Jember, Jawa Timur (ANTARA) - Pakar ekonomi Universitas Jember (Unej) Adhitya Wardhono, PhD mengatakan bahwa kondisi domestik di Indonesia masih cukup kuat saat nilai tukar Dolar Amerika Serikat (USD) terhadap rupiah (IDR) melemah.
"Penting untuk menegaskan bahwa Indonesia masih memiliki bantalan yang kuat. Sebagai contoh, akhir Desember 2025 sebesar 156,5 miliar dolar AS, dan setara sekitar 6,4 bulan impor," katanya di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Sabtu.
Menurutnya itu ruang yang penting untuk menjaga stabilitas pasar valas dan kepercayaan investor. Dari sisi harga, inflasi tahunan Desember 2025 sebesar 2,92 persen (yoy) yang artinya stabilitas harga masih relatif terjaga, meskipun pelemahan kurs tetap perlu diantisipasi lewat ekspektasi inflasi dan harga barang impor.
"Dari sisi eksternal, Indonesia masih mencatat surplus perdagangan yang berlanjut sangat panjang, 67 bulan berturut turut sejak Mei 2020," tuturnya.
Baca juga: Guru besar Universitas Jemberj dorong Indonesia bersikap atas agresi AS ke Venezuela
Baca juga: Guru besar Unej sebut KUHP dan KUHAP baru wujudkan kedaulatan hukum Indonesia
Surplus Januari–November 2025 terutama ditopang surplus nonmigas 56,15 miliar dolar, sementara migas defisit 17,61 miliar dolar. Hal itu menguatkan narasi bahwa tekanan rupiah lebih dominan dari sentimen dan siklus global, bukan karena devisa struktural habis.
"Peran pemerintah juga jangan hanya menjadi pemadam kebakaran. Pemerintah kuncinya bukan melakukan statement optimistis, tetapi memperkuat hal lain seperti kredibilitas fiskal, pasokan devisa onshore, dan kepastian iklim usaha," katanya.
Dengan kata lain, lanjut dia, pasar memandang kebijakan fiskal dan pembiayaan sebagai jangkar kepercayaan. Jika jangkar itu kuat, tekanan kurs biasanya lebih cepat mereda.
Adhitya mengatakan nilai tukar rupiah terhadap Dolar AS mengalami tren pelemahan dan mendekati level Rp17.000 per dolar AS. Namun, pelemahan rupiah perlu dibaca secara kontekstual, bukan reaktif.
Baca juga: Universitas Jember Mobile Clinic-ANC hadir layani warga terdampak banjir di Aceh Tamiang
"Nilai tukar bukan indikator tunggal kesehatan ekonomi, melainkan harga yang mencerminkan interaksi antara faktor global, fundamental domestik, dan ekspektasi pasar," ucap pakar moneter dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) Unej itu.
Jadi itu bukan sekadar rupiah melemah, tapi sinyal bahwa pasar sedang menilai ulang risiko, likuiditas dolar, dan arah kebijakan. Fokus utama kebijakan bukan mengejar angka tertentu, tetapi menjaga stabilitas agar pelemahan tidak berubah menjadi volatilitas yang merusak.
Dengan kata lain, isu utamanya bukan sekadar level nilai tukar, melainkan stabilitas dan volatilitas. Kurs yang bergejolak jauh lebih berbahaya bagi inflasi, investasi, dan dunia usaha dibanding kurs yang melemah secara terukur.
"Dalam ekonomi, volatilitas kurs dapat mengganggu perencanaan impor bahan baku, menambah biaya hedging, dan membuat investor menunda keputusan," katanya.
Pewarta: Zumrotun SolichahUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.