Moskow (ANTARA) - Sekitar 200 warga sipil dilaporkan terjebak di dalam terowongan bawah tanah Jalur Gaza, dan pemerintah Turki tengah berupaya memastikan mereka dapat dipulangkan dengan selamat, menurut laporan Reuters yang mengutip pejabat tinggi Turki.
“Kami sedang berupaya memastikan jalur aman bagi sekitar 200 warga sipil Gaza yang saat ini terjebak di terowongan,” kata pejabat tersebut kepada kantor berita Reuters.
Sebelumnya, Financial Times melaporkan bahwa Amerika Serikat menekan Israel agar mengizinkan 150 anggota pejuang kelompok Hamas keluar dari terowongan Gaza dengan imbalan pelucutan senjata mereka.
Menurut laporan tersebut, para militan itu bersembunyi di bawah tanah di bagian selatan Jalur Gaza, tetapi masih berada di dalam “garis kuning” yang dikendalikan oleh pasukan Israel sebagai bagian dari perjanjian gencatan senjata.
Perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Hamas di Jalur Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober. Berdasarkan kesepakatan tersebut, Hamas membebaskan 20 sandera yang ditahan sejak 7 Oktober 2023, sehingga seluruh sandera yang masih hidup telah dibebaskan.
Sebagai balasan, Israel membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina, termasuk mereka yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup.
Saat ini, Hamas tengah mengembalikan jenazah para sandera yang meninggal selama masa penahanan. Hingga kini, pihak Palestina telah menyerahkan 22 jenazah sandera yang telah berhasil diidentifikasi kepada Israel.
Menurut data pemerintah Israel, masih terdapat enam jenazah sandera lainnya yang belum ditemukan dan diyakini masih berada di Gaza.
Gencatan senjata di Jalur Gaza cukup rapuh, karena itu semua pihak diminta untuk tidak berpuas diri, kata Perwakilan Tetap Rusia untuk PBB Vassily Nebenzia dalam wawancara dengan RIA Novosti.
"Semua orang (di PBB) fokus (pada Gaza) karena tragedi mengerikan telah terjadi di sana selama dua tahun ini. Syukurlah gencatan senjata telah tercapai. Namun, situasinya masih cukup rapuh, sehingga kita tidak boleh berpuas diri. Gencatan senjata ini harus dipertahankan," ujarnya.
Baca juga: Rusia: Gencatan senjata di Gaza rapuh
Nebenzia menekankan bahwa langkah penting tersebut tidak boleh membuat dunia melupakan “hal-hal baik”, yakni solusi dua negara untuk masalah Palestina, yang telah menjadi mandat PBB yang belum terpenuhi selama 80 tahun.
Perjanjian gencatan senjata antara Israel dan gerakan Palestina Hamas di Jalur Gaza mulai berlaku pada 10 Oktober.
Sebagai bagian dari perjanjian dengan Israel ini, Hamas membebaskan 20 sandera yang telah ditahan di Gaza sejak 7 Oktober 2023. Dengan demikian, seluruh sandera yang masih hidup telah dibebaskan.
Sebagai balasan, Israel membebaskan sekitar 2.000 tahanan Palestina dari penjara, termasuk narapidana yang dijatuhi hukuman penjara seumur hidup dalam kasus tuduhan terorisme.
Menurut posisi Rusia, penyelesaian konflik hanya dapat dicapai berdasarkan formula yang disetujui Dewan Keamanan PBB, yaitu pembentukan negara Palestina dengan batas-batas wilayah seperti pada tahun 1967 dan Yerusalem Timur sebagai ibu kotanya.
PBB pada Senin mengatakan bahwa Israel masih terus membatasi masuknya bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza, meski gencatan senjata telah berlaku sebulan.
Baca juga: PBB: Israel masih batasi bantuan ke Gaza meski gencatan senjata telah berlaku sebulan
Mengutip Kantor Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA), juru bicara PBB Farhan Haq mengatakan dalam konferensi pers bahwa "satu bulan setelah gencatan senjata, upaya untuk meningkatkan bantuan masih terhambat oleh birokrasi".
Selain itu, ujar Haq, Israel masih berlakukan larangan terhadap mitra kemanusiaan utama, dan membuka hanya sedikit penyeberangan dan rute bantuan, serta masih berlanjutnya ketidakamanan meskipun ada gencatan senjata.
Menurut Haq, timnya masih harus mengkoordinasikan terlebih dahulu untuk setiap pergerakan dengan otoritas Israel di beberapa wilayah.
"Israel hanya memfasilitasi hanya dua dari delapan upaya bantuan secara keseluruhan dan "empat di antaranya terhambat di lapangan — termasuk satu yang tertunda selama 10 jam sebelum tim akhirnya mendapat lampu hijau untuk bergerak."
Haq mengatakan PBB dan mitranya "memanfaatkan setiap peluang untuk memperluas operasi" meskipun tantangan terus berlanjut.
Baca juga: Delapan negara siap tangkap Benjamin Netanyahu atas tuduhan kejahatan perang
Ketika ditanya tentang hambatan dalam membuka lebih banyak penyeberangan perbatasan, ia mengatakan hambatannya terletak pada Israel.
"Ya, hambatannya ada di pihak Israel. Kami sudah meminta dan berusaha berkoordinasi dengan mereka untuk membuka lebih banyak penyeberangan, tetapi mereka masih belum melakukannya," ujarnya.
Sejak Oktober 2023, perang genosida Israel telah menewaskan lebih dari 69.000 orang dan melukai lebih dari 170.600 orang, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.
Sumber: Sputnik-OANA/Sputnik-RIA Novosti/Anadolu
Baca juga: PBB sebut Israel tolak 100 lebih permintaan bantuan ke Jalur Gaza sejak gencatan
Baca juga: Mesir gelar konferensi rekonstruksi Gaza pada akhir November
