Bogor (ANTARA) - Asya Khalida (28) seorang ibu rumah tangga, ia tak pernah menyangka akan menghadapi pengalaman yang cukup menegangkan dalam hidupnya. Pada November tahun 2024, Asya merasakan ada benjolan kecil di bagian payudara kirinya. Awalnya ia mengira itu hanya masalah hormonal biasa dan tidak mengira kalau benjolannya cukup besar. Namun, benjolan tersebut tidak hilang dan justru makin terasa nyeri.
Dilanda rasa khawatir yang membuat Asya semakin ketakutan dan dorongan dari keluarga untuk segera melakukan pemeriksaan, ia akhirnya mendatangani Puskesmas terdekat dengan jaminan dari Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) karena terdaftar menjadi Penerima Bantuan Iuran (PBI APBN). Dari Puskesmas, ia didiagnosis untuk dirujuk ke rumah sakit yang memungkinkan untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Baca juga: Jamin kesehatan jamaah haji, BPJS Kesehatan sosialisasikan kepada fasilitas kesehatan
Hasil pemeriksaan menunjukkan bahwa Asya menderita FAM (Fibroadenoma mammae) atau tumor jinak non-kanker yang harus segera diangkat melalui operasi untuk mencegah komplikasi lebih lanjut. Kabar itu sempat membuat Asya terkejut, bukan hanya karena faktor kesehatan, tapi juga karena membayangkan biaya tindakan medis yang besar nantinya.
“Saya sempat takut biaya pemeriksaannya mahal dan tidak dapat di cover oleh BPJS Kesehatan. Tapi ternyata semua prosesnya ini bisa saya jalani tanpa biaya tambahan karena saya sudah terdaftar sebagai peserta JKN ya walaupun saya peserta bantuan tetapi yang saya rasakan tidak ada perbedaan dalam pelayanan. Dari hasil Ultrasonografi (USG), konsultasi dokter, sampai biopsi bahkan sampai pemulihannya nanti semuanya dicover penuh oleh BPJS Kesehatan,” ungkap Asya, Jumat (23/05).
Namun kekhawatiran itu seketika sirna setelah pihak rumah sakit menyampaikan bahwa seluruh tindakan operasi, perawatan pasca operasi, hingga rawat inap akan ditanggung penuh melalui Program JKN. Hal ini membuat Asya semakin tenang dan merasa sangat terbantu oleh kehadiran program tersebut.
“Sampai saat ini saya merasa sangat terbantu. Memang tidak ada pungutan biaya sepeserpun, dari awal masuk hingga di akhir pemulihan. Pertama memang saya kesal karena pendaftaran harus menggunakan Mobile JKN dan itu membuat saya berpikir ribet karena posisinya saya sudah merasa sakit sekali. Saat saya bertemu dengan petugas rumah sakit saat itu saya dijelaskan mengenai alurnya dengan baik dan pelayanan pun ramah dan professional,” ujarnya.
Baca juga: Rahma Ditya jalani perawatan DBD, JKN berikan kemudahan tanpa perbedaan
Operasi pengangkatan benjolan ini dilakukan pada awal November 2024 dan berjalan lancar. Asya harus menjalani rawat inap selama dua hari serta kontrol rutin selama sebulan setelahnya. Seluruh proses tersebut ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
“Jika saya harus bayar sendiri, mungkin saya akan menunda operasi. Tapi karena saya masih terdaftar sebagai PBI yang di bayar pemerintah, saya bersyukur bisa dapat penanganan cepat dan tuntas. Sama sekali saya tidak dibedakan dalam pelayanan ataupun fasilitas yang diberikan,” ujar Asya.
Ia juga mengapresiasi pelayanan tenaga medis di rumah sakit yang tetap memberikan pelayanan maksimal tanpa membedakan status pasien JKN maupun umum meskipun statusnya adalah peserta PBI.
“Saya dilayani dengan hormat dan penuh empati. Hal itu membuat saya semakin yakin bahwa ikut JKN adalah langkah yang benar, terutama untuk perempuan seperti saya yang harus peduli pada kesehatan di area payudara,” tambahnya.
Baca juga: Ibu rumah tangga percayakan persalinan anak ketiganya pada BPJS Kesehatan
Kini, setelah menjalani semua proses untuk pengangkatan dan penyembuhan dari benjolan di payudara Asya tetap akan melakukan kontrol pasca operasi. Asya juga menyadari penyakit yang dialaminya ini karena pola kehidupan yang tidak sehat, dan konsumsi yang kurang sehat. Ia ingin mengingatkan kepada seluruh Perempuan untuk menjaga pola hidup sehat
Asya pun berharap semakin banyak masyarakat yang memanfaatkan kepesertaan JKN. Menurutnya, program ini benar-benar menjadi jaring pengaman kesehatan yang sangat penting. Ia juga mengajak sesama perempuan untuk tidak menyepelekan gejala-gejala kecil yang muncul di tubuh. (BS/sd)
