Mataram (ANTARA) - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Nusa Tenggara Barat menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat ketahanan dan swasembada pangan daerah sebagai bagian dari dukungan nyata terhadap program nasional 2026.
"Hal ini sejalan dengan arahan Bapak Presiden yang menekankan pentingnya mengembalikan kejayaan swasembada pangan seperti dekade 1980-an, melalui penguatan produksi, perluasan areal tanam, serta peningkatan produktivitas pertanian di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di NTB," kata Kepala Dinas Komunikasi Informatika dan Statistik NTB Ahsanul Khalik di Mataram, Selasa.
Ahsanul Khalik yang juga bertindak sebagai Juru Bicara Pemerintah Provinsi NTB, didampingi Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Eva Dewiyani , menyebutkan tren capaian yang sangat positif di NTB, berdasarkan data Kerangka Sampel Area (KSA) Badan Pusat Statistik (BPS), untuk mendukung swasembada pangan daerah dan nasional.
Dikatakannya, capaian produksi padi NTB pada tahun 2025 mencapai 1.698.283 ton Gabah Kering Giling (GKG) atau meningkat 16,85 persen dibandingkan tahun 2024 yang tercatat sebesar 1.453.408 ton GKG."Peningkatan ini juga ditopang oleh naiknya luas panen dari 281.718 hektare pada tahun 2024 menjadi 322.927 hektare pada tahun 2025, serta produktivitas padi yang meningkat dari 51,59 kuintal/hektare menjadi 52,59 kuintal/hektare," ujarnya.
Aka sapaan akrabnya menyebutkan rincian capaian produksi padi tahun 2025, berdasarkan KSA BPS di 10 kabupaten/kota di NTB, yakni Lombok Tengah dengan luas panen 78.639 hektare (ha), produksi 421.941 ton GKG, produktivitas 53,66 kuintal/ha. Sumbawa luas panen 74.736 ha, produksi 398.864 ton GKG, produktivitas 53,37 kuintal/ha.
Selanjutnya Lombok Timur luas panen 45.387 ha, produksi 243.474 ton GKG, produktivitas 53,64 kuintal/ha. Kabupaten Bima luas panen 42.845 ha, produksi 208.018 ton GKG, produktivitas 48,55 kuintal/ha. Dompu luas panen 30.448 ha, produksi 151.335 ton GKG, produktivitas 49,70 kuintal/ha. Lombok Barat luas panen 25.488 ha, produksi 135.678 ton GKG, produktivitas 53,23 kuintal/ha.
Kemudian Sumbawa Barat luas panen 14.548 ha, produksi 74.496 ton GKG, produktivitas 51,21 kuintal/ha. Lombok Utara luas panen 5.536 ha, produksi 33.320 ton GKG, produktivitas 60,19 kuintal/ha. Kota Mataram luas panen 2.736 ha, produksi 17.727 ton GKG, produktivitas 64,78 kuintal/ha, serta Kota Bima luas panen 2.564 ha, produksi 13.431 ton GKG, produktivitas 52,39 kuintal/ha.
Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil sinergi dan kerja kolektif semua pihak dalam membangun sektor pertanian, sekaligus menjadi fondasi optimisme menuju penguatan swasembada pangan NTB tahun 2026.
Keberhasilan ini, ujarnya, tidak terlepas dari program-program pro-rakyat, antara lain optimasi lahan di NTB, penggunaan benih unggul bersertifikat, alokasi pupuk subsidi, harga pembelian pemerintah (HPP) di tingkat petani Rp6.500/kg untuk gabah kering panen, serta penguatan kolaborasi antara pusat, Pemprov NTB, pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, instansi teknis, dan petani.
Sementara itu Plt. Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan NTB, Eva Dewiyani mengatakan memasuki tahun 2026, pihaknya akan terus melakukan penguatan untuk menggerakkan seluruh potensi daerah, baik melalui optimalisasi lahan maupun program strategis lainnya, sebagai bentuk ikhtiar NTB dalam menyelaraskan program swasembada pangan Pemerintah Pusat di daerah.
"Jadi, NTB optimistis dapat terus menjaga tren peningkatan produksi sekaligus memperkuat ketahanan pangan, sebagai bagian dari kontribusi daerah dalam mewujudkan cita-cita nasional menuju kebangkitan swasembada pangan Indonesia," katanya.
Baca juga: Indonesia di Jalur Lumbung Pangan Dunia
Baca juga: Menuju kemajuan bangsa sejati lewat swasembada pangan
