Sumedang (ANTARA) - Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) Republik Indonesia segera menyiapkan upaya pemetaan sebagai bagian dari langkah awal revitalisasi Keraton Sumedang Larang yang berada di Kabupaten Sumedang, Jawa Barat.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon di Sumedang, Sabtu, mengatakan bahwa pemetaan tersebut dilakukan sebagai dasar perencanaan revitalisasi keraton dan kesultanan di Indonesia sesuai dengan arahan Presiden Prabowo Subianto.
“Ya, tentu Keraton Sumedang Larang ini akan direvitalisasi. Kita lakukan pemetaan terlebih dahulu sesuai dengan amanah Presiden untuk melakukan revitalisasi keraton dan kesultanan se-Indonesia yang memang memiliki sejarah,” jelasnya.
Dirinya menjelaskan pemetaan diperlukan untuk mengetahui kondisi bangunan, koleksi, serta aspek sejarah yang perlu diperkuat sebelum dilakukan perbaikan fisik maupun pengembangan fungsi keraton sebagai pusat kebudayaan.
Ia juga menambahkan bahwa Keraton Sumedang Larang ini sendiri memiliki potensi budaya sangat besar dengan salah satu bukti peradaban, yakni Mahkota Binokasih yang diperkirakan memiliki nilai sekitar Rp16 miliar.
“Keraton Sumedang Larang harus dikenal sebagai bagian dari peradaban dunia dengan potensi budaya yang luar biasa, salah satunya Mahkota Binokasih yang terbuat dari emas dengan berat mencapai delapan kilogram,” jelasnya.
Mahkota yang sering juga disebut Mahkota Sanghyang Pake ini sendiri merupakan bagian dari sejarah panjang sejak era Kerajaan Pajajaran yang diserahkan kepada Sumedang Larang sebagai simbol penerusan kekuasaan setelah era Pajajaran runtuh.
Ia menyebut mahkota ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan sebagai produk budaya unggulan bertaraf dunia dengan syarat didukung oleh kerangka cerita sejarah yang jelas, narasi dan literasi yang kuat.
"Mahkota emas di Keraton Sumedang Larang ini bisa menjadi produk budaya unggulan seperti lukisan Monalisa, tetapi harus ada kerangka cerita, narasi, literasi yang kuat, serta kemasan yang menarik," jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, ia menjelaskan telah memperkuat narasi sejarah dan pengetahuan mengenai Sumedang Larang melalui penulisan ulang buku sejarah guna memperkuat identitas dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya sejarah kerajaan di wilayah tersebut.
"Kemarin kami telah menyelesaikan sebelas jilid buku sejarah nasional, dan tahun ini akan dimulai penulisan sejarah kerajaan-kerajaan besar, termasuk Sumedang Larang sebagai bagian dari kesinambungan sejarah Sunda," ujarnya.
Ia juga berharap Sumedang ke depan tidak lagi dipandang sekadar sebagai daerah transit, tetapi berkembang menjadi destinasi budaya, sejarah, religi, alam, dan kuliner dengan narasi yang kuat.
Baca juga: Menbud Fadli Zon tegaskan komitmen revitalisasi Museum Situs Pasir Angin Bogor
Baca juga: Kemenbud dukung Sulawesi Tengah jadi pintu gerbang informasi seribu megalit
