Gorontalo (ANTARA) - Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Provinsi Gorontalo berkomitmen siap mewujudkan Gorontalo hijau, tangguh dan rendah emisi.
Kepala DLHK Provinsi Gorontalo Fayzal Lamakaraka di Gorontalo, Senin mengatakan komitmen tersebut ditunjukkan dengan dimulainya Result Base Payment (RBP) Reducing Emissions From Deforestation and Forest Degradation (REDD) Green Climate Fund Output 2 Provinsi Gorontalo.
"Kegiatan ini menjadi bukti nyata DLHK Provinsi Gorontalo bersama instansi terkait dalam mewujudkan daerah yang hijau, tangguh dan rendah emisi," kata Fayzal.
Adapun instansi yang dilibatkan dalam program ini yaitu Unit Pelayanan Teknis Kementerian Kehutanan, perwakilan sejumlah Organisasi Perangkat Daerah Provinsi Gorontalo, Kesatuan Pengelolaan Hutan se Provinsi Gorontalo dan Badan Pengelola Lingkungan Hidup.
Selain itu ada juga dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah se Provinsi Gorontalo, jajaran pejabat administrasi dan fungsional, serta pejabat struktural DLHK Provinsi Gorontalo.
Kegiatan tersebut juga menghadirkan enam orang narasumber utama yakni Gubernur Gorontalo, Direktur Utama Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup, Direktur Eksekutif Wahana Mitra Mandiri.
Selanjutnya Kepala Bidang Infrastruktur dan Kewilayahan BAPPEDA Provinsi Gorontalo, Kepala Bidang Perencanaan, Pemanfaatan Hutan dan Direktorat Jenderal Konservasi Sumber Daya Alam dan Ekosistem, serta Kepala Bidang Pengelolaan Sampah, Limbah B3 dan Pengendalian Pencemaran.
Usai dibuka secara resmi, seluruh peserta mulai melaksanakan empat sub kegiatan, yakni pelatihan penghitungan cadangan karbon bagi staf Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang akan dilaksanakan selama dua hari, mulai 28 sampai 29 Oktober 2025. Kemudian sub kegiatan berikut yakni rapat persiapan rencana aksi Program Kampung Iklim (Proklim) bersama mitra kolaborasi yang akan dilaksanakan pada Selasa (28/10).
Poin ke tiga yaitu fasilitasi kegiatan penanaman yang berkolaborasi dengan program penurunan emisi provinsi, yang dilaksanakan pada Kamis (30/10).
Sub kegiatan ke empat yaitu pengadaan alat dan perlengkapan patroli, serta pemadam kebakaran di semua KPH.
"Melalui kegiatan ini kami mengharapkan seluruh pihak dapat menjadikan momentum sebagai awal yang kuat dalam mewujudkan Gorontalo yang hijau, tangguh dan rendah emisi," kata dia.
Sementara itu Kepala Divisi Penyaluran Dana Program RBP REDD plus GCF Lia Kartikasari mengatakan Indonesia berhasil memperoleh pendanaan dari Green Climate Fund (GCF) untuk program percontohan Pembayaran Berbasis Hasil atas keberhasilan penurunan emisi dari sektor kehutanan.
Dana insentif tersebut senilai 103,8 juta dolar Amerika Serikat atau setara dengan Rp1,6 triliun, atas keberhasilan penurunan emisi sebesar 20,25 juta ton CO2 ekuivalen pada tahun 2014 sampai 2016.
Dana RBP REDD plus dibagi menjadi tiga output, dimana proyek RBP REDD plus GCF output 2 mendapatkan alokasi pendanaan senilai 93,4 juta dolar Amerika Serikat, yang dimulai dari Juli 2023 dan diperkirakan selesai tahun 2030.
Penerima manfaat dari program tersebut yaitu para pihak ditingkat nasional dan sub nasional di 38 provinsi.
Melalui proyek ini kata dia, Indonesia menunjukkan komitmennya bahwa menjaga hutan bukan sekadar tugas, tetapi juga menjaga warisan untuk masa depan bersama.
Selain itu dengan adanya dukungan dari banyak pihak, Indonesia optimis bisa melakukan aksi mitigasi dan adaptasi untuk mengurangi dampak perubahan iklim di masa depan.
"Kick off ini adalah langkah awal memperkuat sinergi untuk menekan emisi gas rumah kaca dan mendukung pertumbuhan ekonomi hijau. Kami berharap Gorontalo menjadi model keberhasilan implementasi REDD plus di Indonesia," imbuhnya.
