Jakarta (ANTARA) - Para pemuka lintas agama Batam menggelar Dialog Kebangsaan bertajuk “Interreligious Dialogue and Action” di Pacific Palace Hotel, Sungai Jodoh, Minggu (8/2) untuk menyikapi bayang-bayang kelam sindikat Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO).
Forum yang diinisiasi oleh Komisi Hubungan Antar Agama dan Kepercayaan (HAK) Kevikepan Kepri, Keuskupan Pangkalpinang bersama Stella Maris Batam ini menjadi panggung perlawanan melalui tema krusial: "Sinergi Lintas Iman Memutus Mata Rantai Human Trafficking".
Ketegasan para tokoh agama ini muncul dari kegelisahan terhadap maraknya praktik dehumanisasi yang mencederai nilai-nilai sakral setiap keyakinan.
Direktur Stella Maris Batam, RP. Ansensius Guntur CS, yang akrab disapa Romo Yance dalam keterangannya, Senin menyatakan bahwa perdagangan manusia adalah isu panas yang menuntut solusi konkret melalui peran aktif lembaga keagamaan.
"Pertama-tama kita mengetahui bahwa perdagangan orang itu salah satu isu yang sangat hangat saat ini, banyak yang menjadi korban dan Indonesia pun memiliki banyak korban perdagangan orang. Dan karena itu harus dicari solusi, dan salah satu yang menjadi solusi adalah bagaimana agama punya peran dalam menangani dan mengatasi masalah perdagangan orang. Kita yakin semua agama pasti menjunjung tinggi yang namanya martabat manusia, dan perdagangan orang itu sendiri adalah merusak martabat manusia dan karena itu dibutuhkan peran agama untuk ikut terlibat aktif dalam menangani dan mengatasi ini," tegas Romo Yance.
Senada dengan hal tersebut, Ketua PCNU Batam, KH. Dr. Muhammad Zainuddin, menekankan bahwa perdagangan manusia adalah kejahatan transnasional yang secara langsung merendahkan derajat manusia di titik terendah.
Beliau menegaskan bahwa dibutuhkan kesepahaman kolektif seluruh umat beragama untuk memerangi masalah kompleks ini.
"Terima kasih. Semua agama memiliki tujuan yang mulia dalam rangka untuk memuliakan derajat manusia. Nah, untuk itu ada beberapa hal yang bisa merendahkan derajat manusia, di antaranya adalah human trafficking atau perdagangan manusia. Dan ini merupakan masalah yang kompleks, bahkan termasuk masalah yang transnasional. Oleh karena itu, butuh kesepahaman, butuh kerja sama semua antar umat beragama agar bersama-sama bisa memerangi human trafficking ini. Mudah-mudahan dengan kegiatan ini bisa menyamakan langkah bersama dalam rangka upaya untuk memberantas human trafficking. Terima kasih," ujar KH. Muhammad Zainuddin.
Kritik terhadap efektivitas penerapan nilai agama dalam tindakan nyata juga disuarakan oleh Penyelenggara Hindu Kemenag Batam, I Made Karmawan.
Ia mengingatkan bahwa agama tidak boleh hanya berhenti sebagai bahan bacaan atau teks suci semata, melainkan harus menjadi fondasi kuat dalam setiap tindakan penegakan hukum dan perilaku sosial agar kekerasan dapat ditiadakan.
"Oke terima kasih. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari ini merupakan sebuah kegiatan yang sangat baik, karena yang pertama adalah agama sudah mengajarkan hal-hal yang baik, agama juga sudah mengajarkan sesuatu ke jalan dharma yang tentunya adalah perlindungan terhadap orang menjadi salah satu dalam ajaran agama," katanya.
Agama, kami tokoh-tokoh umat beragama, hanya bisa dalam kategori memberikan ajaran-ajaran sesuai dengan kitab suci kita masing-masing. Kembali kepada tim penegak hukum, kembali kepada manusianya, apakah agama itu hanya akan dijadikan sebagai dasar saja, atau sebagai bacaan saja, atau agama itu dijadikan sebagai dasar dalam melakukan tindakannya.
Sehingga kalau agama itu memang betul-betul dijalankan sesuai dengan dasarnya, sesuai dengan ajaran yang benar, maka perdagangan manusia, kekerasan akan terhindar dengan sendirinya.
