Jakarta (ANTARA) - PT Krakatau Steel (Persero) Tbk membidik capaian laba bersih sebesar 129 juta dolar AS pada tahun fiskal 2026, menyusul indikasi pemulihan performa perusahaan yang mulai stabil pada awal tahun.

Direktur Utama Krakatau Steel, Dr. Akbar Djohan, dalam acara Coffee Morning Media di Jakarta, Senin, mengungkapkan bahwa hasil positif pada Kuartal I-2026 merupakan indikator keberhasilan program transformasi dan efisiensi yang dijalankan perseroan secara disiplin.

“Kinerja kami mulai meningkat secara bertahap di awal tahun ini. Namun, kami tetap memandang bahwa program efisiensi masih menjadi kunci penting dalam menjaga momentum ini agar selalu konsisten dan berkelanjutan,” ujar Akbar Djohan.

Pada periode Kuartal I-2026, emiten baja nasional ini membukukan pendapatan sebesar 262,4 juta dolar AS dengan perolehan laba bersih 4,6 juta dolar AS. Penguatan posisi ekuitas di angka 745,7 juta dolar AS turut memperkokoh neraca perusahaan dalam menghadapi dinamika pasar global.

Dari sisi operasional, perusahaan berkode bursa (KRAS) mengantongi total produksi hingga Maret 2026 mencapai 360 ribu ton. Pabrik Hot Strip Mill (HSM) menyumbang 230 ribu ton, sementara pabrik Cold Rolling Mill (CRM) berkontribusi sebesar 130 ribu ton.

Tantangan

Meski mencatatkan tren positif, industri baja domestik menghadapi tantangan berat akibat gejolak geopolitik global.

Tenaga Ahli Krakatau Steel, Widodo Setiadharmaji, menjelaskan bahwa gangguan pasokan dunia, terutama dari Iran yang kehilangan kapasitas produksi sekitar 12 juta ton akibat perang dengan AS dan Israel. Perang menyebabkan kerusakan fasilitas sehingga memicu lonjakan harga bahan baku.

“Hampir semua komoditas baja, mulai dari bahan baku iron ore, coking coal, hingga produk setengah jadi dalam bentuk slab, semuanya naik. Iron ore naik sampai 13 persen, bahkan slab melonjak hingga 36,5 persen,” kata Widodo.

Selain faktor bahan baku, ia menyoroti kenaikan biaya logistik akibat blokade Selat Hormuz yang merupakan jalur maritim dunia. Kondisi demikian  mengakibatkan peningkatan premi asuransi pengiriman global secara signifikan.

Kondisi ini diperparah dengan disparitas harga yang tinggi, terutama dari produk baja asal China yang masuk ke pasar domestik dengan harga di bawah nilai wajar.

“Perusahaan baja di China pun sebenarnya merugi dalam beberapa tahun terakhir. Jika mereka menjual ke Indonesia pada harga yang mereka sendiri rugi, ini menjadi tantangan besar bagi daya saing industri kita,” tambahnya.

Widodo memprediksi tren kenaikan harga baja global akan terus berlanjut hingga pertengahan tahun akibat keterbatasan pasokan dan potensi permintaan dari sektor rekonstruksi global.

Menanggapi dinamika tersebut, manajemen Krakatau Steel menegaskan komitmennya untuk terus mengoptimalkan lini produksi demi menghasilkan produk baja yang kompetitif guna mendukung kemandirian ekonomi nasional.

Melalui sinergi penguatan permodalan bersama Danantara dan fokus pada efisiensi biaya, Krakatau Steel optimistis mampu mempertahankan stabilitas operasional sekaligus memberikan nilai tambah bagi industri manufaktur di tanah air.



Pewarta: Feru Lantara
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026