Lebak (ANTARA) - Sebanyak 19 rumah warga dan satu mushalla di Kecamatan Cikulur, Kabupaten Lebak, Banten, terdampak pergerakan tanah akibat cuaca ekstrem yang ditandai curah hujan dengan intensitas tinggi dalam beberapa hari terakhir.
"Semua warga di sini masih siaga, karena khawatir kondisi rumah ambruk," kata Ketua Rukun Warga (RW) 03 Desa Cigoong Utara Kecamatan Cikulur Kabupaten Lebak, Kojles saat dihubungi di Rangkasbitung, Lebak, Ahad.
Pergerakan tanah itu terjadi di wilayahnya pada Kamis (22/1) malam setelah dilanda hujan cukup deras di dua RT Marga Mulya Desa Cigoong Utara Kabupaten Lebak.
Sebanyak 19 unit rumah warga yang terdampak kebanyakan kondisi bangunannya retak-retak dan hanya satu warga yang mengungsi ke anaknya, akibat kondisinya rumah hampir roboh.
"Kami sekarang memfokuskan keselamatan dan setiap hari siaga, karena khawatir terjadi cuaca ekstrem lagi," kata Kojles.
Baca juga: Ada 261 jiwa korban pergerakan tanah di Lebak masih tinggal di pengungsian
Baca juga: Ada 2.247 rumah di Lebak Banten terdampak banjir, longsor, pergerakan tanah
Baca juga: Warga korban pergerakan tanah di Lebak waspada saat hujan lebat
Ahmad, warga Cigoong Utara Kabupaten Lebak mengatakan, kondisi rumah miliknya mengalami retak-retak bagian tembok sehingga khawatir roboh.
"Pergerakan tanah itu tentu warga waspada karena khawatir terjadi bencana susulan," katanya.
Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak mengatakan, pihaknya akan melakukan pendataan jumlah rumah warga yang terdampak pergerakan tanah.
"Kami setelah melakukan asesmen, nantinya dilaporkan ke pimpinan yakni sekda untuk ditindaklanjuti," katanya.
