Cianjur (ANTARA) - Menanti mimpi menjadi nyata. Itulah harapan yang tersirat dari berbagai kalangan di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, seiring rencana Pemerintah Provinsi Jawa Barat memulai pembangunan jalur Puncak II pada 2026 sebagai solusi kemacetan di jalur Puncak.
Selama ini masyarakat Cianjur utara, terutama pelaku usaha, kerap kesulitan memenuhi permintaan pasar besar di Jabodetabek yang menuntut pengiriman tepat waktu agar sayuran dan bunga hias tetap segar. Namun kemacetan berjam-jam di jalur Puncak membuat mereka sering menanggung kerugian.
Berbagai upaya dilakukan, termasuk memilih jalur alternatif seperti Puncak II dan Jonggol. Namun pilihan itu belum menjadi solusi karena jarak tempuh lebih panjang dan kondisi jalan masih buruk.
Karena itu, mereka berharap pembangunan jalur Puncak II dapat dilakukan secara kolaboratif antara pemerintah daerah, provinsi, dan pusat agar menjadi solusi utama mengatasi kemacetan di jalur Puncak, terutama bagi pemasok sayur mayur dan bunga hias.
Jika jalan sepanjang 62 kilometer yang membentang di Kabupaten Bogor dan Cianjur itu terbangun, waktu dan jarak tempuh akan jauh lebih singkat. Para pelaku usaha pun dapat memenuhi pesanan hingga empat kali sehari secara pulang-pergi.
Harapan agar jalur alternatif utama segera terwujud terus disampaikan para pelaku usaha setiap tahun. Mereka ingin memiliki jalur ekonomi yang bebas macet, baik saat libur panjang maupun hari biasa ketika kepadatan kendaraan tetap terjadi di sepanjang jalur utama Puncak.
Mimpi berlibur ke Cianjur tanpa terjebak macet segera mendekati kenyataan. Pemerintah Provinsi Jawa Barat memastikan pembangunan Jalur Puncak II mulai berjalan tahun ini sebagai solusi kepadatan di Jalur Puncak sekaligus membuka kembali akses wisata menuju kawasan pegunungan, air terjun, hingga pantai selatan terpanjang di Jawa Barat.
Harapan itu disambut pelaku usaha di Cianjur utara, termasuk pedagang sayur di Kampung Panagan, Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Nunut Sauki (49). Setiap hari ia mengirim lebih dari 12 ton sayuran ke Pasar Induk Kramatjati, Jakarta, namun kerap merugi akibat terjebak macet berjam-jam di Jalur Puncak.
“Kami tidak pernah lelah berharap Jalur Puncak II segera terwujud agar pengiriman pesanan bisa tepat waktu tanpa harus terjebak macet belasan jam,” katanya.
Menurut Sauki, selama dua dekade terakhir kawasan wisata Pacet, Cipanas, dan Sukaresmi perlahan kehilangan pengunjung karena wisatawan enggan menghadapi kemacetan saat menuju maupun pulang dari Puncak-Cianjur.
Padahal, kawasan Puncak-Cipanas pernah menjadi tujuan wisata favorit wisatawan domestik dan mancanegara. Hotel, vila, rumah makan, hingga restoran selalu ramai setiap akhir pekan. Kini, banyak usaha di sepanjang jalur utama tutup akibat sepinya pengunjung.
“Sekarang hotel, rumah makan, dan restoran banyak yang bangkrut karena pembeli terus berkurang, termasuk kios sayur milik warga,” ujar Sauki.
Harapan masyarakat Cianjur mulai menemukan titik terang setelah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memastikan pembangunan Jalur Puncak II terus diupayakan agar segera rampung dan bisa dimanfaatkan masyarakat paling lambat 2027.
Menurut Dedi, jalur alternatif tersebut diharapkan mampu mengurai kemacetan di kawasan Puncak-Cianjur sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi, terutama sektor pariwisata.
“Target kami Jalur Puncak II sudah bisa dimanfaatkan tahun depan sebagai jalur alternatif untuk mengurangi kepadatan kendaraan di kawasan Puncak,” katanya.
One way jadi solusi
Kepadatan kendaraan di Jalur Puncak setiap akhir pekan dan libur panjang membuat Polres Cianjur dan Bogor rutin memberlakukan rekayasa lalu lintas, termasuk sistem satu arah atau one way. Namun antrean kendaraan tetap kerap mengular hingga lebih dari 12 kilometer hanya dalam hitungan menit.
Kemacetan panjang terutama terjadi saat libur keagamaan dan arus balik Lebaran. Pengendara bahkan bisa terjebak berjam-jam saat hendak kembali ke kota asal. Tidak jarang jalur menuju Puncak-Cipanas ditutup mulai dari Tugu Lampu Gentur-By Pass Cianjur ketika antrean kendaraan sudah lumpuh total.
Petugas kemudian mengarahkan kendaraan ke jalur alternatif Jonggol dan Sukabumi. Sistem satu arah memang kerap dimanfaatkan wisatawan agar lebih cepat sampai tujuan, namun kebijakan itu tidak selalu efektif ketika volume kendaraan membludak.
Setahun lalu, macet total di kawasan Puncak-Cianjur membuat ribuan kendaraan tidak bergerak selama lebih dari 24 jam. Kondisi baru kembali normal pada hari berikutnya.
Kemacetan berkepanjangan itu juga menjadi salah satu penyebab menurunnya jumlah wisatawan ke kawasan Puncak-Cianjur. Banyak wisatawan memilih berlibur ke Bogor atau Bandung demi menghindari antrean panjang.
