Jakarta (ANTARA) - Awal pekan ini anak-anak kembali masuk sekolah. Setelah libur panjang, banyak orang tua berbagi cerita tentang kegiatan liburan anak-anak.
Di media sosial, tidak sedikit orang tua yang mengunggah partisipasi si anak ikut bootcamp kekinian: pelatihan menjadi YouTuber cilik, content creator, vlogger, atau editor video.
Usia peserta pelatihan-pelatihan ini makin muda, mulai dari 8–9 tahun, tergolong anak-anak. Harga pelatihan berkisar dari ratusan ribu hingga jutaan rupiah. Pelatihan diselenggarakan sekitar dua hari sampai satu minggu, secara daring ataupun luring.
Pelatihan untuk anak-anak semacam ini tampak keren, modern, dan menjanjikan, namun benarkah itu sudah cukup?
Kita perlu bertanya, apakah keterampilan teknis yang diajarkan dalam pelatihan-pelatihan untuk anak-anak tersebut sudah dibarengi dengan pemahaman yang utuh tentang dunia digital? Apakah anak-anak diajak mengenali bahaya di balik layar? Apakah mereka diajarkan membedakan informasi dan disinformasi? Apakah literasi media menjadi bagian dari pelatihan, atau justru dilupakan?
Di sinilah pentingnya memahami bahwa keterampilan digital berbeda dengan literasi digital, dan kita perlu membedah apa makna sebenarnya dari literasi ini.
Literasi digital mencakup tiga dimensi utama: membekali pengetahuan, mengasah keterampilan fungsional, dan membentuk sikap yang bertanggung jawab.
Anak-anak perlu memahami cara kerja media digital secara utuh, termasuk cara memproduksi konten yang kreatif dan bermakna. Mereka perlu tahu bahwa menjadi content creator bukan sekadar tampil di layar, tapi juga soal menghadirkan ide yang otentik dan bertanggung jawab.
Untuk anak-anak, literasi digital harus dimulai dari hal yang paling mendasar. Mereka harus tahu apa itu data pribadi, bagaimana melindunginya, aplikasi mana yang aman, dan bagaimana mengenali informasi yang palsu.
Jadi, pelatihan-pelatihan media atau teknologi digital bukan semata tentang mendorong anak membuat konten viral, tanpa pemahaman konteks. Karena tanpa pemahaman konteks, pelatihan semacam itu justru bisa menjerumuskan anak menjadi produsen konten yang rapuh secara etis.
Belajar coding, editing video, atau teknologi digital tentu adalah hal yang baik dan selaras dengan perkembangan zaman, tetapi jangan berhenti di situ.
Anak-anak juga perlu diajak berpikir reflektif dan kritis. Apa dampak algoritma pada emosi kita? Mengapa ada hoaks yang menyebar begitu cepat? Bagaimana membedakan disinformasi dan memeriksa akurasi informasi? Bagaimana melindungi diri dari cyberbullying?
Pertanyaan-pertanyaan seperti inilah yang membentuk fondasi literasi digital sejati.
*) Dr. Reza Praditya Yudha, Kaprodi Ilmu Komunikasi (Kampus Kabupaten Penajam Paser Utara), Univ. Gunadarma, praktisi public relations di Center for Public Relations, Outreach, & Communication (CPROCOM)
Baca juga: Tips untuk meningkatkan literasi digital anak
Baca juga: Menkomdigi: Orang tua ajak anak jadi warga digital bijak
