Jakarta (ANTARA) - Jumat (7/11) pagi, jarum jam belum menunjuk angka enam, tetapi kesibukan di sejumlah ruang Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Jalan Akses Tol Cilegon Timur, Kedaleman, Cilegon, Banten, sedang mencapai puncaknya.
Tidak kurang 51 pekerja dengan penutup rambut, sarung tangan, hingga alas kaki steril dikerahkan. Kompor-kompor menyala, asap mengepul dari ruang penanak nasi di sebelah tempat pengemasan.
Dari tempat inilah, setiap pagi, lebih dari 3.000 porsi menu Makan Bergizi Gratis (MBG) didistribusikan ke 12 sekolah, yakni empat TK, tujuh SD, dan satu SMP di Cilegon.
Hal yang mungkin tak banyak diketahui publik adalah, perjalanan itu dimulai jauh sebelum Matahari terbit. Saat mayoritas warga Kedaleman terlelap, koki dan tim dapur justru bekerja sejak pukul 01.00 WIB.
"Masaknya jam satu malam. Jam tiga sudah mulai pemorsian,” kata Asisten Lapangan SPPG Kedaleman Imam Marif Maulana.
Sejak program MBG dari Presiden Prabowo Subianto dan Wapres Gibran Rakabuming Raka ini resmi beroperasi pada 14 Oktober 2025, seluruh bahan masakan dipasok dari distributor lokal yang tiba di dapur sejak 12 jam sebelumnya. Tidak ada yang terburu-buru, tetapi semuanya dilakukan dengan presisi.
Untuk menjamin kualitas dan keamanan pangan, diberlakukan prosedur standar operasional (SOP) yang ketat sejak proses penerimaan bahan makanan.
Selain kelengkapan administrasi, proses penerimaan barang harus sesuai jadwal serta kualitas fisik yang baik. Berikutnya, pemeriksaan fisik, di mana petugas wajib memastikan bahan tidak rusak, tidak kedaluwarsa, dan jumlahnya sesuai dengan yang dipesan.
Tahap penting berikutnya adalah pemeriksaan kualitas, yang mengharuskan uji organoleptik, meliputi penciuman (bau), pengecapan (rasa), dan penglihatan (warna), serta pengecekan suhu pada bahan.
Pagi itu, dua orang koki mengangkat nampan berisi nasi panas dari dalam mesin steamer. Tekstur nasinya pulen, putih mengkilat, dan rasa yang lezat.
Berbeda dengan rice cooker yang memasak nasi dengan cara merebus, steamer menggunakan uap untuk mematangkan butiran beras, sehingga kadar pati dan gula menjadi lebih rendah.
Di ruang pemorsian, belasan petugas fokus mengisi lima kolom "tray" seukuran 22 X 25 Cm, masing-masing satu potong ayam kari, satu porsi nasi, lima potong tahu kecap, hingga dua irisan mentimun, lengkap dengan lima butir lengkeng dan satu kotak kecil susu sapi kemasan.
Seluruhnya dikemas secara rapi dalam tumpukan tray setinggi 1,5 meter, hingga siap untuk didistribusikan ke sekolah tujuan.
Ahli gizi
Di dapur SPPG Kedaleman, setiap porsi menu MBG memiliki takaran, bukan perkiraan. Setiap porsi telah melalui perhitungan dan pengawasan ketat dari seorang ahli gizi.
Ana Herliana, ahli gizi yang bertugas di dapur itu, menyebut bahwa seluruh menu MBG mengikuti petunjuk teknis yang telah ditetapkan pemerintah. Standar porsi yang dipakai, bukan sekadar "kenyang", tetapi didasari atas kebutuhan kalori, sesuai usia dan kelompok sasaran.
Dapur ini menyiapkan dua jenis porsi, ukuran kecil untuk siswa TK hingga SD kelas 3 dan porsi besar untuk SD kelas 4 hingga SMP. Hari ini, targetnya 3.049 porsi.
Ana menjelaskan bahwa dalam juknis MBG, pembagian kelompok umur sebenarnya hanya dua, tapi pembagian sasaran menu dibagi lebih rinci, menjadi delapan level.
Untuk anak-anak TK atau PAUD, porsinya berada di angka 328 kalori per porsi. Sementara, untuk siswa SD kelas 1–3, porsi dinaikkan menjadi 368,8 kalori, dan untuk kelas 4–6 meningkat lagi menjadi 531 kalori.
