahan yang sulit dan pemurnian yang tergantung pada skala. 

Cina menyumbang sekitar 70 persen dari penambangan dan sekitar 90 persen dari kapasitas pemurnian global, termasuk sirkuit solvent extraction pelarut dan pembuatan magnet. 

Bahkan di tempat lain yang terdapat penambangan (AS, Australia, Brasil, Afrika), bahan baku perantara seringkali masih men-supply Cina guna pemurnian akhir, sehingga membuat importir menjadi rentan.

 Cina juga mempertahankan kelebihan kapasitas pengolahan dan dapat memodulasi ekspor terutama HREE unsur tanah jarang berat (Dy, Tb) dalam upaya mempertahankan daya tawar.

Selain tantangan Teknologi juga terdapat tantangan dalam aspek Regulasi dan Lingkungan, dimana isu penambangan ilegal dan dampak lingkungan dari limbah radioaktif (seperti torium) yang sering menyertai REE menjadi perhatian serius bagi investor Barat yang menjunjung standar ESG tinggi.

 

Status Kawasan

Saat ini, Malaysia adalah satu-satunya negara di Asia Tenggara dengan mata rantai midstream yang matang melalui pabrik Lynas, Memiliki cadangan mineral non-radioaktif yang signifikan (estimasi 16 juta ton). 

Badan Usaha Malaysia bekerjasama dengan Badan Usaha Milik Pemerintah Cina dalam penambangan dan pengolahan komoditas REE dengan nama Perusahaan Malaysia-China Rare Earth (MCRE).

MCRE merupakan perusahaan pertambangan REE di Perak, dan sedang melakukan eksplorasi REE  di Pahang, Kedah, Kelantan dan Negeri Sembilan. Indonesia mempunyai Potensi REE dengan tipe yang sama namun belum dilakukan pengusahaannya. Berada di posisi strategis dalam rantai pasok global karena kemampuan memproses bahan mentah menjadi oksida LTJ yang siap digunakan industri.

Malaysia mengadopsi kebijakan terbuka terhadap investasi Amerika Serikat untuk memperkuat industri pengolahan guna menghindari ketergantungan pada infrastruktur Cina.

Vietnam: "Raksasa yang Tertidur"

Menurut Survei Geologi AS, Vietnam memiliki beberapa cadangan logam tanah jarang terbesar di dunia,  meskipun lembaga pemerintah tersebut awal tahun ini secara signifikan menurunkan perkiraan cadangan negara itu menjadi 3,5 juta metrik ton dari 22 juta ton. 

Saat ini rantai pasoknya masih dalam tahap awal  produksi massal (sekitar 600 ton per tahun), namun menjadi target utama investasi Barat untuk diversifikasi dari China. 

Per Januari 2026, Vietnam memperketat kontrol pengolahan dan melarang ekspor bijih mentah rare earth (logam tanah jarang) berdasarkan amendemen Undang-Undang Geologi dan Mineral Desember 2025.
Kebijakan ini menegaskan fokus Vietnam pada hilirisasi domestik, pengolahan, dan peningkatan nilai tambah, sekaligus mengatasi kendala regulasi lama yang menghambat eksploitasi oleh perusahaan lokal maupun asing.

Sehubungan dengan telaah diatas, arah kebijakan Pemerintah Indonesia kini sudah benar dengan memposisikan diri sebagai pemain strategis dalam percaturan global dan regional ASEAN melalui ambisi hilirisasi Logam Tanah Jarang (LTJ) atau Rare Earth Elements (REE). 

Sebagai negara dengan cadangan mineral kritis yang besar, Indonesia sudah sepatutnya tidak lagi hanya menjadi eksportir bahan mentah/ore, melainkan menjadi pusat pengolahan nilai tambah, pungkas Askar yang rutin berkolaborasi dengan pemangku kepentingan/kalangan dunia industri pertambangan dan hilirisasinya

*)Askar Triwiyanto, PhD, Dosen UI sekaligus Ketua Asosiasi Metalurgi dan Material Indonesia (AMMI).

 



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026