Padang,- (ANTARA) - Sore itu langit mendung menyelimuti Kota Padang, membuat suasana terasa sendu.

Dari atas Jembatan Siti Nurbaya, sinar matahari tampak tertahan awan, membiaskan cahaya redup yang menyapu kota. Di bawahnya, perahu-perahu nelayan membelah arus Sungai Batang Arau yang kecokelatan.

Nuansa sendu itu justru menarik pengunjung. Mereka datang ke bantaran sungai, singgah di kafe-kafe tepian, atau mencoba pengalaman kuliner sambil menyusuri sungai legendaris tersebut.

Salah satu kafe menawarkan konsep terapung. Dua perahu fiber berbentuk persegi dinyalakan, masing-masing dilengkapi sofa melingkar dan meja di tengah. Di atasnya, tujuh perempuan menikmati makanan dan minuman, sementara seorang operator mengendalikan mesin tempel, membawa perahu perlahan ke arah hulu.

Kafe terapung ini kian diminati sebagai cara baru menikmati wisata Kota Padang, terutama karena tidak semua orang bisa menyusuri Batang Arau yang sarat sejarah.

Dahulu, Batang Arau merupakan pusat perdagangan dan pelabuhan penting di Pantai Barat Sumatera. Sungai ini menjadi saksi perkembangan Padang, dari kota dagang tradisional hingga menjadi kota modern.

Jejak masa itu masih tampak melalui deretan bangunan tua peninggalan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) yang membentang hingga kawasan Kampung Cina.

Suasana kota tua tetap terasa, meski sebagian bangunan telah hilang. Kawasan ini meliputi Muaro Batang Arau, Pasar Gadang, Pasar Batipuh, Pasar Mudik, Palinggam, Kampung Pondok, Kampung Jawa, hingga daerah pesisir.

Dari atas kafe terapung, pengunjung dapat melihat bangunan-bangunan tua di sepanjang sungai, termasuk bekas Kantor Guntzel & Schumacher yang kini menjadi klub hiburan malam. Setelah melewati Jembatan Siti Nurbaya, tampak pula Gedung GEO Wehry & Co, perusahaan ekspor-impor besar pada masa kolonial yang kini difungsikan sebagai kafe dan tempat biliar.

Namun, pemandangan itu tak sepenuhnya romantis. Di kanan-kiri sungai, dermaga kayu berdiri tak teratur. Saat air surut, terlihat sisa-sisa dermaga, bangkai kapal, serta endapan lumpur tebal. Sampah plastik pun kerap mengapung, terbawa arus dari permukiman, terutama setelah hujan deras.

Di sepanjang Batang Arau hingga Jalan Klenteng, banyak bangunan tua dimanfaatkan sebagai kafe, tempat hiburan, atau kantor. Namun tak sedikit yang terbengkalai, menambah kesan usang. Memasuki Jalan Klenteng, suasana terasa suram karena sinar matahari terhalang bangunan tinggi dan gudang yang kurang terawat.

Kontras terasa di kawasan Pecinan, tepatnya di sekitar Klenteng Lama See Hin Kiong. Area ini lebih terang dan hidup, dipenuhi kafe kekinian hingga simpang Pasar Tanah Kongsi. Dari sana, pengunjung dapat melanjutkan perjalanan ke kawasan keturunan India di Pasar Batipuh hingga Pulau Air, lalu kembali ke Batang Arau hingga gedung Padangsche Spaarbank yang kini menjadi restoran.


 



Pewarta: Fitra Yogi
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026