Jakarta (ANTARA) - Di tengah gempuran motor listrik (molis) berharga terjangkau, terutama produk asal Tiongkok, PT Astra Honda Motor (AHM) memilih strategi untuk tidak terjebak dalam persaingan harga.
Wakil Presiden Direktur Eksekutif AHM Thomas Wijaya di Jakarta, Senin, mengatakan, strategi pabrikan Jepang tersebut berfokus pada kebutuhan konsumen melalui kualitas produk, keamanan, serta kesiapan ekosistem motor listrik di Indonesia.
“Kami melihat memang akhirnya tidak hanya sekadar produk, tapi perlu bagaimana kami mempersiapkan jaringan after sales (purnajual), kemudian juga spare part (suku cadang), kemudian juga ekosistemnya.” kata dia.
AHM menilai tantangan utama elektrifikasi bukan sekadar menghadirkan produk, melainkan memastikan konsumen merasa aman, nyaman, dan mudah dalam penggunaan motor listriknya sehari-hari.
"Bagaimana kami tidak hanya menjual produk, tapi juga memberikan rasa aman dan nyaman baik dari segi ekosistem hingga purnajualnya." ujar Thomas.
Baca juga: AHM beri penyegaran Honda Forza yang memikat
Baca juga: PT AHM hadirkan Gold Wing baru edisi 50 tahun motor bergaya cruiser dengan harga Rp1 miliar lebih
Baca juga: Astra Honda Motor bukukan penjualan 1.133 unit pada IIMS 2025
Dalam hal infrastruktur, AHM melihat kebutuhan konsumen Indonesia yang beragam, antara motor listrik sistem pengisian daya (charging) dan penukaran baterai (swap). Perbedaan perilaku ini menjadi perhatian utama perusahaan dalam menghadirkan opsi produk dan membangun ekosistem yang sesuai.
AHM menegaskan pendekatan konsumen sentris dengan menitikberatkan pada keamanan, kenyamanan, dan kemudahan penggunaan. Tujuannya agar konsumen yang menggunakan motor listrik Honda dapat berkendara tanpa rasa khawatir dan menikmati pengalaman berkendara secara optimal.
Diketahui, dalam dua hingga tiga tahun terakhir AHM telah memiliki empat model motor listrik, mulai dari Honda EM1 e:, hingga CUV e:, yang kisaran harganya bermain di segman Rp28 juta hingga nyaris Rp60 jutaan. Sedangkan di Indonesia, molis beredar beragam, dengan segmen entry level di kisaran Rp6 jutaan hingga segmen lebih tinggi di kisaran Rp15-Rp50 juta.
Pada 2025, perusahaan mampu melayani konsumen selama satu tahun penuh dengan volume penjualan di kisaran 15.000–16.000 unit. Capaian ini dipandang AHM sebagai proses pembelajaran untuk memahami perilaku konsumen dan kebutuhan pasar elektrifikasi di Indonesia.