"Mari jaga sama-sama alam semesta ini melalui hubungan manusia dengan manusia yang baik, hubungan dengan manusia dengan alam yang baik, yang terakhir adalah hubungan manusia dengan Tuhan. Maka kita akan selalu Vasudhaiva Kutumbakam, kita semua adalah bersaudara. Terima kasih," ungkap I Made Karmawan.
Pandangan ini diperkuat oleh Tokoh Agama Buddha, Sumardi, yang turut menyoroti pentingnya perlindungan terhadap sesama sebagai perwujudan jalan Dharma. Ia menegaskan bahwa jika ajaran agama benar-benar dijalankan secara murni sebagai dasar tindakan, maka praktik perdagangan manusia seharusnya tidak memiliki ruang untuk tumbuh.
"Oke terima kasih. Kegiatan yang dilaksanakan pada hari ini merupakan sebuah kegiatan yang sangat baik, karena yang pertama adalah agama sudah mengajarkan hal-hal yang baik, agama juga sudah mengajarkan sesuatu ke jalan dharma yang tentunya adalah perlindungan terhadap orang menjadi salah satu dalam ajaran agama," kata Sumardi.
Agama, kami tokoh-tokoh umat beragama, hanya bisa dalam kategori memberikan ajaran-ajaran sesuai dengan kitab suci kita masing-masing. Kembali kepada tim penegak hukum, kembali kepada manusianya, apakah agama itu hanya akan dijadikan sebagai dasar saja, atau sebagai bacaan saja, atau agama itu dijadikan sebagai dasar dalam melakukan tindakannya.
Sehingga kalau agama itu memang betul-betul dijalankan sesuai dengan dasarnya, sesuai dengan ajaran yang benar, maka perdagangan manusia, kekerasan akan terhindar dengan sendirinya. Mari jaga sama-sama alam semesta ini melalui hubungan manusia dengan manusia yang baik, hubungan dengan manusia dengan alam yang baik, yang terakhir adalah hubungan manusia dengan Tuhan.
"Maka kita akan selalu Vasudhaiva Kutumbakam, kita semua adalah bersaudara. Terima kasih," papar Sumardi.
Sebagai penutup yang menekankan sisi kemanusiaan universal, Ketua BPMK GBKP Kepri, Pdt. Josep A. Sembiring, mengingatkan bahwa setiap manusia adalah citra Allah (imago Dei) yang wajib dihargai. Ia menyebut human trafficking sebagai kejahatan berat dan terorganisir yang harus segera dienyahkan dari bumi Indonesia melalui dialog dan solusi bersama.
Terima kasih buat kesempatan ini dan undangannya. Kalau kita melihat bahwa manusia itu imago Dei, sama semua di hadapan Tuhan. Jadi harusnya kita saling menghargai. Nah, hari-hari ini ada begitu banyak terjadi human trafficking terhadap sesama manusia.
"Dan ini merupakan kejahatan yang berat dan sangat terorganisir. Oleh sebab itu, setiap agama bersama-sama untuk memberantas kejahatan ini sehingga bisa diminimalisir atau dihilangkan dari negara kita ini. Oleh sebab itu, hari ini kita harus bersama-sama berdialog untuk mencari solusi bersama. Terima kasih," pungkas Pdt. Josep A. Sembiring.
Langkah kedua, adalah dengan mengadakan sejumlah pelatihan dan sertifikasi sumber daya manusia (SDM) K3 secara berkelanjutan, diikuti dengan perluasan sosialisasi pembudayaan K3 bagi serikat pekerja maupun manajemen perusahaan.
Tidak hanya itu, Kemnaker juga memperkuat kolaborasi dengan BPJS Ketenagakerjaan, dunia usaha, asosiasi profesi, perguruan tinggi, dan pemerintah daerah.
Baca juga: Menaker ungkap kinerja K3 nasional masih ada tantangan serius
“Kami juga mendorong transformasi layanan K3 berbasis digital melalui penyederhanaan proses sertifikasi, penyempurnaan aplikasi Teman K3, peluncuran kanal pelaporan Lapor Menaker, serta penguatan basis data kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja agar penanganannya lebih cepat, transparan, dan akuntabel,” kata Yassierli.
Di sisi lain, ia mengatakan kementeriannya juga memperkuat integritas layanan K3.
“Kemnaker tidak mentoleransi pelanggaran, dengan penerapan pakta integritas, penangguhan izin Perusahaan Jasa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (PJK3) yang tidak patuh, serta penindakan tegas terhadap setiap bentuk penyelewengan,” ujar Yassierli.
