Medan (ANTARA) - Rektor Universitas Sumatera Utara (USU) Prof Muryanto Amin mengajak lulusan perguruan tinggi itu untuk terus belajar tanpa henti dalam memahami banyak hal, dan secara berkelanjutan meningkatkan potensi konstruksi berpikir sistematis tentang pengetahuan teori yang diselaraskan dengan keterampilan teknis untuk menjawab permasalahan.
“Seorang yang terdidik dan lulusan dari perguruan tinggi selalu diharapkan memiliki dua kemampuan itu yang tidak terpisahkan," katanya di Medan, Sumatera Utara (sumut) Minggu.
Ia menjelaskan perubahan dunia kerja saat ini tidak hanya terlihat dari munculnya teknologi baru, tetapi juga dari perubahan keterampilan, dimana keterampilan yang paling dibutuhkan pada masa depan bukan semata kemampuan teknis, melainkan pola berpikir, bersikap, dan bertindak.
“Dunia kerja tidak hanya mencari individu yang cerdas secara akademik, tetapi mereka yang mampu berpikir jernih, beradaptasi dalam tekanan, memimpin, bekerja dengan orang lain, serta memahami diri dan lingkungannya,” katanya.
Baca juga: Guru Besar USU: Aplikasi AI Disiplinku dukung transformasi SDM
Dunia kerja membutuhkan lulusan yang tidak hanya tahu, kata dia, tetapi mampu mengambil keputusan dan bertindak agar tidak ada lagi kesenjangan antara teori dan praktik.
Ia mencontohkan penerapannya kepada perusahaan Starbucks, sebuah perusahaan global dengan ribuan gerai di seluruh dunia dan setiap hari menetapkan jutaan keputusan kecil yang menentukan keberlangsungan bisnisnya.
“Ketika Starbucks menghadapi tekanan besar, pertumbuhan yang melambat dan tantangan operasional yang semakin kompleks, mereka mengambil langkah yang pada saat itu, terasa masuk akal. Perusahaan menunjuk seorang CEO dengan latar belakang konsultan strategi global yang sangat kuat dalam analisis dan perumusan arah bisnis,” katanya.
Setiap berada di ruang rapat selalu terlihat arah perusahaan yang jelas, strategi yang tersusun rapi, dan indikator ideal, serta lini masa yang teratur. Namun persoalan Starbucks tidak berada di ruang rapat. Persoalannya ada di gerai, di antrean pelanggan, dan di ritme kerja sehari-hari. Proses layanan melambat dan pelanggan menurun di seluruh gerainya.
“Keputusan yang sangat logis di tingkat strategi ternyata tidak sepenuhnya menjawab masalah yang langsung dialami oleh setiap gerai. Bukan karena strateginya salah, tetapi karena jarak antara pengambil keputusan dan realitas lapangan terlalu jauh,” urainya.
Prof. Mury mengatakan nilai perusahaan mengalami penurunan yang signifikan dalam waktu yang singkat.
Peristiwa itu, membuat Starbucks belajar bahwa pada fase tertentu, organisasi tidak hanya membutuhkan pemikir yang cerdas, tetapi pemimpin yang memahami lapangan.
Starbucks kemudian menyadari kepintaran saja tidak cukup, organisasi membutuhkan pemimpin yang tidak hanya berpikir, tetapi juga berani mengeksekusi keputusan, dan bertanggung jawab atas dampak yang terjadi.
“Perubahan arah pun diambil, Starbucks menunjuk seorang pemimpin yang dikenal sebagai operator lapangan. Seorang profesional yang terbiasa mengelola bisnis dengan jutaan pelanggan per hari, memahami frontline team, rantai pasok, dan realitas operasional secara langsung. Penunjukan ini dibaca sebagai sinyal kuat bahwa Starbucks ingin kembali mengaitkan strategi bisnis yang relevan dan mudah dieksekusi mengatasi masalah nyata. Konsumen setianya merespons positif perubahan arah tersebut karena perbaikan layanan yang paling mendasar di level gerai Starbucks,” katanya.
Menurut Prof. Mury, cerita itu mengajarkan bahwa banyak kegagalan bukan terjadi karena kurangnya teori, melainkan karena kesalahan mengubah dari teori menjadi tindakan. Strategi yang baik membutuhkan keberanian untuk dijalankan, dan kepemimpinan yang kuat diuji bukan di ruang presentasi, tetapi di lapangan.
“Dunia kerja tidak selalu menunggu kita siap dengan jawaban yang sempurna. Seringkali, kita dituntut untuk berani mengambil keputusan dalam keterbatasan, dan bertanggung jawab penuh untuk melaksanakannya. Inilah makna sesungguhnya dari from theory to action, mengubah pengetahuan menjadi tindakan, dan tindakan memberi nilai yang bermanfaat untuk kesejahteraan,” katanya.
Baca juga: UI-USU bantu pemulihan psikososial warga Sumut terdampak bencana
Pewarta: JuraidiEditor : Erwan Muhadam
COPYRIGHT © ANTARA 2026