Jakarta (ANTARA) - Kementerian Agama Republik Indonesia melalui Direktorat Pemberdayaan Zakat dan Wakaf (Dirzawa), Ditjen Bimas Islam, menegaskan penguatan peran zakat sebagai sistem perlindungan sosial umat yang berkelanjutan, tidak lagi sekadar bantuan darurat.
Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kemenag RI, Waryono Abdul Ghafur dalam keterangannya, Kamis menegaskan bahwa arah kebijakan ini merupakan bagian dari transformasi sosial-keagamaan Kementerian Agama.
“Zakat tidak boleh berhenti sebagai respons darurat. Ia harus bekerja sebagai sistem perlindungan sosial umat—menjaga agar penyintas tetap memiliki akses pangan, air bersih, pendidikan, listrik, dan konektivitas untuk memulihkan kehidupannya,” ujar Waryono.
Pendekatan ini diwujudkan secara nyata dalam penanganan dan pemulihan pascabencana di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat.
Sejak akhir November 2025 hingga awal Januari 2026, sinergi Kemenag bersama Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) dan berbagai Lembaga Amil Zakat (LAZ) nasional memastikan fase paling rentan pascabencana dapat dilalui penyintas dengan dukungan kebutuhan dasar yang memadai—mulai dari pangan, air bersih, layanan kesehatan, pendidikan, hingga keberlangsungan ibadah.
Pada fase tanggap darurat, zakat nasional menyalurkan 385.330 porsi makanan siap saji di tiga provinsi terdampak, serta 239.021 paket sembako dan logistik keluarga untuk menjaga ketahanan rumah tangga penyintas.
Risiko kesehatan di pengungsian ditopang melalui 37 titik pos layanan kesehatan yang melayani 10.497 jiwa, dengan dukungan 5.874 relawan dan personel respon di lapangan.
Memasuki fase pemulihan, zakat diarahkan untuk membangun daya tahan sosial masyarakat. Dalam aspek hunian, Dompet Dhuafa membangun 1.000 unit Rumah Sementara (Rumtara) secara bertahap di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, dengan target awal 200 unit rampung pada Januari 2026.
Sementara itu, Rumah Zakat membangun 100 unit hunian sementara (huntara) di Aceh Utara, disertai pelatihan konstruksi kayu bagi warga agar pemulihan tidak sepenuhnya bergantung pada bantuan eksternal.
Zakat juga menjangkau sektor penopang kehidupan lainnya. Di bidang pendidikan dan keagamaan, disalurkan 29 ribu mushaf Al-Qur’an dan buku Iqra, serta 3.548 paket bantuan pendidikan siswa. Pada sektor air bersih dan sanitasi, zakat mendukung distribusi 1,3 juta liter air bersih, pembangunan 60 sumur bor, serta penyediaan 10 unit alat filter air siap minum.
Untuk menjaga keberlangsungan layanan dasar dan konektivitas wilayah terdampak, turut disediakan 35 unit genset dan 15 perangkat Starlink.
Pastikan Kebutuhan Dasar dan Ibadah Jelang Ramadhan
Sebagai bagian dari penguatan kebijakan tersebut, Dirzawa Kemenag melakukan peninjauan lapangan pada Selasa (13/1) di Kabupaten Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, dan Kota Lhokseumawe. Peninjauan dilakukan bersama Kanwil Kemenag Aceh, BAZNAS, dan LAZ nasional untuk memastikan pemulihan pascabencana berjalan menyeluruh—tidak hanya pada aspek fisik, tetapi juga menjaga martabat penyintas dan keberlangsungan ibadah menjelang Ramadhan.
“Dalam situasi pascabencana, negara tidak boleh hadir setengah-setengah. Zakat kami dorong bukan hanya untuk menjawab kebutuhan darurat, tetapi memastikan penyintas tetap memiliki akses pangan, air bersih, pendidikan, dan ruang ibadah yang layak, terutama menjelang Ramadhan,” kata Waryono di sela peninjauan.
Di Pidie Jaya, tim meninjau Posko BAZNAS di Desa Manyang Cut, Kecamatan Meureudu, yang menyediakan layanan air bersih dan fasilitas MCK darurat. Peninjauan juga dilakukan di Posko LAZ Asar di Blang Awe, tempat dapur umum melayani sekitar 500 kepala keluarga per hari, serta gotong royong pembersihan masjid dan lingkungan. Kegiatan belajar mengajar anak-anak tetap berjalan melalui penyediaan madrasah sementara di MIN 4 Pidie Jaya.
Di Bireuen, layanan dapur umum Rumah Zakat melayani sekitar 100 kepala keluarga dengan dua kali makan per hari, disertai bantuan beras, lauk pauk, sumur bor air bersih, serta pakaian layak pakai. Peninjauan juga dilakukan di Posko IZI Gampong Raya Dagang yang mencakup renovasi masjid, pembinaan keagamaan, trauma healing, serta penyediaan filter air minum dan tandon air.
Jaga Keberlangsungan Ibadah Warga Aceh Utara
Di Aceh Utara dan Lhokseumawe, fokus diarahkan pada pemulihan fungsi rumah ibadah dan akses air bersih untuk bersuci. Di Masjid Rieseh Teunong, yang sempat menjadi lokasi pengungsian sekitar 53 kepala keluarga, bantuan sarana ibadah disalurkan berupa karpet sajadah, mukena, sarung, dan mushaf Al-Qur’an, serta penyediaan toren air untuk kebutuhan wudhu dan kebersihan masjid.
Secara keseluruhan, bantuan sarana ibadah yang tersalurkan di wilayah ini mencakup sedikitnya 234 mushaf Al-Qur’an serta lebih dari 350 item perlengkapan ibadah. Pendampingan psikososial juga dilakukan melalui kegiatan anak-anak seperti bermain, menggambar, dan kuis keislaman untuk membantu pemulihan mental penyintas.
“Bagi masyarakat, bisa kembali beribadah dengan tenang adalah bagian dari proses pulih. Karena itu, zakat dan wakaf kami arahkan untuk menjaga keberlangsungan ibadah dan martabat hidup warga terdampak,” tegas Waryono.
Melalui kolaborasi negara, BAZNAS, dan LAZ nasional, Kementerian Agama menegaskan bahwa zakat dan wakaf diarahkan sebagai penyangga ketahanan sosial umat—bekerja dengan empati sekaligus sistem—agar masyarakat terdampak bencana dapat menjalani masa pemulihan dengan lebih tenang, bermartabat, dan berkelanjutan saat menyongsong Ramadhan.
Pewarta: AntaraEditor : Feru Lantara
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.