Kota Bogor (ANTARA) - Guru Besar Ilmu Ekonomi Prof. Dr. Irfan Syauqi Beik, SP, MSc.Ec, yang juga Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen IPB University baru-baru ini didaulat menjadi pembicara dalam Islamic Finance Forum B20 di Afrika Selatan.
Keterangan IPB University yang diperoleh di Kota Bogor, Minggu, menyebutkan Prof. Irfan memberikan masukan terkait akselerasi pengembangan keuangan syariah di Benua Afrika, pada forum pertemuan yang berlangsung pada 19 November lalu itu.
B20 atau Business 20 merupakan forum dialog resmi dari Kelomok Negara-Negara anggota G20, dengan komunitas bisnis global. Didirikan pada tahun 2010, B20 merupakan salah satu Kelompok Keterlibatan G20 yang paling berpengaruh, yang mempertemukan para pemimpin bisnis dari negara-negara anggota G20 dan negara-negara lainnya. Untuk tahun 2025, Afrika Selatan merupakan Ketua G20
G20 adalah forum kerja sama internasional yang terdiri dari 19 negara utama dan Uni Eropa (UE) yang mewakili lebih dari 80 persen PDB dunia, 75 persen perdagangan global, dan dua pertiga populasi dunia. Ke-19 negara anggota G20 adalah Indonesia, Argentina, Australia, Brasil, Kanada, Tiongkok, Prancis, Jerman, India, Italia, Jepang, Korea Selatan, Meksiko, Rusia, Arab Saudi, Afrika Selatan, Turki, Inggris, dan Amerika Serikat, serta Uni Eropa dan Uni Afrika.
Dekan Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University, Prof. Irfan Syauqi Beik didaulat menjadi salah seorang pembicara dalam Islamic Finance Forum B20 (19/11). Prof Irfan memberikan masukan-masukan terkait akselerasi pengembangan keuangan syariah di Benua Afrika.
Saat ini berada di tangan pemerintah Afrika Selatan. Salah satu inisiatif yang dikembangkan oleh Afrika Selatan pada rangkaian KTT G20 adalah bagaimana mengoptimalkan potensi keuangan syariah, termasuk keuangan sosial syariah.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20, Islamic Finance Forum membahas sejumlah upaya penguatan regulasi dan kerja sama global terkait keuangan syariah.
"Saya sangat menyambut inisiatif ini, mengingat Afrika Selatan adalah negara berpenduduk Muslim minoritas, tetapi memiliki kesadaran yang semakin kuat untuk mengembangkan industri keuangan syariah, dan berpotensi menjadi hub keuangan syariah baru di Benua Afrika” ujar Prof Irfan.
Pada kesempatan tersebut, Prof. Irfan juga menyoroti pentingnya keuangan syariah.
Menurut Prof. Irfan, dengan kebutuhan dana 130 miliar hingga 170 miliar dolar AS, setiap tahunnya untuk pembangunan infrastruktur untuk mencapai SDGs (Sustainable Development Goals) dan menstimulasi ekonomi untuk terus tumbuh, Benua Afrika memerlukan upaya-upaya alternatif untuk menutup kebutuhan tersebut. Pemerintah negara-negara Afrika harus terus memperkuat dukungan regulasi yang ada, termasuk eksplorasi wakaf.
Dalam diskusi yang dimoderatori Ebrahim Patel (mantan Menteri Perdagangan dan Industri Afrika Selatan), dan dihadiri para pejabat senior negara-negara anggota G20 dan kalangan industri, disepakati bahwa diskursus mengenai keuangan syariah harus menjadi agenda rutin G20.
Terlebih, dampak pembangunan keuangan syariah bukan hanya untuk stabilitas sistem keuangan, melainkan juga untuk pembangunan ekonomi sektor riil, yang lebih berkeadilan.
Profesor Irfan menyebutkan peran keuangan Syariah dalam pembangunan ekonomi sektor riil meliputi pembangunan perumahan, transportasi, logistik, energi dan pengembangan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM).
Baca juga: Profesor Ilmu Konsumen IPB sebut produk bermasalah berdampak kepercayaan
Baca juga: IPB sebut mikroplastik masuk ke ibu hamil lewat tiga jalur
Baca juga: Rektor IPB: Kepemimpinan bukan soal posisi tetapi keberanian