Di sisi lain, Jalur Puncak II masih dianggap sebagai solusi alternatif meski kondisinya belum layak digunakan. Banyak pengendara tetap nekat melintas meski jalan rusak, minim rambu dan lampu penerangan, serta rawan bencana.
Karena buruknya infrastruktur, Polres Cianjur setiap tahun tidak merekomendasikan Jalur Puncak II sebagai jalur utama maupun alternatif mudik Lebaran. Pengendara dari dan menuju Jabotabek akhirnya lebih diarahkan melalui jalur Jonggol dan Sukabumi yang dinilai lebih aman dilalui.
Puncak II jadi solusi macet tahun 2027
Pemerintah Kabupaten Cianjur, Jawa Barat, terus mendorong terwujudnya pembangunan jalur Puncak II dengan target pada 2027 jalur alternatif tersebut sudah dapat dilalui kendaraan, termasuk saat arus mudik, guna mengurai kemacetan di kawasan Puncak.
Target tersebut mendapat dukungan dari Pemerintah Provinsi Jawa Barat yang siap membantu pembangunan.
Bupati Cianjur, Mohammad Wahyu Ferdian, mengatakan Pemkab Cianjur dalam beberapa tahun terakhir telah memperbaiki jalan sepanjang 17 kilometer dengan cor beton untuk mendukung percepatan pembangunan jalur tersebut.
Menurut dia, keberadaan jalur alternatif Puncak II diharapkan menjadi solusi bagi pendatang agar lebih cepat sampai ke Cianjur tanpa harus terjebak kemacetan di jalur Puncak. Selain itu, jalur tersebut juga akan mempermudah distribusi hasil bumi ke pasar-pasar besar di Jabodetabek.
Jika pembangunan jalur Puncak II selesai sesuai rencana, jalur ini akan menjadi akses baru yang lebih efektif bagi berbagai kalangan, mulai dari wisatawan menuju kawasan wisata Puncak-Cianjur hingga pelaku usaha yang mendistribusikan pesanan.
Sesuai janji Gubernur Jawa Barat, pembangunan jalur Puncak II diharapkan segera dimulai dan dapat tuntas pada akhir 2026 atau tahun depan. Dengan demikian, saat terjadi lonjakan kendaraan di jalur Puncak, Puncak II dapat menjadi jalur alternatif utama.
Bupati menilai keberadaan jalur Puncak II juga diproyeksikan mampu menekan angka kecelakaan lalu lintas, meningkatkan keselamatan pengguna jalan, serta memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat di wilayah utara Cianjur.
“Terutama pelaku usaha di kawasan Puncak-Cipanas berharap pembangunan jalur Puncak II segera terwujud. Hal itu akan memudahkan distribusi pesanan seperti sayur mayur, bunga hias, dan hasil bumi lainnya ke pasar di Jabodetabek,” katanya.
Kehadiran jalur Puncak II dinantikan berbagai kalangan, terutama pelaku usaha di wilayah utara Cianjur mulai dari perhotelan, rumah makan, restoran, hingga petani dan pemasok sayur mayur serta bunga hias yang rutin mengirim pesanan ke Jabodetabek.
Harapan tersebut mendapat dukungan penuh dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Provinsi Jawa Barat yang mendorong pembangunan jalur Puncak II dapat terealisasi pada 2027. Kehadiran jalur ini dinilai mampu mendorong pembangunan dan meningkatkan perekonomian di wilayah utara Cianjur.
Anggota DPRD Provinsi Jawa Barat, Abdul Karim, mengatakan jalur Puncak II menjadi solusi utama untuk mengatasi kemacetan di jalur Puncak, terutama saat libur panjang akhir pekan dan hari besar keagamaan.
Karena itu, dalam setiap rapat bersama dinas terkait di tingkat provinsi hingga pusat, pihaknya terus menyatakan dukungan agar pembangunan segera direalisasikan sehingga pengembangan berbagai sektor, termasuk pariwisata, dapat terus meningkat.
"Terlebih Gubernur Jawa Barat menyatakan anggaran pembangunan jalur Puncak II sudah dialokasikan pada 2027, sehingga kami akan terus mengawal hingga pembangunan terwujud,” katanya.
Ia menjelaskan pembangunan jalur Puncak II sangat dinantikan masyarakat Cianjur dan Bogor karena dinilai dapat mempersingkat waktu tempuh, terutama saat akhir pekan, sehingga masyarakat dapat lebih cepat sampai tanpa terjebak kemacetan.
Bagi pelaku usaha seperti pemasok sayur mayur, bunga hias, dan usaha lainnya, keberadaan jalur Puncak II juga akan mempermudah distribusi pesanan ke berbagai pasar di Jakarta hingga Tangerang, Banten.
Wisatawan pun diyakini tidak akan ragu datang berlibur ke kawasan Puncak-Cianjur karena tersedia jalur alternatif yang dapat dilalui tanpa harus terjebak antrean panjang berjam-jam saat kembali ke kota asal.
Jalur Puncak II sudah lama digagas sehingga perlu mendapat dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, dengan memperbaiki jalan kabupaten yang rusak agar terkoneksi langsung dengan jalur tersebut.
Perbaikan jalan kabupaten yang terhubung dengan Puncak II dapat dipercepat sehingga saat Pemerintah Provinsi Jawa Barat memulai pembangunan tahun depan, akses penunjangnya sudah dalam kondisi layak.
Uploader : Naryo
COPYRIGHT © ANTARA 2026