Beijing (ANTARA) - Pemerintah China mengatakan tetap mendukung Kuba sebagai negara yang berdaulat di tengah ancaman Presiden Amerika Serikat Donald Trump.
"China dengan tegas mendukung Kuba dalam menjaga kedaulatan dan keamanan nasional serta menentang campur tangan eksternal," kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri China Mao Ning dalam konferensi pers di Beijing pada Senin (12/1).
Presiden AS Donald Trump sebelumnya menyebut Kuba sebagai salah satu kemungkinan target kebijakan pemerintahannya. Trump bahkan mengatakan bahwa negara Karibia tersebut “siap untuk tumbang.”
"Kami mendesak AS untuk segera menghentikan blokade, sanksi dan pemaksaan dalam segala bentuk terhadap Kuba, dan bertindak dengan cara yang kondusif bagi perdamaian dan stabilitas regional," tambah Mao Ning.
Menanggapi ancaman Trump, Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel mengatakan, Kuba adalah negara yang bebas, merdeka, dan berdaulat, dan menolak tuduhan Trump bahwa negara kepulauan itu memberikan "layanan keamanan" kepada Venezuela sebagai imbalan atas minyak.
Diaz-Canel di platform media sosial X, Minggu, mengatakan bahwa AS "tidak memiliki otoritas moral untuk menuduh Kuba dalam hal apa pun", seraya menambahkan bahwa pihak AS mengubah segalanya, bahkan nyawa manusia, menjadi bisnis.
Presiden Kuba itu mengatakan bahwa AS "berlebihan" dalam menanggapi negara Karibia tersebut karena keputusan berdaulat rakyat Kuba untuk memilih model politik mereka.
Menurut Diaz-Canel, Kuba tidak menyerang atau mengancam negara lain, dan menambahkan bahwa negaranya siap mempertahankan diri "hingga tetes darah terakhir."
Sedangkan Menteri Luar Negeri (Menlu) Kuba Bruno Rodriguez menuduh AS mengandalkan kekuatan dan agresi selama lebih dari enam dekade serta menegaskan negaranya akan terus mempertahankan kedaulatannya dari tekanan Washington.
Rodriguez menyampaikan melalui platform media sosial X bahwa Washington telah "menggunakan kekuatan dan agresi terhadap Kuba selama 67 tahun" seraya menambahkan bahwa AS berupaya "memaksakan kehendaknya atas hak-hak negara berdaulat".
Ia menggambarkan kekuatan AS bertumpu pada “kekuatan militer yang sangat besar dan skala ekonominya,” serta apa yang ia sebut sebagai “pengalaman luas dalam agresi dan kejahatan.”
Sebaliknya, Rodriguez menegaskan, di sisi Kuba terdapat landasan yang berbeda. Menurutnya, “di pihak kami ada akal sehat, hukum internasional, dan semangat patriotik seluruh rakyat.”
Ia menekankan bahwa rakyat Kuba tidak akan menyerahkan kedaulatannya. “Kami, rakyat Kuba, tidak siap menjual negara kami atau menyerah pada ancaman dan pemerasan,” ujarnya.
Rodriguez juga mengatakan bahwa Havana tidak akan melepaskan “hak prerogatif yang tidak dapat dicabut,” yang digunakan untuk membangun “masa depan sendiri, hidup damai bersama masyarakat dunia.”
Baca juga: Kuba sebut 32 tentaranya tewas pada serangan besar AS di Venezuela
Baca juga: Kuba: AS terlibat dalam genosida di Israel
