Kota Bogor (ANTARA) - Rektor IPB University Prof Arif Satria menyatakan bahwa kepemimpinan bukan soal posisi, tetapi soal pengaruh dan keberanian memimpin perubahan.
"Yang penting adalah kemampuan memimpin perubahan dan masa depan," katanya dalam keterangan yang diperoleh dari IPB University di Kota Bogor, Jumat.
Sebelumnya pernyataan tersebut disampaikan sebagai bekal kepada 1.090 wisudawan sarjana IPB University Program Pendidikan Sarjana Terapan dan Diploma III Sekolah Vokasi pada pekan ini.
Arif Satria yang juga Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengingatkan bahwa perubahan teknologi bergerak sangat cepat, sehingga lulusan IPB perlu terus membenahi diri agar tetap relevan.
Pengetahuan yang dipelajari lima tahun lalu, menurut Rektor, hanya relevan sekitar 60 persen untuk lima tahun mendatang.
Prof Arif juga mengulas sejumlah keterampilan masa depan yang sangat dibutuhkan dunia kerja, mulai dari berpikir analisis (analytical thinking), kelincahan (agility), kepemimpinan dan pengaruh sosial (leadership and social influence), berpikir kreatif (creative thinking), hingga memiliki kemampuan literasi teknologi (technological literacy), dan rasa ingin tahu yang tinggi.
IPB University, katanya, senantiasa melakukan perubahan, misalnya, kini telah memperbarui kurikulum berbasis kecerdasan buatan agar mahasiswa lebih siap menghadapi perubahan.
Rektor juga menyoroti program on boarding yang disediakan untuk alumni yang belum bekerja setelah enam bulan lulus. Mereka dapat kembali ke kampus untuk mengikuti reskilling secara gratis. Hasilnya, 98 persen peserta berhasil mendapatkan pekerjaan setelah pelatihan.
"Lulusan IPB harus dikenal sebagai pribadi tangguh, berkarakter, dan dapat diandalkan oleh dunia kerja," kata Prof Arif.
Prof Arif mengajak wisudawan terus bermimpi, bekerja keras, dan menghadirkan karya nyata bagi masyarakat.
"Inspirasi bisa datang lewat kata-kata, tetapi yang terbaik tetap lewat karya," katanya.
Baca juga: Presiden terbuka kritik "Indonesia Gelap" tetapi optimistis
Baca juga: Rektor tanggapi soal guru besar IPB dilaporkan usai hitung kerugian lingkungan kasus timah
Baca juga: Rektor IPB sebut pendidikan inklusif fondasi utama kemajuan bangsa
