Mataram (ANTARA) - Tabung berwarna hijau itu bukan sekadar energi rumah tangga, melainkan denyut kehidupan keluarga kecil, pedagang gorengan di pinggir jalan, hingga warung nasi dengan margin tipis. Kehilangan akses gas berarti terhentinya roda usaha dan terganggunya keseharian.
Di balik kerumunan antrean, sesungguhnya barang tersedia. Kepala Bidang Bapokting Dinas Perdagangan Kota Mataram Sri Wahyunida menggambarkan situasi ini sebagai lonjakan permintaan musiman.
Secara teori, distribusi elpiji subsidi mengikuti jalur baku yakni dari Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) menuju agen, lalu ke pangkalan resmi sebelum akhirnya tiba di tangan konsumen.
Namun dalam praktiknya, selalu ada celah. Sebagian tabung tak berakhir di dapur rumah tangga miskin, melainkan menyasar pengecer dengan harga di atas HET, bahkan merembes ke restoran besar atau industri kecil yang seharusnya menggunakan tabung nonsubsidi.
Di Lombok Timur, pejabat Dinas Perdagangan Saipul Wathon mengakui bahwa konsumsi meningkat tajam selama Maulid. Jika biasanya satu tabung cukup, kali ini banyak rumah tangga menggunakan dua hingga tiga tabung. Dengan pola konsumsi semacam ini, pasokan normal terasa tidak pernah cukup.
Ketika isu kelangkaan merebak, berbagai spekulasi pun muncul. Salah satunya mengaitkan dengan program makan bergizi gratis (MBG). Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menegaskan bahwa kelangkaan ini murni akibat lonjakan permintaan musiman, sama seperti kasus yang sempat terjadi di Sumbawa bulan lalu.
Pertamina Patra Niaga, melalui Area Manager Jatimbalinus Ahad Rahedi, memastikan stok sebenarnya aman. Ia menjelaskan bahwa tambahan pasokan fakultatif sudah dilakukan pada periode Maulid dan masyarakat diminta membeli langsung di pangkalan resmi agar memperoleh harga sesuai HET Rp18 ribu per tabung.
Namun narasi resmi kerap berseberangan dengan kenyataan di lapangan. Konsumen tetap kesulitan mendapat gas, pengecer menjual dengan harga Rp21 ribu hingga Rp25 ribu, dan beberapa pangkalan terpaksa membatasi penjualan hanya satu tabung per rumah tangga. Kontradiksi inilah yang memunculkan persepsi “langka”, meski data distribusi menunjukkan sebaliknya.
Hariyono, pemilik pangkalan di BTN Sandik Indah, Mataram, menuturkan bahwa ia harus membatasi penjualan karena distribusi berkurang sementara permintaan meningkat. Tanpa pembatasan, stok habis dalam sehari.
Di sisi lain, pedagang kecil seperti Windu, penjual gorengan di pinggir jalan terjepit antara harga beli yang naik di pengecer dan tuntutan pelanggan yang tetap menginginkan harga wajar.
Situasi ini memperlihatkan jurang antara klaim ketersediaan dan pengalaman nyata warga. Kelangkaan elpiji tiga kilogram bukan semata soal stok, tetapi soal tata kelola distribusi dan keadilan akses.
Semua ini menunjukkan bahwa masalah elpiji subsidi bukan sekadar persoalan teknis distribusi, melainkan juga soal keberpihakan. Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah subsidi benar-benar dinikmati oleh mereka yang berhak, atau justru bocor ke pihak yang lebih mampu?
Salah satu kunci utama ada di distribusi. Pemerintah daerah bersama Pertamina dan aparat perlu lebih tegas mengawasi agar tabung subsidi benar-benar jatuh ke tangan rumah tangga miskin dan usaha mikro. Sementara itu, usaha menengah ke atas sebaiknya diarahkan menggunakan tabung nonsubsidi yang memang diperuntukkan bagi mereka.
Selain pengawasan, kesadaran masyarakat juga memegang peran penting. Edukasi tentang penggunaan elpiji perlu diperkuat, terutama agar warga membeli sesuai kebutuhan dan tidak menimbun. Kebiasaan panik membeli justru memicu kelangkaan yang sebenarnya bisa dihindari.
Elpiji tiga kilogram bukan sekadar tabung gas hijau. Ia adalah simbol keadilan energi di negeri yang masih mencari keseimbangan antara pembangunan dan kesejahteraan rakyat kecil. Setiap kali warga harus antre berjam-jam atau membayar lebih mahal, persoalan yang muncul bukan hanya soal logistik, melainkan keberpihakan.
Baca juga: Polres Karawang ungkap praktik pengoplosan gas elpiji bersubsidi
Baca juga: Pertamina Patra Niaga Regional JBB apresiasi Polres Purwakarta ungkap penyalahgunaan LPG subsidi
Baca juga: Begini cara cek rutin tabung LPG yang benar, Waspadai penyebab kebocoran
