Jakarta (ANTARA) - Kabut turun perlahan di Entikong pagi itu, menutup separuh pandangan seperti lembar buku yang belum dibuka.
Di perbatasan negeri, hari tidak pernah benar-benar dimulai dari nol tapi lebih selalu menyambung dari cerita hari kemarin.
Tak ubahnya langkah-langkah patroli malam, suara mesin yang melintas di garis batas, atau bahkan laporan warga yang datang tiba-tiba. Dari situlah Entikong selalu hidup, senantiasa bernapas, meski kesunyiannya sering menipu.
Rabu, 12 November 2025, Tim Pengawasan Orang Asing (Timpora) menggelar rapat koordinasi di Aula Kantor Imigrasi Kelas II TPI Entikong, Kalimantan Barat.
Secara formal kegiatan ini terlihat seperti pertemuan rutin, sebagaimana kolaborasi dengan aparat penegak hukum, diskusi lintas instansi, pemetaan isu keimigrasian, dan strategi pengawasan.
Namun sebenarnya, di balik meja rapat dan paparan data, terdapat cerita-cerita tentang keberanian, kerja sama, bahkan keteguhan yang boleh jadi tidak pernah masuk berita yang dibaca di kota-kota besar.
Maka tak banyak yang menyadari bahwa dinamika Entikong dan Sekayam tidak sederhana. Mobilitas lintas batas sangat tinggi, jalan tikus membentang di antara hutan, dan pergerakan orang asing tidak selalu terlihat kasat mata.
Rapat ini menjadi forum strategis untuk menggabungkan semua potongan informasi menjadi peta situasi yang lengkap. Di sanalah negara hadir dalam bentuk paling konkret, koordinasi.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II TPI Entikong Henry Dermawan Simatupang memaparkan tantangan terkini dalam pengawasan orang asing. Namun wawasan yang muncul dalam rapat itu datang bukan hanya dari satu instansi atau satu pandangan. Setiap suara membawa perspektif lapangan yang berbeda.
Misalnya saja, aparat dari sisi keamanan darat menjelaskan pola pergerakan di sekitar jalur tidak resmi. Mereka menggambarkan bagaimana pergeseran rute terjadi dari waktu ke waktu, kadang karena faktor medan, kadang karena sindikat yang sengaja mengalihkan jalur untuk menghindari petugas.
Dari sisi kepolisian, bisa saja muncul pemetaan baru tentang modus penyalahgunaan izin tinggal. Ada saja orang asing yang datang dengan visa wisata, tetapi secara diam-diam bekerja tanpa izin. Ada pula yang tampak melintas sebagai pelancong biasa, padahal memiliki keterkaitan dengan jaringan tertentu.
Perwakilan pemerintah kecamatan sering menambahkan cerita lain, contohnya pernah ada laporan masyarakat tentang wajah-wajah baru di pemukiman, mobil mencurigakan di malam hari, atau pergerakan kelompok tertentu di sekitar kebun sawit. Informasi kecil ini sering menjadi kunci yang menghubungkan potongan besar lain dalam investigasi.
Dari pihak intelijen, analisis situasi lebih luas biasanya akan ditampilkan. Mereka juga sudah sering mengingatkan bahwa pergerakan orang asing tidak selalu berkaitan dengan pelanggaran administratif, kadang ada kaitan dengan kegiatan ekonomi ilegal, penyelundupan barang, hingga eksploitasi manusia.
Lintas batas
Dari semua suara itu, semakin tergambar jelas bahwa negara bekerja melalui jejaring, bukan garis komando tunggal.
Ketika semua informasi disatukan, pemerintah memiliki peta penuh tentang siapa, di mana, bagaimana, dan apa yang harus diantisipasi. Inilah esensi Timpora yang bukan sekadar rapat, tetapi kerja lintas batas tugas.
Namun perbatasan tidak hanya dijaga melalui diskusi. Ada kisah-kisah yang lahir dari hening lapangan, kisah yang tidak memiliki panggung selain senter kecil dan suara langkah petugas yang mengayuh tanah lembap.
