Jakarta (ANTARA) - Bendahara Panitia Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PMB PTKIN) Rosihon Anwar mengatakan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) saat ini berkembang menjadi pusat integrasi ilmu pengetahuan dan spiritualitas Islam di Indonesia.
“PTKIN bukan sekadar lembaga pendidikan keagamaan, tetapi juga pusat peradaban yang memadukan spiritualitas dengan keunggulan sains,” kata Rosihon Anwar dalam konferensi pers Penerimaan Mahasiswa Baru PTKIN di Jakarta, Rabu.
Rosihon menjelaskan PTKIN merupakan institusi pendidikan tinggi di bawah Kementerian Agama yang menyelenggarakan pendidikan akademik, vokasi, dan profesi berdasarkan nilai-nilai Islam.
Menurut dia, PTKIN terdiri atas tiga bentuk kelembagaan yakni Universitas Islam Negeri (UIN), Institut Agama Islam Negeri (IAIN), dan Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN).
UIN, kata dia, memiliki cakupan keilmuan paling luas karena mengintegrasikan ilmu agama dan ilmu umum seperti kedokteran, teknik, dan psikologi.
Sementara IAIN berfokus pada rumpun ilmu agama Islam dengan disiplin yang lebih luas dibandingkan sekolah tinggi. Sedangkan STAIN fokus pada cabang-cabang ilmu agama Islam tertentu.
Rosihon menilai masih terdapat anggapan keliru bahwa PTKIN hanya mencetak lulusan dengan kemampuan keagamaan semata.
“Faktanya, PTKIN modern telah mengadopsi paradigma integrasi ilmu. Mahasiswa tidak hanya mendalami ilmu agama, tetapi juga mengembangkan kompetensi profesional di berbagai bidang,” ujarnya.
Ia mencontohkan sejumlah fakultas di PTKIN kini mengembangkan bidang sains dan teknologi, ekonomi dan bisnis Islam, hingga kedokteran dan kesehatan dengan pendekatan berbasis nilai dan etika Islam.
Menurut dia, fakultas sains dan teknologi di PTKIN mengembangkan kajian biologi, kimia, dan informatika dengan landasan etika Islam.
Selain itu, fakultas ekonomi dan bisnis Islam mencetak lulusan yang memahami sistem keuangan syariah dan ekonomi global, sedangkan fakultas kedokteran dan kesehatan menekankan aspek bioetika Islam dalam praktik medis.
Rosihon menambahkan, PTKIN juga terus bertransformasi menuju internasionalisasi dan digitalisasi guna menjawab tantangan pendidikan global. Ia menyebut penguatan moderasi beragama menjadi salah satu pilar utama PTKIN dalam membangun pemahaman Islam yang inklusif, toleran, dan damai.
“PTKIN menjadi benteng bagi pemahaman Islam yang inklusif, toleran, dan damai di tengah polarisasi global. PTKIN adalah ekspor pemikiran Islam moderat Indonesia ke mata dunia,” ujar dia.
Selain itu, sejumlah PTKIN kini telah memperoleh akreditasi internasional dan menjalin kerja sama riset dengan berbagai perguruan tinggi di Eropa, Amerika, dan Timur Tengah.
Di bidang teknologi, kata dia, PTKIN juga mengembangkan konsep kampus cerdas melalui transformasi digital berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dan big data.
“Transformasi ini penting agar lulusan PTKIN mampu bersaing di era Revolusi Industri 4.0 dan 5.0,” ujar Rosihon.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: PTKIN jadi pusat integrasi sains dan spiritualitas Islam
Pewarta: Asep FirmansyahEditor : Syarif Abdullah
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.