Senin, 23 Oktober 2017

Ikutilah Imunisasi MR, Demi Masa Depan Anak

id imunisasi, imunisasi MR, Measles-Rubella, Dr.H.M.Subuh MPPM, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI, Viva News.Co.id, R
Ikutilah Imunisasi MR, Demi Masa Depan Anak
Sosialisasi Imunisasi Campak dan Rubela Kota Bogor, Jawa Barat. (Foto Humas Pemkot Bogor).
Jadi imunisasi ini adalah berita baik bagi para ibu yang memiliki bayi serta anak-anak remaja.
Pada bulan Agustus ini, Pemerintah akan melaksanakan imunisasi MR (Measles-Rubella) secara masal. Setiap anak berusia 9 bulan sampai dengan <15 tahun wajib mengikuti imunisasi ini. Termasuk anak-anak yang sudah divaksin sebelumnya.

''Mereka yang sudah diimunisasi tetap perlu mengikuti imunisasi MR,'' kata Dr.H.M.Subuh MPPM, Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit, Kementerian Kesehatan RI seperti dikutip Viva News.Co.id.

Menurut Subuh, pengulangan diperlukan karena mungkin saja pada saat diimunisasi sebelumnya, kondisi anak sedang tidak dalam kondisi baik, atau cara penyuntikan yang tidak tepat sehingga evektivitas vaksin tidak optimal.

Rubella atau campak jerman merupakan salah satu penyakit infeksi menular melalui saluran nafas yang disebabkan oleh virus rubella. Virus ini dapat menyebar dengan sangat mudah.

Penularan utamanya dapat terjadi melalui partikel air liur di udara, yang dikeluakan penderita melalui batuk atau bersin. Anak-anak maupun orang dewasa yang belum diberi vaksin Campak dan rubella atau belum pernah terkena penyakit ini, berisiko tertular penyakit ini.

Gejala yang timbul pada mereka yang terkena virus rubella terlihat sangat sederhana dan tidak spesifik. Bahkan terkadang tanpa gejala.Kalau ada gejala, diantaranya demam, bercak merah, pusing, batuk, pilek, konjungtivitis atau mata merah. Meski demikian, komplikasi campak bisa sangat memberatkan.

Virus ini sering menyerang anak-anak dan remaja. Juga dapat menular pada ibu-ibu yang sedang hamil pada tiga bulan pertama kehamilan. Ibu hamil yang tertular rubella bisa mengalami keguguran atau bayinya lahir dalam kondisi cacat.

Selain itu pengidap rubella bisa terkena radang otak, radang paru, radang telinga, diare berat, kebutaan dan dehidrasi yang dapat mendatangkan kematian. Di Indonesia kasus pasien rubella terbilang tinggi.

Menurut Riset Kesehatan Dasar, di Indonesia terdapat lebih dari 400 kasus rubella pada tahun 2011. Di kota-kota beasr seperti di Bandung pernah tercatat ada 63 kasus terduga rubella dengan 20 diantaranya dinyatakan positif.

Di Surabaya sepanjang tahun 1993 – 2003 tercatat 93 suspect dan dalam kurun waktu yang sama di Jogjakarta tercatat 1.419 suspect.

Sedangkan di Kota Bogormenurut data di Dinas Kesehatan Kota Bogor Kasus positif rubella sepanjang tahun 2015-2016 tercatat 27 kasus & kasus positif campak 2015-2016 sebanyak 167 kasus.

Vaksin MR masih mahal karena harus diimpor.

''Jadi imunisasi ini adalah berita baik bagi para ibu yang memiliki bayi serta anak-anak remaja,'' kata Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan Kementrian Kesehatan, dr. Elizabeth Jane Soepardi, MPH.DSc.

Menurut dr. Rubaeah, Kepala Dinas Kesehatan Kota Bogor, pihaknya akan melakukan imunisasi masal kepada warga Kota Bogor, pada Agustus sampai dengan September 2017 mendatang. Menurutnya ada sekitar 257.276 jiwa di Kota Bogor yang harus diikutsertakan pada kegiatan ini.

Oleh karena itu itu pihaknya berharap, warga masyarakat mengikutsertakan bayi dan anak-anak mereka pada imunisasi masal tersebut. Ia sangat mengapresiasi warga yang memiliki kesadaran dan kemauan untuk mengikuti kegiatan ini.

''Selain menguntungkan bagi mereka, juga sangat membantu kami dalam mensukseskan kegiatan ini,'' lanjut Beah.

Pasalnya kegiatan imunisasi kali ini berbeda dan tantangannya lebih berat dibanding kegiatan imunisasi polio yang pernah dilaksanakanpada tahun 2016 lalu.

''Sekarang kami harus mengerahkan petugas medis langsung ke lapangan, karena vaksin ini harus disuntikan kepada penerima,'' jelasnya.

Para petugas medis inilah yang berwenang menyuntikan vaksin tersebut. Cara ini tentu berbeda dengan teknik pemberian vaksin polio yang cukup diteteskan ke dalam mulut anak, sehingga pengerjaannya bisa dibantu oleh para kader PKK atau Posyandu.

Menyadari beratnya tantangan tersebut, maka Dinas Kesehatan Kota Bogor telah melakukan sosialisasi ke berbagai kelompok masyarakat.

Tujuannya tak lain, mengingatkan dan mengajak warga Kota Bogor yang mempunyai bayi, anak-anak dan remaja usia 9 Bulan sampai dengan <15 tahun, mengikuti imunisasi masal ini.

Kegiatan ini berlangsung pada bulan Agustus di semua sekolah TK, SD/MI sederajat, SMP/MI sederajat. Dan di bulan September 2017 di semua puskesmas di Kota Bogor, RS dan posyandu serta tempat-tempat pelayanan kesehatan lainnya.


Hal Hal yang Perlu Diperhatikan:

1. Pastikan anak Anda sudah makan sebelum diimunisasi
2. Informasikan kondisi kesehatan anak Anda kepada petugas (riwayat penyakit, pengobatan yang sedang dijalani, adanya kecacatan bawaan, kelahiran prematur, alergi atau riwayat rekasi berat setelah imunisasi sebelumnya.
3. Setelah anak diimunisasi, tunggulah sekitar 30 menit di tempat untuk memantau kemungkinan terjadinya kejadian ikutan pasca imunisasi.
4. Demam ringan, ruam merah dan bengkak ringan  di bagian yang disuntik adalah rekasi normal dan tidak perlu terlalu dikhawatirkan.


Fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Nomor 4 tahun 2016

Imunisasi pada dasarnya dibolehkan (mubah) sebagai bentuk ikhtiar untuk mewujudkan kekebalan tubuh (imunitas) dan mencegah terjadinya suatu penyakit tertentu.

Dalam hal jika seseorang yang tidak diimunisasi akan menyebabkan kematian, penyakit berat atau kecacatan permanen yang mengancam jiwa, berdasarkan pertimbangan ahli yang kompeten dan dipercaya, maka imunisasi hukumnya wajib


Informasi lebih lanjut bisa Menghubungi Seksi Pencegahan dan Pengendalian Penyakit & Surveilance:
Dinas Kesehatan Kota Bogor, Jl. Kesehatan No. 3 Tanah Sareal Kota Bogor, Telp. (0251) 8310810.

(Advertorial)

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga