Muko-muko, Bengkulu (ANTARA) - Tidak ada kata terlambat untuk tujuan kemanusiaan. Apalagi menyelamatkan mereka yang sedang dirundung kemalangan hingga otaknya tidak tahu bagaimana cara menghentikan tetesan air mata.
Hati siapa yang tak terpanggil melihat hari-hari ini, tangisan anak di Sumatera Barat yang kehilangan ibunya, seorang ayah di Sumatera Utara yang menangis sesenggukan karena buah hatinya tidak diketahui keberadaannya. Atau saat melihat seorang petugas terlatih di Aceh menjerit karena tak kuasa lagi menahan kesedihan melihat tubuh-tubuh saudara mereka yang telah dingin dan membiru itu belum jua dikembalikan kepada keluarganya.
Dalam situasi genting inilah, Basarnas mengirimkan Kapal Negara (KN) Ganesha (SAR-105) sebagai kekuatan tambahan yang lengkap dengan muatan logistik makanan, obat-obatan, dan tim regu penyelamat.
Di tengah eskalasi laporan korban banjir bandang dan tanah longsor yang menghantam Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh sejak 25 November, kapal andalan Basarnas itu kini menjadi salah satu tumpuan utama dalam misi pencarian dan pertolongan yang kian dikejar waktu.
Kapal berukuran lebih dari 60 meter itu menyandang fungsi sebagai pos bergerak SAR yang mampu mengevakuasi, menyalurkan logistik, hingga pencarian korban di kawasan pesisir yang akses jalannya terputus.
Dengan kemampuan jelajah panjang, Ganesha menjadi “jembatan air” yang menghubungkan wilayah terdampak yang setidaknya sudah sembilan hari terisolasi akibat cuaca ekstrem dan kerusakan infrastruktur.
Deru mesin ganda Ganesha memecah kesunyian bersiap untuk memulai misinya dari Dermaga Inggom, Tanjung Priok, Jakarta, begitu rangkaian laporan bencana dari Sumatera meningkat dalam waktu singkat.
Dalam tempo kurang dari enam jam setelah perintah operasi diterbitkan Kepala Basarnas Mohammad Syafii, kapal sudah bergerak meninggalkan perairan Ibu Kota Jakarta dengan membawa personel penyelamat, tim medis, perlengkapan komunikasi darurat, serta paket logistik tambahan untuk daerah terisolasi.
Diawaki 16 kru dari Kantor SAR Jakarta, Ganesha mengangkut sebanyak 43 potensi SAR termasuk empat pewarta nasional, dan 21 penyelamat dari Kantor SAR Jakarta, Bandung, dan Banten.
Kapal lepas jangkar dari Tanjung Priok, Jakarta Selasa (2/12) pagi dan mulai pelayaran 37 jam menuju Pelabuhan Teluk Bayur di Padang, Sumatera Barat, dan kemudian bertolak ke Sibolga, Sumatera Utara.
Suasana dek penumpang cukup hangat. Semua potensi SAR membaur berbagi kisah dan pengalaman dengan dialeg khas daerah masing-masing. Ada orang Sunda, Jawa, Betawi, dan bahkan kebarat-baratan ala anak gaul Jakarta Selatan. Namun, kisah pilu korban bencana dan keinginan untuk menolong tetap menjadi topik utama.
Selepas sholat maghrib berjamaah doa-doa selamat dilantunkan untuk memperoleh ridho dari sang Ilahi. Hingga gelap dan angin malam yang kian deras menghentikan aktivitas, mereka dengan tertib mengambil tempat tidur senyamannya.
Perjalanan awal relatif berlangsung mulus. Namun, setelah melalui laut Jawa yang tenang kondisi laut berubah bergolak setibanya di Selat Semangka atau beberapa kilometer setelah meninggalkan Bakauheni, Lampung.
Malam itu, kapal berhadapan dengan gelombang setinggi 1,5-2 meter yang menghantam dari sisi lambung sisi kanan. Ini menjadi ujian pertama bagi para penumpang. Banyak dari mereka yang berlatar belakang relawan senior bahkan tenaga medis rumah sakit itu merasa mual, dan muntah karena kapal bergoyang kencang.
Ada yang canggung karena mabuk laut, ada pula yang kocak terang-terangan mencolok-colok batang leher dengan tangan untuk memuntahkan kembali rendang, ikan goreng dan sayur tumis kangkung. Dua toilet sempit 1x1,5 meter di ruang penumpang pun menjadi sasaran mereka. Sialnya, butuh waktu cukup lama menghilangkan aroma basi yang menyesaki seisi ruangan yang sejuk itu.
Beruntung Basarnas memiliki nakhoda dan para kru kapal yang andal. Seolah membuktikan mereka sangat siap menangani setiap kemungkinan dalam masa operasi darurat bencana lintas provinsi.
