Jakarta (ANTARA) - Walaupun bisa menduga, dunia tetap saja terkejut, ketika Amerika Serikat (AS) benar-benar melakukan agresi militer terhadap kedaulatan negara lain dan melanggar hukum internasional dengan gaya "tembak dulu, urusan belakangan", pada pagi buta, 3 Januari 2026 di Caracas, Venezuela.
Menurut pernyataan resmi Gedung Putih, Operasi "Absolute Resolve" adalah puncak dari Operasi "Southern Spear". Presiden Donald Trump mengklaim operasi ini sebagai "pertunjukan kekuatan militer paling presisi", dengan target menculik Presiden Maduro dan istrinya yang saat ini telah berada di New York untuk menghadapi dakwaan narko-terorisme berdasarkan hukum Amerika Serikat (AS).
Tulisan ini tidak membahas soal politik atau hukum atau operasi intelijen, tetapi mencoba menafsirkan operasi militer AS yang menyebabkan ketidakmampuan Angkatan Bersenjata Venezuela dalam mengantisipasi untuk membendung serangan.
Venezuela bukan seperti Gaza, Lebanon, Yaman, atau Suriah yang tidak mempunyai pesawat tempur dan kemampuan pertahanan udara.
Sebenarnya pesawat tempur Venezuela itu bukan kaleng-kaleng, yaitu Sukhoi Su-30MK2 buatan Rusia yang dipersenjatai rudal air-to-surface Kh-31, jet tempur paling canggih di Amerika Latin dan pesawat tempur terlaris F-16 Fighting Falcon (Block 15) yang walau dibeli dari AS pada era 1980-an, tetapi masih dioperasikan dengan bantuan suku cadang dari pasar gelap atau modifikasi Israel (rudal Python).
Ada juga berbagai pesawat lain sebagai pendukung, seperti Hongdu K-8 Karakorum, pesawat latih tempur ringan buatan China yang sering digunakan untuk patroli wilayah dan serangan darat ringan.
Untuk pengawasan udara, Venezuela mengoperasikan berbagai lapisan radar, mulai dari P-18-2M (NATO: Spoon Rest) buatan Rusia, dengan sinyal VHF yang dikenal memiliki kemampuan untuk mendeteksi pesawat siluman (stealth). Kemudian JYL-1 & JY-27 buatan Tiongkok yang digunakan untuk pengawasan wilayah udara jarak jauh dan peringatan dini.
Pertahanan udaranya berupa sistem baterai rudal juga memiliki radar khusus 9S15M2 Bill Board dan 9S32ME Grill Pan (S-300VM) yang cukup canggih serta 9S18M1E Snow Drift (Buk-M2E) yang lebih mobile. Sementara untuk pertahanan titik digunakan Pantsir-S1 Radar dual-band (EHF/UHF) yang bisa bergerak dengan cepat, digunakan untuk mendeteksi ancaman kecil, seperti drone atau bom pintar yang mendekati pangkalan udara.
Jadi, mengapa semua alutsita tersebut seperti lumpuh, tanpa daya menghadapi "Operation Absolute Resolve" yang menurut AS berhasil dilaksanakan hanya dalam waktu 2 jam 20 menit?
Berikut adalah analisis cepat berdasarkan data dan informasi yang diperoleh dari berbagai sumber resmi maupun "bocoran".
Operasi militer ini dilakukan dengan alasan membantu dan mengawal agen DEA (Drug Enforcement Administration) dan FBI yang melaksanakan perintah pengadilan untuk menangkap Presiden Maduro yang dituduh dan dipersangkakan menyelundupkan narkoba ke wilayah AS. Secara garis besar operasi militer ini dilaksanakan dalam 4 bagian atau tahapan sebagai berikut:
Pertama, pengalihan perhatian di Laut Karibia (Operation Southern Spear). Sebelum operasi di darat dimulai, militer AS telah melakukan "pemanasan" dengan menyerang puluhan kapal di Karibia sejak September 2025. Hal ini memaksa Venezuela memusatkan pertahanan udaranya di wilayah pesisir, sehingga menciptakan celah di wilayah udara ibu kota.
Kedua, mematikan radar total (Operation Absolute Resolve). Menjelang pukul 02.00 waktu Caracas, serangan siber dilakukan terhadap infrastruktur energi atau penggunaan bom pulsa elektromagnetik (EMP) skala kecil untuk mematikan sistem radar dan komunikasi militer secara instan. Beberapa menit sebelum serangan, terjadi pemadaman listrik (blackout) meluas di Caracas.
Ketiga, serangan udara skala besar (saturasi). Tanpa listrik dan radar, sistem pertahanan udara canggih S-300VM dan Buk-M2E menjadi tidak berfungsi karena tidak bisa mengunci target.
F-35 dan F-18 yang dipandu EA-18 (jamming jarak dekat) melakukan pemboman kurang dari 30 menit, dengan target Bukit El Volcán (pusat komunikasi radar), Pangkalan Udara La Carlota dan kompleks militer Fuerte Tiuna (tempat tinggal Maduro). Diberitakan banyak pesawat Su-30 dan F-16 dihancurkan, bahkan sebelum sempat tinggal landas.
Sementara helikopter AH-64, MH-6, dan AH-1Z melaksanakan penembakan untuk menjaga perimeter dan menghancurkan baterei Buk-M2E dan kendaraan lapis baja yang membawa Pantsir-S1.
Keempat, operasi kecepatan tinggi (Delta Force). Operasi ini dilakukan oleh unit elit Delta Force (JSOC) dgn CH-47 dan MH-60 yang terbang sangat rendah untuk menghindari deteksi radar yang mungkin masih aktif di luar kota dan mengantisipasi pengunaan MANPAD Igla-S.
Ekstraksi Presiden Nicolas Maduro dan istrinya, Cilia Flores, yang sangat presisi dari sisi tempat dan lokasi mengakibatkan gugurnya sekitar 30 orang pasukan pengawal pengamanan Presiden Maduro dan disebutkan juga ada beberapa orang pasukan atau agen AS yang terluka dalam pertempuran jarak dekat di kediaman Presiden Maduro.
Presiden Maduro dan istrinya langsung diterbangkan ke luar dari Venezuela dan berakhir di kantor DEA, Kota New York, AS.
Sebagai penutup dan gambaran besar sesuai dengan pernyataan Jenderal Dan Caine (Kepala Staf Gabungan AS) bahwa seluruh operasi ini melibatkan lebih dari 150 pesawat yang terintegrasi, menciptakan "kejutan total" yang membuat militer Venezuela tidak memiliki waktu untuk bereaksi sama sekali.
Hal yang cukup mengejutkan juga adalah informasi grafik yang menunjukkan peran pesawat CN-235 dalam serangan ini. Sebagaimana diketahui bahwa memang betul bahwa AS adalah pengguna terbesar kedua (31 unit) setelah Turkiye (60 unit) dari pesawat CN-235 sebagai desain Airtech yang merupakan perusahaan patungan IPTN dan CASA (50-50), sehingga setiap pesawat CN-235 mengandung 50 persen produksi buatan Bandung, Indonesia.
*) F. Harry Sampurno adalah Ketua Bidang Kajian Forum Komunikasi Industri Pertahanan (Forkominhan)
