Jakarta (ANTARA) - Dekan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Padjadjaran Prof Yudi Nurul Ihsan menyatakan kegiatan budidaya lobster menggunakan teknologi keramba jaring apung di perairan Pangandaran, Jawa Barat, sudah berbasis riset.
"Sehingga dipastikan tidak mengganggu keberlanjutan ekosistem laut," kata Yudi di Jakarta, Selasa.
Riset mengenai bening bening lobster di Pangandaran dilakukan sejak beberapa tahun lalu karena pihaknya memiliki kampus di daerah.
Selain itu, sumber daya benih bening lobster mudah ditemui di perairan Pangandaran.
Ia melakukan riset dari berbagai aspek dengan kesimpulan bahwa benih bening lobster sebaiknya ditangkap, dibudidayakan.
"Kenapa? karena ternyata rendahnya survival rate BBL bukan karena menjadi makanan biota laut lain, melainkan karena kanibal," ucapnya.
Saat Susi Pudjiastuitu menjadi Menteri Kelautan dan Perikanan, ada proyek keramba jaring apung lepas pantai di Kabupaten Pangandaran pada 2018 silam dan kini dalam kondisi terbengkalai.
Delapan unit ketamba jaring apung lepas pantai itu rusak karena dihempas gelombang. Proyek itu dibiayai APBN tahun 2017 sebesar Rp42 miliar per daerah, untuk membeli teknologi keramba dan fasilitasi dari Norwegia.
