Jakarta (ANTARA) - Dialog lintas negara mengenai circular economy menguat dalam pertemuan tim peneliti Indonesia, Dr. Devie Rahmawati, Associate Professor Program Vokasi Universitas Indonesia, bersama Dr. Hideki Sakamoto, pakar lingkungan sekaligus Guest Professor di Hiroshima University, yang berlangsung di kawasan Fujimi Town, Jepang.
Pertemuan ini juga dihadiri oleh M. Zaky Ramadhan (Folks Strategic), Dr. Wiratri Anindhita (Universitas Negeri Jakarta), Assoc. Prof. Dr. La Mani (Bina Nusantara University), serta Elly Muliawan (SGI), yang memperkaya materi melalui perspektif tata kelola, komunikasi publik, dan penguatan peran komunitas.
Diskusi menyoroti praktik circular economy yang tidak berhenti pada konsep, tetapi diwujudkan melalui pendekatan ilmiah, rekayasa lingkungan, dan kolaborasi lintas sektor, mulai dari pertanian, industri, hingga pengelolaan sumber daya air.
Dr. Hideki Sakamoto memaparkan pengalaman pengembangan Yatsugatake Mirai Farm, sebuah kawasan pertanian berbasis teknologi sirkular yang memanfaatkan emisi CO dan panas limbah industri untuk rumah kaca, menghasilkan produktivitas pertanian hingga empat kali rata-rata nasional Jepang, dengan sistem zero wastewater melalui daur ulang cairan secara tertutup.
Praktik ini menjadi contoh bagaimana inovasi lingkungan dapat berjalan seiring dengan efisiensi ekonomi serta konservasi sumber daya.
Menanggapi paparan tersebut, Devie menekankan bahwa konteks Indonesia membutuhkan pendekatan circular economy yang berpijak pada realitas sosial dan kapasitas komunitas.
“Indonesia tidak kekurangan sumber daya, tetapi sering kehilangan kesinambungan antar sektor. Circular economy menjadi relevan bukan karena teknologi semata, melainkan karena kemampuannya menyatukan ilmu pengetahuan, kebijakan publik, dan praktik komunitas dalam satu ekosistem yang saling menopang,” ujar Devie.
Devie menambahkan bahwa tantangan Indonesia, mulai dari pengelolaan limbah, tekanan terhadap sumber daya air, hingga risiko bencana iklim, menuntut model circular economy yang adaptif terhadap kondisi lokal, termasuk peran masyarakat dan jejaring relawan.
“Apa yang kami pelajari dari dialog ini adalah pentingnya desain sistem dalam kebijakan lingkungan. Sistem sirkular yang berhasil selalu dirancang sejak awal untuk bertahan lama, transparan, dan mudah direplikasi. Model di Jepang, menjadi pelajaran penting bagi Indonesia yang sedang bergerak menuju ekonomi hijau berbasis ketahanan komunitas,” lanjutnya.
Diskusi juga menyinggung pengalaman kolaborasi Jepang–Indonesia melalui dukungan JICA, termasuk penerapan teknologi pengomposan untuk mengatasi tanaman air invasif di danau-danau Indonesia, sebuah contoh transfer pengetahuan yang berdampak nyata bagi ekosistem dan masyarakat lokal.
Pertemuan ini menegaskan bahwa circular economy bukan sekadar strategi lingkungan, melainkan kerangka pembangunan jangka panjang yang menautkan sains, tata kelola, dan nilai keberlanjutan. Bagi Indonesia, dialog semacam ini membuka ruang pembelajaran penting untuk merancang kebijakan dan praktik circular economy yang lebih inklusif, kontekstual, dan berdaya tahan.
Diskusi dilakukan bersama Green Community Morino Office, Kagome Farm : Yuta Matsuda, Seira Nakanishi, dan Novi Kresna Murti.
