Depok (ANTARA) - President University kembali menunjukkan inovasi dalam dunia pendidikan tinggi melalui hadirnya kelas akademik yang mengkaji fenomena Taylor Swift secara multidisipliner.
President University menjadi satu-satunya universitas di Indonesia yang memiliki kelas khusus mengenai Taylor Swift. Secara global, fenomena Taylor Swift sendiri telah dipelajari oleh berbagai universitas ternama dunia, seperti Harvard University, Stanford University, dan University of Michigan.
Kelas ini telah dimulai sejak tahun lalu sebagai bagian dari pendekatan pembelajaran inovatif yang menghubungkan teori akademik dengan fenomena nyata yang dekat dengan generasi saat ini.
Tidak hanya membahas Taylor Swift sebagai penyanyi atau figur publik, mata kuliah ini juga mengkaji pengaruh globalnya terhadap ekonomi, budaya populer, industri kreatif, komunikasi, branding, hingga perilaku sosial masyarakat.
Sebagai bagian dari pengembangan diskusi akademik tersebut, President University juga menyelenggarakan acara “Taylor Swift’s Day” pada 13 Mei 2026 di Theater, President University Convention Center (PUCC), Kampus Utama President University, Kota Jababeka, Jawa Barat.
Kegiatan ini menghadirkan Rayhan Mumtaz dari Taylor Swift Indonesia untuk membahas besarnya pengaruh Taylor Swift terhadap komunitas penggemar dan budaya populer global.
Dalam sesi diskusi, Rayhan menjelaskan bahwa fenomena Taylor Swift bukan hanya tentang musik, tetapi juga tentang koneksi sosial yang terbentuk di antara para penggemarnya.
“Melalui Taylor Swift, saya bisa terhubung dengan lebih banyak orang. Kami bahkan berbicara dengan bahasa yang hanya dipahami sesama Swifties, dan ada rasa kebersamaan dari kesukaan yang sama. Bahkan, sebagian orang menemukan sahabat terbaik mereka melalui komunitas ini,” ujarnya.
Dosen pengampu kelas Taylor Swift di President University, Ferawati Natalita, lulusan Pennsylvania State University, menjelaskan bahwa pembelajaran dalam kelas ini berfokus pada pengaruh besar Taylor Swift dalam berbagai bidang kehidupan modern.
“Semua ini tentang pengaruh Taylor Swift dan proyek-proyek yang ia bangun. Ia bukan hanya seorang penyanyi atau pembangun brand. Kami mempelajari perjalanan kariernya, album-albumnya beserta makna di baliknya, pencapaiannya, hingga berbagai gerakannya,” jelas Ferawati.
Menurutnya, mahasiswa juga mempelajari fenomena Swiftonomics, yaitu dampak ekonomi yang muncul dari pengaruh Taylor Swift terhadap berbagai sektor industri global.
“Dari sisi ekonomi, ada juga Swiftonomics. Kami juga membahas kontroversi yang pernah muncul, termasuk bagaimana ia meresponsnya melalui lagu-lagunya dan bagaimana ia menjaga konsistensinya,” lanjutnya.
Ferawati menegaskan bahwa President University ingin menghadirkan pendekatan pembelajaran yang berbeda dan relevan dengan perkembangan zaman.
“Kami ingin belajar dari hal-hal yang sebelumnya tidak pernah terpikirkan oleh banyak orang,” katanya.
Ia juga menambahkan bahwa secara global memang terdapat beberapa universitas yang menghadirkan kajian mengenai Taylor Swift, salah satunya Harvard University. Namun, President University menjadi satu-satunya universitas di Indonesia yang memiliki kelas khusus tersebut.
Melalui kelas ini, mahasiswa diajak untuk memahami bahwa fenomena budaya populer dapat menjadi objek kajian akademik yang serius.
Mereka tidak hanya belajar mengenai musik, tetapi juga mengenai personal branding, storytelling, strategi bisnis, budaya fandom, komunikasi, hingga dampak ekonomi dan sosial dari industri kreatif global.
Pendekatan tersebut sejalan dengan visi President University yang terus mendorong inovasi pembelajaran agar mahasiswa mampu menghubungkan teori dengan fenomena nyata yang terjadi di masyarakat global saat ini.
Pewarta: Feru LantaraUploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026