Di titik inilah kehadiran Ganesha yang dalam sansekerta bermakna sang "Dewa Rakyat" menjadi penentu. Kapal itu bukan sekadar alat angkut, tetapi ruang bergerak yang menjembatani jarak antara mereka yang menunggu di pengungsian dan para penyelamat yang mencari di sungai-sungai keruh, lereng perbukitan yang runtuh, hingga desa-desa pesisir yang terisolasi.
Dari geladak kanan KN SAR Ganesha, tampak sosok lelaki berparas keras berdiri menghadap Samudera Hindia. Dia adalah Teuku Sufriadi Ramadhani (51), Mualim I yang memegang kendali jaga di kapal SAR terbesar milik Basarnas itu. Dialah yang memastikan kapal tetap bergerak, dan tetap menjadi rumah aman bagi seluruh awak yang bekerja siang malam.
“Kapal ini hidup 24 jam, terus berputar shiftnya,” ujarnya pelan, suaranya hampir tenggelam oleh deru mesin. Teuku adalah pria yang sudah 18 tahun mengabdi di Basarnas.
Teuku pernah bertugas hampir di semua wilayah operasi, mulai tsunami Samudera Hindia di Aceh 2004, Gempa di Mentawai 2010, hingga situasi kritis saat jatuhnya pesawat dan kapal tenggelam di perairan Jawa bagian barat, Banten.Tetapi kali ini, Sumatera memanggilnya pulang dengan luka yang tak kalah besar dari biasanya.
Ia menceritakan pola kerja di atas Ganesha. Total ada 16 kru, dibagi menjadi tiga shift jaga: 00.00–04.00 WIB, 08.00–12.00 WIB, dan 12.00–04.00 WIB, dengan empat perwira jaga bergantian. Operasi ini dipimpin Pasundan, seorang Kapten Kapal dari Kantor SAR Jakarta.
“Kalau shift saya, kita bertemu jam 4–8 pagi. Kemudian jaga berikutnya jam 8–12 itu kebetulan Kapten, pak Pasundan. Kapal tidak boleh berhenti, operasi tidak boleh putus jalan terus,” katanya sambil tersenyum tipis.
Di balik wajah tenang itu, ada pengalaman panjang yang membentuknya.
Sebelum masuk Basarnas, Teuku sempat berlayar di kapal kargo internasional. Namun tsunami Aceh tahun 2004 mengubah arah hidupnya. “Saya pulang, melihat banyak yang butuh bantuan. Ada panggilan hati waktu itu. Tahun 2007 Basarnas buka penerimaan, saya coba dan ternyata ini jalan saya,” ucapnya.
Kini, 18 tahun kemudian, ia kembali berada dalam misi besar. Kali ini menghadap banjir bandang dan longsor yang meluluhlantakkan Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh. Dan Ganesha bukan kapal sembarangan. Teuku menyebut kapal kelas I ini sebagai “rumah dengan mata dan telinga yang tajam”.
“Kita punya dua radar, jangkauan 72 mil dan 16 mil. Ada EPIRB, ada RDF untuk mendeteksi sinyal black box bila pesawat atau kapal hilang,” jelasnya.
Namun yang paling ia banggakan adalah ROV—robot bawah air yang bisa menyelam hingga 1.000 meter, lengkap dengan lengan mekanis dan lampu bawah laut. Kalau ada korban atau objek tenggelam, ROV ini bisa mengambil gambar, memotong, bahkan mengangkat.
Semua teknologi itu kini dipersiapkan penuh, karena di beberapa sungai dan danau Sumatera Barat, sejumlah daerah di Pidie Aceh, seperti dilaporkan warga, ada kendaraan dan rumah yang terseret hingga ke dasar aliran air.
“Setiap alat kita siapkan,” kata Teuku.
Meski berpengalaman, Ganesha adalah pemain baru. Dibangun tahun 2020 oleh PT KAS di Batam, Kepulauan Riau, kapal ini baru beberapa kali berlayar operasi.
“Yang lain, kapal Wisnu, itu sudah turun di Sriwijaya Air, Kapal Selam KRI Nanggala, operasi-operasi besar. Tapi Ganesha, ini yang pertama besar,” tuturnya.
Ia menatap jauh ke depan. Diamnya mengisyaratkan ada beban moral, tapi juga kebanggaan.
Sebelum berangkat, Ganesha mengambil lima ton logistik untuk Padang, 10 ton untuk Sibolga, serta tiga unit trail serbaguna untuk menjangkau daerah yang terputus aksesnya. Sekaligus juga alat deteksi evakuasi, lengkap karena tidak tahu apa yang akan ditemui di lapangan.