Kebutuhan nutrisi terus bertambah pada siswa SMP yang menerima menu sebesar 719 kalori per porsi, bagi siswa SMA, porsi meningkat menjadi 752,5 kalori. Bahkan, program MBG juga menyasar ibu hamil dan ibu menyusui, dengan kebutuhan 818 kalori per porsi.
"Untuk anak balita, porsinya hampir sama dengan TK," kata Ana.
Setelah makanan selesai dikemas, tahap berikutnya, giliran Ana melakukan pengetesan. Setiap batch masakan wajib dicicipi lebih dulu, sebelum dikemas dan dikirim.
Uji rasa dilakukan dua kali, setelah selesai dimasak dan menjelang pendistribusian, biasanya pada pukul 07.00 atau 09.00 WIB.
"Tidak hanya saya yang mencoba. Kepala SPPG, ahli gizi, dan PIC sekolah juga mencicipi setiap hari," ujarnya.
Uji rasa itu dilakukan menggunakan formulir khusus yang berisi parameter penilaian. Ada skala untuk menilai tingkat kesukaan menu, kualitas protein, jumlah sayur, hingga keberadaan buah dalam piring anak-anak.
Selain menilai, PIC sekolah juga berhak mengusulkan menu tertentu, berdasarkan kegemaran murid. Dengan begitu, penyusunan menu tidak hanya bersumber dari inisiatif petugas dapur, tetapi juga dari permintaan sekolah.
Ahli gizi lulusan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa itu tak berhenti pada penyusunan menu dan uji rasa. Ia juga bertanggung jawab menghitung Rencana Anggaran Biaya (RAB) makanan, menentukan variasi menu agar tidak membosankan, sekaligus menjadi pengontrol kualitas (QC) atas masakan.
Artinya, seluruh proses, mulai dari persiapan bahan, pengolahan, hingga pemorsian selalu berada dalam pengawasannya.
"Semua tahapan harus sesuai standar," katanya.
Evaluasi dilakukan setiap hari. Ana memantau, apakah tim persiapan memotong bahan tepat waktu, apakah tim pengolahan menjaga kualitas rasa dan kematangan makanan, hingga memastikan pemorsian, sesuai takaran.
Dalam rutinitas itulah Ana melihat bahwa MBG, bukan sekadar memberikan makanan gratis, tetapi membangun standar baru tentang bagaimana negara memperhatikan gizi anak, sejak dini.
Distribusi
Begitu seluruh wadah tertutup rapat dan seluruh makanan dinilai aman dikonsumsi, tray langsung diangkut ke kendaraan distribusi. Mesin mobil menyala, dan rute pengantaran diarahkan menuju SDN Kedaleman III.
Perjalanan diperkirakan memakan waktu sekitar 30 menit, menembus kepadatan lalu lintas di jalur utama menuju sekolah.
Pada saat yang sama, di kelas-kelas sekolah dasar, murid-murid sudah mulai mengintip dari balik jendela kelas. Mereka tahu, bahwa jam makan adalah momen yang paling ditunggu.
Kepala Sekolah Hafifah menyebut dampaknya terasa nyata bagi tumbuh kembang anak, mereka lebih semangat belajar, tumbuh sehat, dan kuat.
Ia menyebut, para orang tua penerima manfaat pun menyambut gembira program ini.
"Mungkin di rumah menu belum cukup, tapi dengan MBG semua gizi terpenuhi," kata Hafifah, menyampaikan testimoni wali murid.
Ada cerita yang membuat para guru terenyuh, yakni saat anak-anak sangat antusias mendapatkan buah yang jarang mereka konsumsi, seperti lengkeng. Bahkan ada yang bertanya polos.
"Bu, program ini sampai kapan? Nanti kalau presiden ganti, masih ada nggak?" kata Hafifah, meniru pertanyaan salah satu murid.
Program MBG bukanlah kebijakan yang sederhana, sebab di balik satu tray yang dibuka seorang murid, ada puluhan orang yang tidak tidur, ada standar gizi yang dihitung, ada kebersihan yang dijaga, dan tersimpan harapan bagi masa depan bangsa yang menjanjikan.
Di dapur SPPG Kedaleman, masa depan bangsa dimasak setiap malam. Dan setiap pagi, ketika murid membuka wadah makanannya, kerja sunyi itu tiba dalam bentuk energi, gizi, dan semangat belajar.
Baca juga: Kapolri-Ketua Komisi IV Tinjau SPPG di Jateng, Pastikan dukung MBG
Baca juga: Menggerakkan petani lokal di SPPG Angsau Dua
Baca juga: MBG di Papua
