Jakarta (ANTARA) - Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading berupaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan bypass jantung minimal invasif yang aman dan berorientasi pada pemulihan cepat sesuai standar global.
“Bukan tentang angka 100, Ini tentang 100 keluarga yang kembali lengkap, 100 harapan yang pulih, dan 100 kehidupan yang diberi kesempatan kedua. Keberhasilan ini adalah komitmen kami untuk terus tumbuh, berinovasi, dan memberikan yang terbaik bagi masyarakat Indonesia," kata Direktur Mitra Keluarga Kelapa dr. Ronald Reagan, MM., MARS dalam keterangan resmi di Jakarta, Jumat.
Dalam acara inaugurasi untuk perayaan atas pencapaian lebih dari 100 tindakan MICS-CABG (Minimally Invasive Coronary Artery Bypass Grafting) yang digelar pada Rabu (4/2) di Jakarta, Reagan menyampaikan bahwa penyakit jantung masih menjadi salah satu penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan angka kejadian yang terus meningkat seiring perubahan gaya hidup dan penuaan populasi.
Akses pasien terhadap layanan bedah jantung, termasuk prosedur bypass jantung minimal invasif, masih menghadapi tantangan pemerataan.
Baca juga: Menkes apresiasi keberhasilan RSUD dr. Zainoel Abidin operasi bypass cerebrovascular
Menurut data Kementerian Kesehatan, hingga akhir 2022 hanya sembilan provinsi yang memiliki kemampuan melakukan operasi bypass jantung, sehingga antrean pasien sering memanjang selama 6 sampai 18 bulan.
Ia menyampaikan bahwa kini pemerintah pun menargetkan agar pada tahun 2027 seluruh provinsi di Indonesia mampu melakukan operasi bypass jantung, sebagai bagian dari upaya pemerataan layanan kesehatan jantung untuk menjangkau masyarakat lebih luas.
Dalam konteks tersebut, pencapaian Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading dalam mengimplementasikan teknik minimal invasif secara konsisten ini tentunya sejalan dengan target nasional, karena selain meningkatkan kapasitas pelayanan di tingkat fasilitas kesehatan, juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan jantung modern dan berkualitas bagi masyarakat.
Baca juga: Pasien yang didiagnosis alami penyempitan pembuluh darah disarankan bypass jantung
Direktur Regional Mitra Keluarga Group dr. Arina Yuli Roswitati, MS., MARS menambahkan, penyakit jantung saat ini masih menjadi tantangan kesehatan yang semakin kompleks, sehingga membutuhkan kesiapan layanan yang menyeluruh dan berkesinambungan.
"Penguatan layanan jantung tidak hanya berfokus pada tindakan operatif, tetapi juga pada deteksi dini, kesinambungan perawatan, serta edukasi pasien agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan tepat," ujarnya.
Pada kesempatan itu juga diluncurkan program MICRO™ (Minimal Invasive Cardiac Surgery with Rapid Recovery) yang merupakan sebuah protokol bedah jantung terintegrasi yang menggabungkan teknik sayatan minimal, teknologi modern, visualisasi presisi tinggi, serta pendekatan pemulihan cepat.
Program ini dirancang untuk meminimalkan trauma operasi, memperpendek lama rawat inap, mengurangi nyeri, mempercepat mobilisasi pasien, menurunkan risiko komplikasi, serta meningkatkan kualitas hidup pascaoperasi.