Beberapa waktu sebelum rapat itu misalnya, patroli gabungan pernah menemukan sekelompok orang asing di jalur hutan yang gelap.
Mereka tampak lelah, tidak mengerti ke mana harus melangkah. Ada dugaan bahwa mereka adalah korban perdagangan manusia, mereka ditinggalkan begitu saja oleh para pelaku ketika menyadari patroli semakin ketat.
Dalam sunyi hutan itu, petugas berdiri bukan hanya sebagai penjaga batas, tetapi sebagai penyelamat bagi manusia-manusia yang dibawa oleh nasib buruk.
Ada pula kisah tentang seorang asing yang nyaris pingsan di jalur sempit, hanya ditemani semak dan cahaya yang redup. Tanpa dokumen dan tanpa tempat kembali, ia bukan hanya pelintas ilegal, tetapi seseorang yang sedang kehilangan arah.
Dalam momen seperti itu, tugas negara berubah bentuk dari mengawasi menjadi memberi perlindungan.
Cerita-cerita dari lapangan itu dibawa ke forum, bukan sebagai dramatisasi, melainkan sebagai pengingat bahwa setiap keputusan, sekecil apa pun, memiliki dampak pada nyawa.
Ketika diskusi kembali mengalir, Henry menegaskan peran inti Timpora. Pengawasan tidak cukup hanya dilakukan di pos resmi. Timpora perlu jejaring yang kuat, antarinstansi, dengan masyarakat, dengan siapa pun yang peduli pada keamanan wilayah ini.
Pernyataan itu menggambarkan realitas penting di perbatasan bahwa kekuatan terbesar bukan pada pagar atau senjata, melainkan pada keterhubungan.
Petugas keamanan menambahkan bahwa patroli gabungan kini tidak lagi bersifat simbolis. Informasi yang dikumpulkan dari masyarakat, aparat desa, dan petugas lintas sektor menjadi petunjuk yang menuntun mereka pada titik-titik rawan.
Menjemput risiko
Dari perwakilan kecamatan juga kerap kali muncul pengakuan jujur bahwa masyarakat adalah lapisan pertama dan paling tajam dalam pengawasan.
Warga mengenali ritme daerahnya karena mereka yang paling dulu tahu jika ada sesuatu yang berubah. Laporan-laporan kecil dari mereka pun kerap menjadi kunci membongkar potensi pelanggaran. Tanpa masyarakat, perbatasan akan kehilangan nalurinya.
Dari seluruh diskusi dalam pertemuan itu, tergambar jelas bahwa negara tidak sedang menunggu pelanggaran datang.
Negara bergerak lebih dulu, menjemput risiko sebelum menjadi masalah, membangun langkah-langkah pencegahan sebelum ancaman berubah menjadi peristiwa besar.
Entikong, bersama Sekayam dan wilayah sekitarnya, adalah panggung kecil namun penting sebagai tempat negara diuji. Perbatasan bukan garis yang memisahkan, tetapi ruang yang memperlihatkan sejauh mana negara mampu melindungi warganya.
Rapat Timpora hari itu memang tanpa kemeriahan, tanpa seremonial berlebihan. Namun justru dalam kesederhanaan itulah negara bekerja secara paling jujur yang tenang, terukur, penuh tanggung jawab.
Ketika forum berakhir, kesadaran tertinggi yang muncul bukan tentang ancaman, tetapi tentang kebersamaan. Bahwa kedaulatan tidak dijaga oleh satu pihak, tetapi oleh banyak pihak yang memutuskan untuk berjalan dalam satu irama.
Perbatasan adalah ruang yang mengajarkan betapa pentingnya saling percaya, saling mendukung, dan saling menguatkan.
Di Entikong, garis terluar negara dijaga bukan oleh tembok, tetapi oleh manusia yang bekerja dalam diam, berjalan di antara kabut, menembus hutan, memeriksa setiap dokumen, dan mendengar setiap laporan warga.
Dan di antara usaha sunyi itu, Indonesia berdiri tegak. Dijaga oleh tangan-tangan yang tak selalu terlihat, tetapi selalu hadir ketika negara memanggil.
