Jakarta (ANTARA) - IDN Backpacker adalah salah satu program unggulan IDN Boarding School yang bertujuan membentuk siswa menjadi pribadi yang tangguh melalui pengalaman berkelana ke puluhan negara dengan biaya seminimal mungkin.
Program ini telah berjalan selama tiga tahun dimulai dari dua negara pada 2023, sepuluh negara pada 2024, dan sebelas negara pada tahun 2025.
Perjalanan ini berlangsung selama enam bulan. India menjadi negara pertama yang kami singgahi, disusul oleh Arab Saudi, Mesir, Turki, Uzbekistan, Kazakhstan, Tajikistan, Tiongkok, Laos, Thailand, dan akhirnya Malaysia sebagai negara terakhir. Dari India hingga Uzbekistan, perjalanan ditempuh dengan pesawat, sementara dari Uzbekistan ke Malaysia kami menjelajah dengan moda transportasi darat—kereta, bus, hingga feri.
“Setelah menyusuri sebelas negara dengan segala tantangan lintas budaya, akhirnya kami tiba di destinasi terakhir sebelum kembali ke Tanah Air: negeri jiran, Malaysia. Rasanya rumah dan keluarga sudah begitu dekat. Udara tropis kembali menyapa. Kami tiba di Pulau Pinang—Penang—dengan Kereta Tanah Melayu dan kapal feri, sebuah kota yang dijuluki sebagai surga kuliner Malaysia” ujar Sora Algamar, siswa IDN Boarding School cabang Solo.
Selama 28 hari tinggal di Penang—waktu yang cukup lama untuk pelajar backpacker—saya mengalami pergulatan internal. George Town, kawasan warisan budaya dunia UNESCO, mengingatkan saya pada Yogyakarta. Namun bukan sejarah yang saya pelajari di sini, melainkan seni menahan diri.
Julukan surga kuliner bukan sekadar klaim. Menurut studi Areola & Escabillas (2023), pengalaman kuliner adalah salah satu elemen terpenting dalam daya tarik destinasi wisata berbasis warisan budaya. Makanan bukan hanya kebutuhan fisiologis, tetapi juga simbol budaya yang menjadi alasan wisatawan kembali ke suatu tempat.
Namun, kelezatan memiliki jebakan tersendiri. Satu porsi nasi kandar legendaris di Penang bisa mencapai 15 ringgit (±Rp50.000). Setelah lima bulan hidup dengan roti, telur, dan mi polos, melihat makanan berlimpah seperti itu, benar-benar menggoda. Ini mengingatkan saya pada konsep wisdom of voluntary simplicity, yakni kebijaksanaan untuk hidup sederhana secara sadar.
“Untungnya, Penang juga menyediakan pilihan kuliner murah yang tetap lezat. Roti canai hangat seharga 1,5 ringgit menjadi menu favorit pagi. Untuk siang, nasi lemak dengan telur dan bumbu rendang seharga 3 ringgit (±Rp12.000) sudah cukup memuaskan dan menguatkan. Studi Gana & Hussain (2024) menunjukkan bahwa makanan lokal berbiaya rendah tetap berperan besar dalam membentuk loyalitas wisatawan dan daya tarik destinasi, terutama bagi generasi muda yang lebih sensitif terhadap harga namun tetap ingin mendapatkan pengalaman otentik” imbuh Sora yang pernah terlibat dalam program sosial membagikan 11 ribu paket makanan ke masyarakat tidak mampu di Jakarta.
IDN Backpacker bukanlah jalan-jalan. Ini adalah laboratorium nyata untuk belajar membuat keputusan, mengelola keinginan, dan memahami dunia melalui rasa, bukan sekadar pemandangan. Di tengah aroma kari dan manisnya teh tarik, saya belajar disiplin yang lebih sulit daripada bangun pagi—disiplin menahan nafsu untuk makan enak setiap saat.
“Seperti dikatakan Long (2004), wisata kuliner sejati bukan hanya tentang mencicipi makanan, tetapi tentang menyelami “foodways” atau cara hidup masyarakat melalui makanan. Dalam konteks inilah, pengalaman makan hemat di Penang bukanlah keterbatasan, melainkan proses pendidikan karakter dan budaya. Kami bukan wisatawan; kami adalah murid dunia, dan dunia adalah ruang kelas kami” tutup Sora, co-Founder Jejak Baik, komunitas yang sudah membagikan pengetahuan ke lebih dari 300 peserta ini.
Bertahan Hidup di Negeri Seribu Rasa: Latihan Mental Peserta IDN Backpacker
Sabtu, 19 Juli 2025 22:02 WIB
Para peserta IDN Backpacker yang merupakan salah satu program unggulan IDN Boarding School. ANTARA/dok pribadi
