Cirebon (ANTARA) - Arus kendaraan mengalir padat, cepat, dan nyaris seragam di ruas arteri Jalur Pantai Utara (Pantura) Cirebon, Jawa Barat, pada Selasa (17/3) siang.

Sepeda motor tampak seperti berdesakan, mobil menyalip pelan, dan orang-orang terus melaju dengan satu tujuan yang sama yakni untuk pulang ke kampung halaman.

Namun di sela keramaian itu, beberapa orang memilih cara pulang yang berbeda, lebih pelan, nyentrik, dan kerap menyita perhatian masyarakat sekitar.

Sebuah bajaj biru menepi. Catnya mulai kusam, bodinya bergetar halus, namun masih tegak membawa beban perjalanan jauh.

Di dalamnya, Hendra (39) menarik napas panjang setelah menempuh perjalanan semalaman dari Jakarta.

Ia mudik ke Semarang bersama istri dan dua anaknya. Pilihannya tetap sama dari tahun ke tahun yakni mengemudikan kendaraan roda tiga tersebut.

Penampakan kendaraan bajaj saat melintas di Jalur Pantura Cirebon, Jawa Barat. ANTARA/Fathnur Rohman.

Perjalanan dimulai saat langit masih gelap. Jalanan Jakarta perlahan ditinggalkan, diganti deretan lampu kendaraan yang memanjang ke arah timur.

Saat pagi datang, ia sudah tiba di Cirebon untuk berhenti sejenak, mengisi tenaga sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

“Setiap tahun pasti mudik pakai bajaj. Biasanya rombongan sama teman. Saya berangkat dari Jakarta malam, sampai Cirebon pagi, ini istirahat dulu,” tuturnya kepada ANTARA.

Bajaj yang ia gunakan bukan kendaraan baru, karena usianya lebih dari satu dekade. Perbaikan dilakukan seperlunya agar tetap bisa diajak menempuh perjalanan ratusan kilometer.

Hendra paham betul keterbatasan kendaraannya, sehingga ia tak pernah memaksakan laju.

Ia pun tidak sendirian. Sejak berangkat, ia bersama rombongan teman yang sama-sama menggunakan bajaj. Mereka menjaga jarak, saling menunggu, dan siap membantu jika ada kendala di jalan.

Di jalur yang sama, Arief (32) berdiri di dekat kendaraannya. Ia memiliki tujuan serupa dan cara yang mirip. Bajaj menjadi pilihan yang tak tergantikan baginya setiap musim mudik.

Di bagian belakang kendaraannya, sebuah kandang burung ikut dibawa. Benda itu terikat rapi, menjadi bagian dari perjalanan pulang dengan menyusuri Jalur Pantura.

“Selalu mudik pakai bajaj. Saya bawa kandang burung buat di kampung,” katanya.

Pulang bersama

Di Pantura Cirebon, pemandangan seperti ini bukan sesuatu yang aneh. Setiap pemudik membawa cerita dan kebiasaan masing-masing.

Ada yang membawa oleh-oleh, bahkan ada pula yang membawa sesuatu yang tak bisa ditinggalkan di daerah perantauan.

Tak jauh dari kerumunan kendaraan, perhatian orang-orang sempat tertuju pada satu sepeda motor yang melintas perlahan di ruas arteri Kota Cirebon.

Di atasnya, tampak seorang pria membawa kardus besar dengan lubang-lubang kecil di sisinya. Dari dalam kardus itu, kepala ayam sesekali muncul ke permukaan.

Pria tersebut adalah Japra, pemudik asal Depok yang menuju Brebes. Ia membawa delapan ekor ayam aduan sekaligus dalam perjalanan pulangnya.

“Ya, karena di sananya enggak ada yang mengurusi,” ujarnya.

Kardus yang dibawa sudah dimodifikasi agar ayam-ayamnya tetap mendapatkan udara. Di pangkuannya, bungkusan plastik putih juga tampak bergerak pelan.

Sesekali, ia atau penumpangnya mengelus ayam-ayam itu agar tetap tenang di tengah kebisingan jalan.

Beberapa pengendara lain memperlambat laju untuk melihat lebih dekat. Ada yang tersenyum, ada yang sekadar melirik, sebelum kembali fokus pada perjalanan masing-masing.

Japra tampak santai. Baginya, membawa ayam saat mudik bukan pengalaman baru. Ia sudah terbiasa dengan cara seperti itu.

Mengayuh pun jadi

Sebelum ruas arteri semakin padat, terdapat pula orang-orang yang melakukan mudik dengan cara berbeda.

Tak ada deru mesin, hanya bunyi rantai sepeda yang berputar pelan. Seorang pria mengayuh dengan ritme stabil, menembus arus kendaraan yang padat.

Sunaryo (55) memilih pulang ke Klaten dengan sepeda. Ia berangkat dari Tangerang sejak Sabtu (14/3) malam. Perjalanan itu akan memakan waktu beberapa hari.

Ia mengenakan baju kuning-oranye, helm, dan kacamata hitam. Di bagian belakang sepedanya, tas perlengkapan terpasang rapi. Setiap kayuhan tampak terukur, seolah ia sudah hafal betul ritme perjalanan panjang itu.

