Selasa, 25 Juli 2017

AIC Diskusikan Penanganan Banjir Di Kota Bogor

id AIC, Australia Indonesia Center, Kerja Sama Riset, peneliti dari IPB, Monas University Australia, Universitas Indonesia, Prof Hadi Susilo Arifin, IPB,
Perubahan fungsi lahan mempengaruhi karakteristik limpasan, banjir yang terjadi bukan karena perubahan iklim tapi perubahan tutupan lahan, otomatis terjadi banjir.
Bogor (Antara Megapolitan) - Kerja Sama Riset Australia Indonesia Center (AIC) menggelar diskusi membahas isu banjir di Kota Bogor, Jawa Barat, Jumat.

Diskusi yang berlangsung di Balai Kota Bogor itu melibatkan sejumlah peneliti dari IPB, Monas University Australia, Universitas Indonesia, instansi pemerintah seperti BPBD, Bappeda, Dinas PU-Pera, komunitas dan media.

Prof Hadi Susilo Arifin dari IPB menyebutkan disuksi itu menjadi awal dimulainya proyek kerja sama AIC dengan Pemerintah Kota Bogor, dengan mengangkat isu banjir yang menerjang SMA Negeri 2 Budi Agung Kota Bogor yang menewaskan ibu dan anak pada akhir Februari 2017.

"Kejadian banjir di SMA Negeri 2 ini mencengangkan kita semua, isu ini menjadi perhatian serius AIC untuk bersama-sama mencari solusinya," kata Hadi.

Hadi menyebutkan air hendaknya menjadi sumber kehidupan bukan malah menjadi sumber bencana. Dengan konsep sungai sebagai wajah depan, tidak lagi menjadi wajah belakang yang kerap dikonotasikan sebagai tempat pembuangan.

Ketua Komisi C DPRD Kota Bogor, Laniasari menyebutkan perlu melibatkan peran serta masyarakat dalam mewujudkan sungai yang bersih dari sampah dan menjaga drainaser serta lingkungan sekitar agar lebih bersih.

"Keterlibatan masyarakat perlu juga dilakukan, persoalan sampah sudah sangat memprihatinkan, bahkan di sungai ada yang membuang kasur," katanya.

Dosen Hidrologi IPB, DR Nana M Arif Jaya menyebutkan secara makro Kota Bogor merupakan daerah irigasi. Terdapat irigasi Empang dan Katulampa. Di era Belanda dibuat saluran, salah satunya Sungai Cipakancilan dan Ciliwung.

"Perubahan fungsi lahan mempengaruhi karakteristik limpasan, banjir yang terjadi bukan karena perubahan iklim tapi perubahan tutupan lahan, otomatis terjadi banjir," katanya.

Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto menyebutkan seluruh kota di Indonesia dan dunia juga mengalami situasi seperti itu. Perubahan drainase menjadi penyebab banjir.

"Secara bertahap Pemkot Bogor secara bertahap membuat rencana induk untuk 15 titik drainase, tahun ini ada enam titik, tahun depan empat titik," katanya.

Menurut Bima, keterlibatan sejumlah pihak terkait dalam penanganan drainase dan banjir sangat dibutuhkan, terutama dari hasil diskusi Australia-Indonesia Centre (AIC) yang dapat berdampak bagi Kota Bogor.

AIC didirikan oleh Pemerintah Australia dan Indonesia sebagai bantuk kerja sama antardua pemerintah dengan fokus pengembangan multi-stakeholders network antara Indonesia dan Australia.

Salah satu kerja sama universitas yang diselenggarakan di bawah AIC adalah kerja sama antara Monash University, IPB dan Universitas Indonesia dalam `urban water research cluster atau UWRC untuk melakukan penelitian berkualitas tinggi, aplikatif dan memiliki dampak besar bagi Kota Bogor khususnya, dan Indonesia umumnya.

Kota Bogor terpilih sebagai pusat lokasi studi air wilayah perkotaan yang terbagi dalam enam tema yakni `benchmarking tools, `socio-institutional pathways`, `infrastructure adaptation pathways`, `green technology pathways`, `urban design and demostration`, dan `learning alliance`.

Kolaborasi penelitian akan berlangsung sampai dengan Agustus 2019 dengan kemungkinan perpanjangan.

Editor: Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2017

Baca Juga