Jakarta (ANTARA) - “Proclaiming a state of emergency in Baku and sending the army to the city was the biggest mistake of my political life,” kata mantan Presiden Uni Sovyet, Mikhail Gorbachev,  pada tahun1995.

Dalam satu pernyataan yang disiarkan pada 3 Februari 1995, Presiden Soviet saat itu, Mikhail Gorbachev, menyatakan sebelum tentara tiba di Baku, lembaga tertinggi Soviet Azerbaijan dan lembaga-lembaga politik lainnya lumpuh.

Puluhan orang menjadi korban akibat aksi para ekstremis, kekuasaan telah digulingkan oleh kekuatan di beberapa kawasan, bagian seluas 200 kilometer Soviet yang berbatasan dengan Iran telah dirusak, dan keadaan darurat diberlakukan untuk mencegah aksi-aksi kejahatan dan perampokan.

Menyaksikan keadaan tersebut, Presiden Gorbachev mengumumkan keadaan darurat di Baku, Azerbaijan, dan mengirim tentara ke kota itu. Tentara Soviet menyerbu Baku atas perintahnya sebagai usaha untuk menyelamatkan pemerintahan komunis dan memadamkan gerakan kemerdekaan Azerbaijan.

Presiden Gorbachev mengakui keputusannya tersebut merupakan kesalahan terbesar dalam kehidupan politiknya (Graeme H. Wilson, Ilham: Portrait of a President, 2011).

Pengumuman Gorbachev itu disampaikan setelah lima tahun sejak peristiwa tragis terjadi di Baku, ibu kota Azerbaijan, pada 20 Januari 1990. Hari itu dikenal sebagai Januari Hitam atau Hari Para Martir menandai babak gelap dalam sejarah bangsa tersebut ketika kejahatan terhadap umat manusia dilakukan.

Apa yang dikatakan oleh Gorbachev adalah pernyataan yang keluar dari seorang politisi. Namun, bagi para keluarga korban tewas akibat peluru tentara Soviet, dan hampir seribu warga sipil yang terluka, diagnosis politik seperti itu akan sulit difahami.

Sudah 36 tahun berlalu sejak peristiwa tragis itu terjadi. Januari Hitam secara luas dianggap sebagai momen krusial dalam perjuangan kemerdekaan Azerbaijan, menandai awal dari pemisahan negara tersebut dari kendali Soviet selama 70 tahun.

Meskipun waktu telah berlalu, kenangan atas pembantaian ini tetap hidup di hati rakyat Azerbaijan, dan hari tersebut diperingati setiap tahun sebagai pengingat pengorbanan yang dilakukan demi kebebasan negara.

Sebelum tragedi tersebut, klaim teritorial Armenia yang tidak berdasar terhadap Azerbaijan pada akhir 1980an dengan dukungan dari kepemimpinan Soviet, berkontribusi pada munculnya gerakan anti-Soviet di Azerbaijan.

Hal ini mendorong rakyat Azerbaijan untuk membela kedaulatan teritorial mereka, dan gerakan tersebut akhirnya berkembang menjadi perjuangan pembebasan nasional.

Tentara Soviet dikirim ke negara itu untuk menekan gerakan nasional dan mematahkan keinginan rakyat Azerbaijan akan kemerdekaan.

Presiden Gorbachev berdalih bahwa pengiriman tentara ke Baku dan kawasan-kawasan lain di Azerbaijan yang merupakan wilayah Uni Soviet untuk mencegah bahaya-bahaya lebih besar.

Pada malam 19–20 Januari 1990, pasukan Soviet memasuki Baku dan wilayah lain di Azerbaijan, melakukan pembunuhan massal dengan kekejaman dan brutalitas ekstrem.

Akibat pembantaian tersebut, 147 orang tewas, dan 744 orang terluka. Korban termasuk perempuan, anak-anak, orang lanjut usia, serta petugas darurat. Selain itu, lebih dari 800 warga sipil ditangkap, dan banyak di antaranya kemudian dipenjara di berbagai kota Soviet.

Pada 21 Januari 1990, Heydar Aliyev, Pemimpin Nasional Azerbaijan, dengan tegas mengutuk kekejaman yang dilakukan oleh rezim Komunis di Azerbaijan dan menuntut hukuman bagi para pelaku tindakan berdarah tersebut.

Bertahun-tahun kemudian, atas inisiatifnya, penilaian politik dan hukum diberikan terhadap tragedi ini. Pada 1994, Parlemen Azerbaijan secara resmi mengakui peristiwa tersebut sebagai agresi militer dan kejahatan terhadap rakyat Azerbaijan.

Setiap tahun, 20 Januari diperingati sebagai Hari Berkabung Nasional Azerbaijan, ketika ribuan orang mengunjungi Lorong Para Martir untuk memberikan penghormatan dengan meletakkan bunga dan berdoa bagi para korban, menghormati pengorbanan yang dilakukan demi kebebasan dan kedaulatan negara.

Perkuat semangat nasional

Di bawah Presiden Ilham Aliyev, kemenangan Azerbaijan dalam Perang Patriotik 2020, serta operasi sukses pada September 2023, semakin memperkuat semangat nasional dan membawa kedamaian bagi jiwa para martir tragedi ini.

Pada 8 Nopember 2020, pasukan Azerbaijan membebaskan kota strategis Shusha, ibukota budaya Azerbaijan, di wilayah Nagorno-Karabakh dari pendudukan illegal oleh Armenia.

Pasukan Armenia merebut kendali Shusha pada 8 Mei 1992. Kota ini tetap berada di bawah pendudukan brutal hingga 8 Nopember 2020.

Menanggapi agresi Armenia di beberapa kota besar dan kecil, Azerbaijan melancarkan serangan balik di bawah operasi “Tinju Besi” pada 27 September 2020 dan membebaskan tanahnya serta mengalahkan Armenia selama 44 hari perang sengit, yang berakhir dengan gencatan senjata yang ditengahi Rusia pada 10 November 2020.

Tentara Azerbaijan yang berani membebaskan kota Jabrayil, Fizuli, Zangilan, Gubadli, Minjivan, Agband, permukiman Bartaz di wilaayah Zangilan, permukiman Hadrut dan banyak desa di wilayah Khjavend, desa Sugovushan di wilayah Tartar.

Lebih dari 300 permukiman, termasuk bukit-bukit strategis penting arah Aghdara, Murovdagh dan Zangilan, dibebaskan dari pendudukan. Pada 8 November, Shusha yang sangat penting dan merupakan makna simbolis bagi rakyat Azerbaijan, dibebaskan dari pendudukan.

Kemenangan atas Armenia datang dengan biaya yang sangat tinggi serta pengorbanan tentara dan rakyat Azerbaijan. Menurut kantor berita Anadolu Agency (AA) dari Turki, 2.908 tentara Azerbaijan menjadi martir dan enam dilaporkan hilang selama 44 hari perang Azerbaijan-Armenia.

Sekitar 94 warga sipil Azerbaijan termasuk banyak anak-anak, wanita dan orang tua tewas dalam perang ini.

Pada 10 November 2020, Azerbaijan dan Armenia menandatangani perjanjian yang ditengahi oleh Rusia untuk mengakhiri pertempuran dan mulai bekerja menuju penyelesaian sengketa yang komprehensif.

Pernyataan yang ditandatangani oleh Presiden Aliyev, Perdana Menteri Armenia Nikolai Pashinyan dan Presiden Rusia Vladimir Putin juga mengumumkan pembangunan komunikasi transportasi baru yang menghubungkan Republik Otonomi Nakhchivan dan wilayah barat Azerbaijan.

Kemudian 1.960 pasukan penjaga perdamaian Rusia dikerahkan di sepanjang koridor Lachin dan di sepanjang jalur kontak sementara Nagorno-Karabakh. Namun keberhasilan militer hanyalah permulaan.

Pada tahun-tahun berikutnya, Azerbaijan melakukan usaha-usaha rekonstruksi besar di kawasan-kawasan yang dibebaskan dan terlibat dalam diplomasi guna menjamin perdamaian lestari, Setelah negosiasi-negosiasi yang berlangsung lama, usaha-usaha ini mencapai satu tonggak sangat penting (milestone) pada 8 Agustus 2025.