Ketika ditanya pengalaman paling menegangkannya, Teuku tidak langsung menjawab. Ia menghela napas.
“Tahun 2010 kala gempa Mentawai. Gelombangnya 6 meter. Anginnya 40–50 knot. Itu yang paling saya ingat,” ujarnya.
“Kita bawa banyak penumpang waktu itu. Kondisi darurat, dan kapal masih tipe pertama 40 meter bantuan BRR Aceh. Tapi kita harus jalan. Kita harus sampai," katanya mengenang peristiwa itu.
Trauma itu tidak pernah benar-benar hilang. Tapi justru pengalaman itulah yang membuatnya yakin bahwa hari ini, apa pun kondisinya, ia dan krunya siap bergerak.
“Cuaca tak menentu kita harus siap hadapi. Yang penting adalah memastikan orang-orang yang menunggu di sana tahu bahwa kita sedang menuju mereka,” katanya.
Di kapal, semua memanggilnya Chief. Di luar, mereka memanggilnya Pak Tengku. Pria Aceh itu menganggap kru adalah keluarga. Di kapal 68 meter ini, semua harus saling menjaga tak terkecuali relawan.
“Saya selalu bilang sebelum jaga dimulai, tanya dirimu, kau siap? Kalau tidak, bilang. Jangan dipaksakan. Kita saling backup,” ujarnya.
Dalam misi kali ini, Teuku dan para perwira jaga akan bekerja tanpa jeda. Gelombang yang tidak stabil diprediksi hadir sepanjang perjalanan menuju titik-titik operasi. Namun baginya, itu bagian dari pilihan hidup.
“Kita tidak bisa memilih cuaca,” katanya sambil memandang langit yang mulai menggelap.
Tibalah di malam kedua berlayar. Lampu-lampu navigasi menyala meriah. Kapal bergoyang pelan, lalu perlahan membelah laut, meninggalkan dermaga tempat ratusan keluarga masih menunggu kabar.
Teuku berdiri terakhir sebelum masuk anjungan utama. Menurut dia, Ganesha akan terus melaju mengikuti arahan kepala operasi dan kebutuhan di lapangan.
Begitu ia melangkah ke ruang kendali, operasi kemanusiaan yang menentukan nasib ratusan warga Sumatera itu kembali berlanjut--tanpa henti, tanpa ragu, seperti nyala tekad di dada setiap awaknya.
Tanjung Priok menuju Padang, Sumatera Barat melewati Selat Sunda-Selat Semangka menuju pesisir barat lalu naik ke Bengkulu, sampai ke Padang dengan jarak tempuh sekitar 540 mil laut atau sekitar 1.000 kilometer.
Setelah menurunkan logistik dan tim SAR, kapal akan melanjutkan pelayaran menuju Pelabuhan Sibolga, Sumatera Utara, dengan estimasi 10 jam pelayaran.
Bala bantuan ini secara kuantitas memang jauh dari kata cukup tetapi melihat kondisi lapangan semua sangat berarti. Daerah terdampak sangat luas, beberapa dalam kondisi terisolir. Belum lagi sekitar 6.000 orang tim SAR gabungan yang dikerahkan di bawah koordinasi teknis Basarnas sudah kelelahan.
Untuk itu, Ganesha datang menambal celah-celah harapan yang terputus, memperkuat upaya pencarian di wilayah terdampak banjir dan longsor yang meluas di tiga provinsi besar di Sumatera.
Data sementara Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sampai dengan Senin (1/12) pukul 17.00 WIB total 604 jiwa meninggal dunia, dan 468 jiwa masih dinyatakan hilang di seluruh wilayah terdampak bencana di Sumatera.
Angka yang dingin itu hanya sebagian kecil dari luka yang lebih besar. Di balik setiap angka, ada nama yang pernah dipanggil saat makan malam, ada cerita hidup yang terhenti tiba-tiba.
Rincian korban memperlihatkan betapa luasnya dampak yang ditimbulkan. Di Sumatera Utara sebanyak 283 meninggal, 173 hilang. Aceh sebanyak 156 meninggal, 181 hilang. Sumatera Barat sebanyak 165 orang meninggal, 114 hilang.
Sementara di Sumatera Utara, gelombang pengungsian terus bertambah. Ada 15.765 jiwa di Tapanuli Utara, 2.111 jiwa di Tapanuli Tengah, 1.505 jiwa di Tapanuli Selatan, 4.456 jiwa di Kota Sibolga, 2.200 jiwa di Humbang Hasundutan, dan 7.194 jiwa di Mandailing Natal.
Mereka terpaksa bertahan di tenda-tenda darurat, gedung sekolah, balai desa, dan titik kumpul yang disulap menjadi tempat berlindung.
