Jakarta (ANTARA) - Kementerian Perindustrian (Kemenperin) bersama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB) melakukan kerja sama kajian teknologi spesifik terkait pemurnian bahan galian nonlogam silika dan grafit sebagai upaya memacu industrialisasi yang memberikan nilai tambah.
"Kami berharap melalui kerja sama ini mampu menyusun kajian teknologi dan mendukung program prioritas nasional industrialisasi bahan galian nonlogam, seperti silika dan grafit,” kata Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita dalam pernyataan di Jakarta, Selasa.
Direktur Jenderal Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT) Kemenperin Taufiek Bawazier menjelaskan, kajian teknologi spesifik yang dikukuhkan dalam nota kesepahaman (MoU), 27 Oktober ini bertujuan untuk mengolah silika menjadi metallurgical-grade silicon berbasis sumber daya mineral.
Baca juga: ITB-MLPT jalin kemitraan percepat penerapan AI dan data pengetahuan
Baca juga: UI-ITB-Undip haslkan teknologi filter air portabel hilangkan 90 persen bakteri
Selain itu pula, pihaknya bersama ITB melakukan kajian teknologi pemurnian grafit alam dan pengolahan grafit sintetis beserta analisis keekonomian untuk implementasi industri di Indonesia.
Lebih lanjut, kerja sama kajian ini dinilai penting karena Indonesia memiliki potensi besar pada komoditas silika dan grafit yang berperan strategis bagi industri masa depan.
Berdasarkan data yang dirilis oleh Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) pada tahun 2025, ketersediaan (resources) sumber daya mineral silika di Indonesia baik dalam bentuk pasir silika/kuarsa, batu kuarsa, dan kuarsit mencapai 27 miliar ton dan cadangan (reserve) mencapai 7 miliar ton.
Sementara itu, ketersediaan grafit di Indonesia pada tahun 2023 sebesar 31 juta ton. Selain dari sumber mineral berupa grafit alam, grafit juga dapat diproduksi dari sumber daya potensial lainnya seperti kokas minyak bumi dan batu bara.
Baca juga: PLN dan ITB studi kelayakan teknologi transisi energi
“Silika ini banyak digunakan sebagai bahan baku bagi industri hilir seperti ban, kaca, semen, dan semikonduktor. Sedangkan grafit merupakan komoditas strategis bagi industri pelumas, elektronik, komposit, dan otomotif, dan dapat pula dibuat dari bahan berbasis karbon lainnya,” kata Taufiek.
Di sisi lain, Rektor ITB Tatacipta Dirgantara turut menyambut baik program kerja sama ini.
“Saat ini ITB memiliki misi utama untuk menjadi universitas kelas dunia bereputasi global sekaligus tetap relevan bagi bangsa. Hal ini yang mendorong kami untuk jeli mencari potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan nilai tambah,” ujarnya.