“Sudah beberapa kali, sekarang tahun keempat mudik naik sepeda,” katanya.

Sunaryo tidak sendiri. Ia berangkat bersama tujuh rekannya, meski kini posisi mereka terpisah di sepanjang jalur. Mereka akan kembali bertemu di titik-titik istirahat yang telah disepakati.

Biasanya, mereka berhenti di masjid atau tempat yang ramah bagi pesepeda. Di sana, mereka beristirahat, berbagi cerita, lalu kembali melanjutkan perjalanan.

Di Jalur Pantura, Sunaryo memilih sisi paling kiri. Ia menjaga jarak dari kendaraan lain, tetap fokus pada jalan di depannya.

Beberapa rekannya terlihat mengikuti dari belakang, sebagian memasang tanda reflektif sebagai penanda.

Tak hanya Sunaryo, Aang Warsono pun memilih cara berbeda untuk pulang kampung tahun ini. Pria asal Lampung itu menempuh perjalanan menuju Tegal dengan sepeda motor.

Keputusan tersebut dilandasi keinginannya merasakan perjalanan mudik secara langsung. Ia ingin menikmati setiap proses selama di jalan, khususnya saat melintas di Jalur Pantura.

Aang juga tidak berangkat sendiri. Ia mudik bersama sejumlah teman agar perjalanan terasa lebih santai dan tidak melelahkan.

Menurutnya, perjalanan dengan motor memberi suasana yang berbeda dibandingkan menggunakan mobil. Kebersamaan selama di jalan membuat perjalanan terasa lebih hidup.

Jika menggunakan mobil, perjalanan cenderung lebih cepat dan langsung menuju tujuan. Sementara dengan motor, ia bisa lebih leluasa menikmati perjalanan.

Perjalanan Aang dimulai dari Lampung dengan terlebih dahulu menuju pelabuhan untuk menyeberang. Setelah itu, ia melanjutkan perjalanan darat menuju Tegal bersama rombongan.

Utamakan keselamatan

Pada momen menjelang Lebaran, setiap pemudik memiliki cara sendiri untuk sampai ke tujuan. Namun, semuanya bergerak dalam arus yang sama yaitu agar bisa merayakan hari kemenangan bersama keluarga di daerah asal.

Di ruas arteri Kota Cirebon, Dinas Perhubungan (Dishub) setempat mencatat sekitar 79.413 kendaraan sudah melintas pada Selasa (17/3). Jumlah tersebut meningkat ketimbang volume lalu lintas sehari sebelumnya yang terdata sebanyak 66.098 unit.

Di tengah geliat arus kendaraan tersebut, keselamatan tetap menjadi hal utama yang tidak boleh ditawar.

Maka dari itu, pemerintah di tingkat pusat, provinsi hingga daerah berupaya mencari cara agar perjalanan mudik tahun ini tetap lancar.

Menteri Perhubungan (Menhub) Dudy Purwagandhi dalam kunjungannya di Cirebon, Sabtu (14/3), menyoroti salah satu langkah menarik yang dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Barat (Pemprov Jabar) untuk arus mudik Lebaran, yakni program kompensasi bagi pengemudi becak.

Dengan adanya kompensasi, para pengemudi becak tidak perlu beroperasi sementara waktu di jalan yang padat, sehingga ruang gerak kendaraan pemudik menjadi lebih lega.

Menurutnya, kebijakan tersebut berkontribusi langsung terhadap kenyamanan perjalanan masyarakat.

Selain itu, program ini memberikan rasa aman bagi para pengemudi becak karena tetap mendapatkan penghasilan tanpa harus menghadapi risiko di tengah kepadatan lalu lintas.

Menhub menegaskan, pemerintah tetap siaga mengantisipasi lonjakan yang diperkirakan terjadi dalam waktu dekat.

Berdasarkan hasil survei, puncak arus mudik diprediksi akan terjadi pada 18 Maret 2026. Untuk mengurangi penumpukan, masyarakat diimbau memanfaatkan kebijakan Work From Anywhere (WFA) agar bisa memilih waktu perjalanan yang lebih fleksibel.

Untuk mengantisipasi lonjakan kendaraan, Polda Jabar menyiapkan sejumlah rekayasa lalu lintas, baik di ruas tol maupun arteri.

Kapolda Jabar Irjen Pol Rudi Setiawan menyebutkan penerapan one way hingga contraflow dilakukan secara situasional, tergantung kondisi di lapangan.

Selain itu, Kapolda Jabar memastikan pemantauan pun rutin dilakukan oleh petugas kepolisian di lapangan maupun melalui kamera pengawas dan pusat kendali lalu lintas.

Di tengah semua upaya tersebut, peran masyarakat tetap penting. Perjalanan mudik tak hanya soal cepat sampai, namun bagaimana bisa tiba dengan selamat.

Pada akhirnya, yang paling berarti dari mudik adalah bisa berkumpul saat Lebaran di kampung halaman tanpa kurang satu apa pun.



Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026