Kedua negara itu menandatangani persetujuan perdamaian komprehensif di New York dengan bantuan AS. Dokumen bersejarah ini tidak hanya menormalisasi hubungan antara Azerbaijan dan Armenia tetapi juga membuka babak baru stabilitas dan kerjasama di kawasan itu.

Azerbaijan dan Armenia adalah tetangga dan keduanya adalah bagian dari Uni Soviet setelah runtuhnya Uni Soviet, keduanya menjadi negara merdeka pada tahun 1991.

Menurut situs caspiannews.com, Armenia dan Azerbaijan telah terlibat konflik bersenjata selama hampir 30 tahun atas Nagorno-Karabakh, wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.

Armenia melancarkan agresi militer besar-besaran terhadap Azerbaijan pada tahun 1991. Perang berdarah berlangsung sampai gencatan senjata pada tahun 1994 dan Armenia menduduki 20 persen wilayah Azerbaijan yang diakui secara internasional.

Lebih 30.000 orang Azerbaijan terbunuh dan 1 juta orang diusir tanah-tanah tersebut dalam kebijakan pembersihan etnis brutal yang dilakukan Armenia.

Meskipun DK Keamanan PBB mengadopsi empat resolusi pada tahun 1993 yang menuntut penarikan segara pasukan pendudukan dari tanah Azerbaijan dan kembalinya pengungsi Azerbaijan ke tanah leluhur mereka, Armenia gagal mematuhi keempat surat PBB yang mengikat secara hukum.

Organisasi untuk Keamanan dan Kerjasama di Eropa (OSCE) Minsk Group yang diketuai bersama oleh Perancis, Rusia dan Amerika Serikat melakukan upaya untuk menemukan solusi damai untuk konflik tersebut. Tetapi tidak berhasil.

Ketua bersama Minsk Group yang mengunjungi kedua negara secara berkala dan bertemu dengan pihak-pihak berwenang, tidak lebih mengeluarkan peringatan kepada para pihak untuk mematuhi senjata senjata setiap saat.

Organisasi Kerjasama Islam (OKI) juga mengeluarkan beberapa pernyataan untuk penarikan pasukan Armenia dari wilayah pendudukan Azerbaijan. Armenia menolak untuk mundur dari Nogorno-Karabakh.

Para pengamat termasuk Veeramalla Anjaiah, penulis buku Azerbaijan Seen from Indonesia mengatakan Azerbaijan dengan produk domestik bruto (PDB) sebesar 74.4 miliar dolar AS dan dengan 10,3 juta penduduk, jauh lebih besar daripada Armenia.

Sebagai negara mayoritas Muslim dan banyak cadangan minyak dan gas, Azerbaijan telah menginvestasikan miliaran dolar untuk memodernisasi militernya sementara Armenia sangat bergantung pada senjata Rusia yang sudah ketinggalan zaman.

Turki telah memperluas dukungan politik penuhnya ke Azerbaijan selama perang 2020.

Di bawah kepemimpinan yang cakap dan Panglima Tertinggi Presiden Ilham Aliyev, militer Azerbaijan telah mencapai keberhasilan yang luar biasa dengan membebaskan kawasan Karabakh dari pendudukan Armenia.

Ilham: A Portrait of a President karya Graeme H. Wilson, adalah buku biografi pertama tentang Ilham Aliyev yang diterbitkan dan disirkulasikan secara internasional dan berisi potret putera Hayder Aliyev itu sebagai seorang negarawan yang membangun negaranya dengan berbagai pencapaian dan keajaiban di bidang ekonomi di era modern.

Di dalam buku setebal 520 halaman ini, kejadian 20 Januari 1990 di Baku dilukiskan dengan narasi human interest berlatar belakang geopolitik beserta foto-foto pendukungnya sebelum keruntuhan Uni Soviet.

Ini melambangkan perjuangan Azerbaijan demi kebebasan dan kemerdekaan. Meskipun tragedi itu terjadi, tekad rakyat tetap tak tergoyahkan, dan pengorbanan para martir menjadi titik balik dalam sejarah bangsa.


*) M Anthoni adalah wartawan Perum LKBN ANTARA sejak 1990 hingga 2019.

Pandangan dan opini yang dinyatakan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan atau posisi resmi Kantor Berita ANTARA.


 



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026