Manokwari (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Papua Barat memastikan hingga saat ini belum ditemukan kasus virus Nipah di wilayah itu, seiring peningkatan kewaspadaan secara nasional terhadap potensi penularan penyakit zoonosis dari sejumlah wilayah di kawasan ASEAN.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Papua Barat Alwan Rimosan di Manokwari, Sabtu, mengatakan pemantauan dan surveilans penyakit menular terus diperkuat melalui koordinasi dengan seluruh fasilitas pelayanan, termasuk instansi terkait lainnya.
“Sampai dengan hari ini kami belum temukan adanya kasus yang disebabkan oleh penularan virus Nipah,” kata Alwan.
Baca juga: Ini empat penyakit infeksi paru-paru berat yang mesti diwaspadai
Baca juga: Karantina Kalsel perkuat pengawasan bandara guna cegah masuknya Virus Nipah
Meski demikian, lanjut dia, sistem kewaspadaan dini dan respon cepat tetap dioptimalkan oleh jajaran Dinas Kesehatan di tujuh kabupaten apabila menemukan kasus dengan gejala yang mengarah pada infeksi virus Nipah.
Pemerintah daerah juga terus berkoordinasi dengan Balai Karantina Kesehatan untuk memperketat pengawasan dan pemeriksaan melalui pelabuhan laut maupun bandar udara, terutama pelaku perjalanan dari luar daerah.
“Kami imbau masyarakat tetap menerapkan perilaku hidup sehat dan bersih. Hindari kontak langsung dengan hewan liar,” ucap Alwan.
Baca juga: Pakar ceritakan asal mula nama virus nipah
Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Papua Barat Hendrikus Fatem menyebut pemerintah provinsi hingga kini belum memberikan izin terhadap kegiatan pendistribusian hewan berkaki empat dari luar wilayah Papua Barat.
Hal itu sesuai Keputusan Gubernur Papua Barat Nomor 360/184/7/2022, Surat Edaran (SE) Gubernur Papua Barat Nomor 443.2/2458/GPB/2022, SE Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Papua Barat 970/542/DIS-PKH-PB/04/2021.
“Sampai sejauh ini, saya sebagai pejabat veteriner belum mengizinkan ada pengiriman hewan berkaki dari luar ke wilayah Papua Barat, apalagi ternak babi atau daging babi,” ujarnya.
