Kendal, Jawa Tengah (ANTARA) - Ketua Komisi XIII DPR RI Willy Aditya mengatakan konsep pertanian terintegrasi di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Terbuka Kelas II B Kendal, Jawa Tengah, mengubah stigma negatif terhadap lapas yang selama ini dianggap sebagai beban bagi masyarakat.
"Nah, dengan konsep ini, kita boleh berharap dari lapaslah kemudian masa depan Indonesia kita kembalikan kejayaannya dari pertanian," ucap Willy saat ditemui di Sarana Asimilasi dan Edukasi Lapas Terbuka Kendal, Rabu.
Maka dari itu, Willy sangat optimistis dengan penerapan konsep pertanian tersebut, khususnya karena melibatkan banyak sekali universitas, penggiat, hingga ahli biologi, kimia, ekonomi, dan pertanian.
Menurut ia, konsep pertanian terintegrasi sudah selayaknya diterapkan di lapas mengingat saat ini revolusi dunia digerakkan oleh bioteknologi (pemanfaatan organisme hidup atau sistem biologis untuk menghasilkan produk kesehatan, pertanian, dan lingkungan) serta informasi teknologi (mencakup perangkat keras, perangkat lunak, dan jaringan untuk mengelola data).
Bahkan, sambung dia, kecerdasan buatan (AI) pun kini digunakan di berbagai bidang.
Adapun di Lapas Terbuka Kendal, sistem pertanian terintegrasi yang dikembangkan meliputi pertanian melon premium, perikanan nila merah dan hitam salin, pakan alternatif azolla, hingga peternakan ayam joper.
Willy berharap ke depan produk pertanian yang dihasilkan di Lapas Terbuka Kendal tidak hanya melon dan nila, tetapi bisa mengolah produk lainnya agar sirkulasi pengolahan pangan tetap berjalan dan tidak ada yang terbuang begitu saja.
Baca juga: Lapas Tual cek kesehatan gratis bagi pengunjung cegah masuknya penyakit menular
Baca juga: Menteri Imipas: Hasil panen raya dimanfaatkan untuk kegiatan sosial dan terdampak bencana
Ia juga telah memberikan saran kepada Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto untuk membuat pertemuan besar bagi para kepala lapas dari seluruh Indonesia guna membahas replikasi konsep pertanian terintegrasi di beberapa pulau.
"Jadi, kita punya sentra-sentra kedaulatan pangan yang itu dipelopori, dimotori oleh lapas," tuturnya.
Di sisi lain, Willy menambahkan konsep pertanian terintegrasi bisa menjadi salah satu ide untuk penerapan pidana kerja sosial, yang sesuai dengan sosiokultural.
Apalagi selama ini preferensi pidana sosial di Indonesia berasal dari negara barat, yang cenderung mengarah pada kerja sosial yang cocok di perkotaan.
"Kalau seperti di Kendal ini apa yang paling tepat? Ya bertani, bercocok tanam. Ini sudah paling kompatibel lah," ujar Willy.
Konsep pertanian terintegrasi merupakan sistem budi daya yang memadukan komponen pertanian, peternakan, dan perikanan dalam satu lahan atau siklus tertutup, meniru ekosistem alam.
Tujuannya menciptakan efisiensi, keberlanjutan, dan nol limbah, di mana limbah satu komponen menjadi pakan atau pupuk bagi komponen lain.
