Majalengka (ANTARA) - Di tepian Situ Cipanten di Desa Gunung Kuning, Majalengka, Jawa Barat, seorang lelaki tampak duduk santai di bibir beton. Tangannya menabur pakan dan seketika air bergejolak.
Riak yang timbul bukan karena angin, melainkan nafsu makan yang gaduh. Ikan-ikan koi merubung dan mulutnya membuka serempak hingga menimbulkan bunyi kecipak.
Di bagian tengah, danau terlihat lebih teduh. Airnya tampak kebiruan dan ada dominan hijau tua di tengahnya, memantulkan rimbun pepohonan yang berdiri rapat di sekelilingnya.
Di sana perahu bebek melintas perlahan, mengangkut tawa keluarga yang ingin menukar penat dengan kesantaian. Langit menggantung kelabu, seperti tirai tipis yang menahan panas pada siang itu.
Daya tarik
Eki Yulianto, wisatawan asal Cirebon, datang ke Situ Cipanten pada akhir pekan bersama dua rekannya. Ia mengaku sengaja memilih tempat ini karena ingin mencari suasana yang lebih tenang dibanding objek wisata lain yang cenderung padat.
Untuk sampai ke destinasi tersebut, dirinya hanya memerlukan waktu sekitar satu jam dari pusat Kota Cirebon.
Menurut dia, begitu tiba di kawasan danau, kesan pertama yang terasa adalah udara yang sejuk dan suasana yang tidak terlalu bising.
Pepohonan yang mengelilingi danau membuat tempat itu terasa teduh, seperti ruang istirahat yang disiapkan alam.
Ia menghabiskan waktu dengan duduk di tepian danau, memperhatikan ikan yang bergerombol di dekat pengunjung.
Sesekali, ia berjalan menyusuri jalur setapak sambil memotret pemandangan air yang berwarna hijau tua.
“Tempatnya walau ramai, sangat sejuk, jadi enak buat santai. Duduk saja sudah cukup. Rasanya kepala lebih ringan setelah lihat air dan pepohonan,” kata Eki kepada ANTARA, Sabtu (14/2).
Ia berharap pengelolaan wisata tetap mempertahankan kesan alami tersebut. Baginya, daya tarik Situ Cipanten justru terletak pada suasana yang sederhana dan tidak berlebihan dalam pembangunan.
Sementara itu, Arif, pengunjung asal Sumedang, mengaku datang setelah melihat foto Situ Cipanten di media sosial. Ia tertarik karena suasananya tampak alami.
“Saya tahu dari media sosial, suasananya masih asri. Enak untuk melepas penat,” ujarnya.
Ia datang bersama keluarganya pada akhir pekan ini. Anak-anaknya langsung tertarik melihat ikan dan wahana air.
Bagi pengunjung, danau ini tempat melepas penat. Namun bagi warga Desa Gunung Kuning, Majalengka, tempat tersebut kini menjadi ruang untuk mempelajari program keuangan inklusif yang masuk lewat jalur wisata.
Dampak wisata
Direktur BUMDes Karya Mekar Desa Gunung Kuning Yosep Hendrawan mengatakan wisata Situ Cipanten menjadi salah satu tulang punggung ekonomi desa.
Pengelolaan destinasi ini dilakukan bersama dengan karang taruna setempat. Fasilitas dibangun bertahap, mulai dari mushala, area parkir, hingga wahana air. Saat ini tersedia tujuh wahana, dari perahu dayung hingga sepeda gantung.
Pendapatan dari sektor wisata terus meningkat. Pada 2024, pendapatan bruto BUMDes mencapai Rp2,4 miliar. Hingga September 2025, angkanya sudah menembus Rp2,5 miliar.
Dari sektor tersebut, BUMDes mampu menggaji sekitar 70 pekerja muda desa. Mereka menerima honor mingguan sekitar Rp1,5 juta.
Banyak di antara mereka yang sebelumnya bekerja serabutan atau merantau. Kini, mereka bisa bertahan di kampung sendiri.
Jumlah kunjungan wisata juga terus naik. Hingga September 2025, tercatat sekitar 139 ribu wisatawan datang ke Situ Cipanten.
Lambat laun, kunjungan wisatawan di destinasi tersebut tembus sampai 13.710 orang selama musim libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Bahkan tempat ini menjadi destinasi yang paling ramai dikunjungi turis di Majalengka pada periode tersebut.
Di tengah geliat wisata itu, Desa Gunung Kuning dipilih sebagai lokasi program Desa Ekosistem Keuangan Inklusif (EKI) oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Dampak program mulai terlihat di kawasan wisata. Yosep menyebut, 28 warung binaan di Situ Cipanten kini sudah menggunakan pembayaran digital melalui QRIS.
Jauh sebelum program EKI berjalan, kata dia, pelaku UMKM di kawasan tersebut sudah menerapkan sistem pembayaran non-tunai, tetapi tidak semasif sekarang.
“Saat ini tinggal diperkuat literasinya, supaya masyarakat lebih paham penggunaan uang digital,” katanya.
Selain penggunaan QRIS, masyarakat sekitar mendapat edukasi mengenai tabungan, kredit usaha, serta bahaya pinjaman online ilegal. Materi disampaikan secara bertahap, menyesuaikan kebutuhan warga.
Menurut Yosep, program tersebut memberi perubahan cara pandang masyarakat terhadap uang. Warga mulai terbiasa menabung, mengenal layanan bank, dan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pinjaman informal.
