Beijing (ANTARA) - Raja Brunei Darussalam Sultan Hassanal Bolkiah dan Perdana Menteri Thailand Paetongtarn Shinawatra datang ke Beijing dan bertemu secara terpisah dengan Presiden China Xi Jinping pada Kamis (6/2).
Dalam laman Kementerian Luar Negeri China disebutkan Xi Jinping bertemu Sultan Bolkiah dan Paetongtarn di Balai Besar Rakyat China, Beijing, tetapi pada waktu yang berbeda meskipun pada hari yang sama.
Xi dan Sultan membahas hubungan kedua negara yang telah berjalan 30 tahun. Kedua negara diharapkan memperkuat sinergi kerja sama "Belt and Road Intiative" dan strategi Visi 2035 Brunei dengan mempromosikan proyek-proyek unggulan yaitu Koridor Ekonomi Guangxi-Brunei dan Hengyi Petrochemical, dan membangun "hub" ganda untuk Zona Pertumbuhan Timur China-ASEAN dan Koridor Darat-Laut Baru.
China juga disebut siap mendorong lebih banyak perusahaan untuk berinvestasi di Brunei, mendukung pengembangan ekonomi digital, kecerdasan buatan dan industri energi baru di Brunei, membantu Brunei mendiversifikasi ekonomi, mendukung kerja sama penelitian padi hibrida dan menyambut baik Brunei yang memanfaatkan "platform" seperti "China International Import Expo" dan "China-ASEAN Expo" untuk memperluas ekspor produk pertanian dan perikanan berkualitas tinggi ke China.
Sultan Hassanal Bolkiah mengatakan Brunei dan China selalu saling menghormati dan mempercayai, dan hubungan kedua negara terus berkembang dan menuju komunitas masa depan bersama antara Brunei dan China.
Kedua kepala negara menyaksikan penandatanganan sejumlah dokumen kerja sama di bidang keadilan, pembangunan bersama dalam kerangka "Belt and Road Initiative", ekonomi, perdagangan dan media.
Sebelum pertemuan bilateral, Sultan Hassanal Bolkiah disambut dengan upacara penyambutan di Aula Utara Balai Besar Rakyat China termasuk inspeksi tentara Pembebasan Rakyat China serta menyaksikan parade. Selain itu juga dilakukan perjamuan menyambut Sultan Hassanal Bolkiah di Aula Emas lokasi yang sama.
Sementara saat menerima Paetongtarn, dibahas hubungan bilateral China dan Thailand yang pada 2025 adalah peringatan 50 tahun hubungan diplomatik kedua negara.
China siap memperluas kerja sama pembangunan termasuk proyek-proyek seperti Kereta Api China-Thailand, pengembangan konektivitas China-Laos-Thailand, memperdalam kerja sama bidang ekonomi digital hingga kendaraan energi baru.
Paetongtarn mengatakan hubungan Thailand-China telah mengalami pasang surut tetapi Thailand tegas berpegang pada prinsip "Satu China" dan berharap dapat mempererat kerja sama dengan China di bidang ekonomi, perdagangan, pertanian dan juga pertukaran masyarakat.

Baca juga: China dukung Thailand putus listrik sindikat Myanmar