Lombok Barat (ANTARA) - Lahan pertanian yang terbentang luas menjadi tempat tumbuh tanaman dan hewan ternak. Terdengar suara gemericik air dari kolam-kolam ikan yang menyebar di berbagai penjuru, menyatu dengan ocehan bebek dan auman sapi dari sudut lain.
Di sana, Ahmad Dahlan bertani asik. Pria berusia 53 tahun tersebut nampak sedang memotong dedaunan yang mati dan mencabut rerumputan liar agar lahan pertanian tampak rapi.
Siapa sangka di balik kesederhanaan itu ia adalah Kepala Madrasah Aliyah Putra Pondok Pesantren Nurul Haramain di Narmada, Kabupaten Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat.
Baginya, bertani bukan sebatas profesi, melainkan simbol mandiri. Pertanian adalah tonggak utama kemandirian suatu bangsa dalam menyediakan kebutuhan pangan bagi warga negara.
Peran ini sulit digantikan sepenuhnya oleh teknologi artificial intelligence (AI) yang kini marak mengambil alih peran manusia. Pertanian tetap membutuhkan campur tangan manusia dalam pengelolaannya.
Di kampung-kampung, ketersediaan pangan umumnya selalu terjamin. Masyarakat desa terbiasa memproduksi pangan secara mandiri, baik dari bertani maupun beternak, yang nantinya dapat mereka konsumsi sendiri.
Seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, maka kebutuhan pangan turut mengalami peningkatan. Seharusnya, jumlah petani dan peternak juga mencukupi untuk mengelola lahan dan merawat hewan ternak.
Akan tetapi, minat generasi muda untuk menekuni sektor pertanian justru menurun drastis.
Berdasarkan riset yang dilakukan Badan Standardisasi Instrumen Pertanian (BSIP), usia petani di Indonesia yang paling muda adalah 35 tahun. Setiap tahun, jumlah petani mengalami penurunan akibat kematian.
Tanpa adanya regenerasi, sektor pertanian Indonesia terpaksa harus berjalan mundur. Ketersediaan pangan tidak lagi diproduksi mandiri, melainkan bergantung pada negara lain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi.
Negara tidak bisa terus melakukan impor bahan pangan karena akan menciptakan ketergantungan. Sederet efek domino semakin terasa dan menempatkan negara pada posisi yang rentan terhadap ketidakstabilan.
Melihat pentingnya ketahanan pangan, Pesantren Nurul Haramain menanamkan perspektif baru dalam diri santri terkait pertanian. Melalui pembelajaran di pondok pesantren, para santri diajarkan keistimewaan dari kesederhanaan pertanian.
Pertanian terintegrasi
Sebagai salah satu pesantren modern di Nusa Tenggara Barat, Pesantren Nurul Haramain tidak hanya berfokus pada pembelajaran ilmu agama, tetapi juga mempersiapkan santri menghadapi tantangan dunia nyata.
Pondok pesantren menghadirkan inovasi pertanian terintegrasi atau integrated farming yang menghubungkan sektor pertanian dan peternakan menjadi serba mudah serta murah.
Di atas lahan seluas lebih dari tujuh hektare, pihak pesantren menjalankan sistem pertanian yang terintegrasi. Berbagai jenis sayur dan buah ditanam, meliputi kangkung, bayam, durian, alpukat, lengkeng, pepaya, bayam, dan singkong.
Selain itu terdapat juga berbagai hewan ternak meliputi 3 ekor sapi, 5 ekor kambing, serta sejumlah ayam dan bebek. Di sana juga dibangun beberapa kolam khusus untuk budidaya ikan.
Kebutuhan nutrisi tanaman dipenuhi oleh pupuk organik yang dibuat dari kotoran hewan ternak dan produk pengurai MA-11.
Dekomposer diklaim mengandung jumlah mikroba yang lebih banyak sehingga proses penguraian dapat berjalan lebih cepat. Sistem ini membuat pondok pesantren tidak bergantung terhadap pupuk kimia dengan harga yang mahal.
Kepala Madrasah Aliyah, Ahmad Dahlan, melakukan aktivitas bertani dalam kehidupan sehari-hari di kawasan Pondok Pesantren Nurul Haramain, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat. ANTARA/HO-Elya Trainy Ardaelifa
Hasil panen disalurkan untuk memenuhi kebutuhan pangan santri dan sejauh ini hasil panen selalu mencukupi. Dampaknya, biaya konsumsi menjadi lebih murah karena bahan-bahan makanan diperoleh dari lahan pertanian yang dikelola mandiri.
Ahmad Dahlan sendiri tidak menyangkal tentang rendahnya minat anak muda untuk bertani karena kesulitan akses terhadap pertanian yang mudah dan murah. Harga pupuk yang mahal membuat modal bertani tinggi, sementara harga jual ketika panen rendah.
Oleh karena itu, pertanian terintegrasi menjadi solusi yang dapat diterapkan. Pesantren Nurul Haramain menunjukkan kalau ketahanan pangan dapat tercipta dari baiknya pengelolaan sektor pertanian dan peternakan suatu daerah.