Ia menilai penguatan literasi keuangan menjadi fondasi penting agar ekonomi desa tidak hanya tumbuh, tetapi juga bertahan.
Wisata memberi pemasukan, sementara inklusi keuangan menjaga agar perputaran uang tetap sehat.
Jejak inklusi
Program Desa EKI di Situ Cipanten saat ini mulai diarahkan untuk mendukung pengembangan desa wisata ramah difabel.
Kepala OJK Cirebon Agus Muntholib mengatakan, program EKI dapat memperkuat akses keuangan, sekaligus membangun potensi lokal di kawasan tersebut.
“Program Desa EKI ini memperkuat akses keuangan, dan kini mengembangkan desa wisata ramah difabel sebagai keunggulan lokal,” ujarnya.
Program tersebut dijalankan melalui kolaborasi antara OJK, Bank Indonesia, pemerintah daerah, pemerintah desa, BUMDes, serta industri jasa keuangan.
Pendekatannya tak sebatas soal penyaluran kredit, melainkan membangun ekosistem keuangan di tingkat desa.
Menurut Agus, peningkatan inklusi keuangan penting agar masyarakat lebih mandiri. Dengan akses ke layanan formal, warga diharapkan tidak lagi bergantung pada pinjaman ilegal atau rentenir.
Program Desa EKI di Gunung Kuning dilaksanakan dalam tiga tahap hingga 2026, yakni pra-inkubasi, inkubasi, dan pasca-inkubasi. Pada tahap awal, OJK memetakan kebutuhan akses keuangan terhadap 108 peserta.
Hasilnya, 51 persen peserta membutuhkan tabungan, 19 persen kredit usaha, 4 persen deposito, dan 3 persen pembiayaan kendaraan. Tahap selanjutnya berupa product matching antara perbankan dan industri keuangan non-bank.
Melalui program tersebut, masyarakat juga mendapat edukasi tentang risiko pinjaman online ilegal dan pentingnya menggunakan layanan keuangan resmi. Bagi pengelola, literasi keuangan menjadi fondasi agar ekonomi desa tumbuh sehat.
Selain di Majalengka, Agus menuturkan OJK telah memperluas program Inkubasi Desa EKI di Kabupaten Kuningan, Jawa Barat, sebagai upaya meningkatkan literasi keuangan masyarakat sekaligus mencegah praktik pinjaman dan rentenir ilegal.
Program tersebut digelar di Desa Karangtawang dengan melibatkan sekitar 200 UMKM. Kegiatan itu difokuskan pada penguatan pemahaman masyarakat terhadap produk pembiayaan formal yang aman dan berizin.
Dalam program tersebut, para peserta mendapatkan pengenalan berbagai skema pendanaan dari perbankan, sehingga mereka memiliki alternatif pembiayaan yang legal untuk mengembangkan usaha yang dijalankan.
Edukasi tersebut menjadi penting, karena masih banyak masyarakat yang terjebak penipuan berkedok lembaga keuangan.
Ia menyampaikan kurangnya pemahaman mengenai legalitas produk keuangan kerap dimanfaatkan pihak tidak bertanggung jawab untuk menjerat masyarakat.
Sasaran utama program ini adalah masyarakat produktif, khususnya pelaku UMKM yang menjadi penggerak ekonomi desa.
Dengan akses pembiayaan yang legal dan kemampuan usaha yang lebih baik, diharapkan produktivitas dan daya saing usaha mereka meningkat.
Program serupa juga telah dijalankan di Desa Kaduela, Kabupaten Kuningan. Inisiatif tersebut berhasil memperluas akses keuangan melalui agen Laku Pandai BUMDes Arya Kamuning, sekaligus menekan praktik rentenir, pinjaman ilegal, dan pungutan liar di desa tersebut.
Pada prinsipnya, program ini dirancang untuk mendukung kegiatan wisata maupun ekonomi di tingkat desa, dengan pendekatan edukasi serta inklusi keuangan.
Dukungan
Kembali ke Situ Cipanten, objek wisata tersebut kini diproyeksikan menjadi salah satu ikon wisata alam di wilayah Kabupaten Majalengka.
Pemerintah daerah setempat menilai destinasi wisata ini cocok dikembangkan sebagai objek wisata keluarga maupun ekowisata.
Bupati Majalengka Eman Suherman mengatakan, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendukung pengembangan kawasan Situ Cipanten melalui penataan infrastruktur, peningkatan akses, serta penguatan kapasitas masyarakat sekitar.
Menurut dia, pengembangan wisata harus memberikan dampak ekonomi langsung bagi warga, tanpa mengabaikan kelestarian lingkungan.
Warga pun dilibatkan dalam pengelolaan fasilitas, penyediaan jasa wisata, hingga pengembangan produk ekonomi kreatif.
Dengan cara itu, keberadaan objek wisata tidak hanya menjadi tempat rekreasi, melainkan sebagai sumber penghasilan yang berkelanjutan bagi masyarakat desa.
Selain itu, pemerintah daerah mendorong kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk pelaku usaha, komunitas, serta lembaga pendidikan.
Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menghadirkan inovasi dalam pengelolaan destinasi, mulai dari penataan kawasan, promosi digital, hingga penyelenggaraan kegiatan budaya dan lingkungan yang menarik minat wisatawan.
