Mataram (ANTARA) - Pemerintah KabupatenDompu, Nusa Tenggara Barat berkomitmen mempercepat penurunan angka tengkes hingga di bawah dua digit guna menciptakan generasi yang unggul, sehat, cerdas, dan produktif.
Sekretaris Daerah Dompu Gatot Gunawan mengatakan jumlah tengkes di daerahnya sebanyak 10,27 persen pada tahun 2024 atau lebih rendah dari target nasional sebesar 14 persen.
"Keberhasilan itu lahir dari kerja keras lintas sektor. Kolaborasi menjadi kunci sukses," kata Gatot dalam keterangan yang diterima di Mataram, Kamis.
Gatot menuturkan tengkes masih menjadi tantangan besar lantaran tidak hanya mempengaruhi pertumbuhan fisik, tetapi juga perkembangan otak, kecerdasan, hingga produktivitas anak.
Menurutnya, 1,000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) merupakan masa emas yang menentukan pertumbuhan dan perkembangan bayi, sehingga nutrisi, stimulasi, dan pola asuh menjadi kunci pencegahan.
Ia mengatakan tengkes terlihat ketika seorang anak di bawah usia lima tahun mengalami pertumbuhan terhambat yang diukur dari tinggi badan anak dibandingkan dengan usianya. Tinggi anak yang berada di bawah ambang batas usianya dianggap mengalami tengkes.
Gatot mengungkapkan ada tiga pilar utama pencegahan tengkes baik pada tingkatan keluarga dan masyarakat, yakni nutrisi, stimulasi, dan pola asuh. Kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang menjadi faktor utama yang menyebabkan anak tumbuh kerdil.
"Sementara strategi nasional percepatan pencegahan tengkes di Indonesia memiliki lima pilar yang lebih luas, termasuk komitmen kepemimpinan, kampanye nasional, konvergensi program, gizi dan ketahanan pangan, serta pemantauan dan evaluasi," ucapnya.
