Jakarta (ANTARA) - Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Iklim dan Atmosfer Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Eddy Hermawan mengungkapkan sejumlah daerah di Pulau Jawa, termasuk Jakarta, rentan terdampak penguatan sistem cuaca meskipun bukan perlintasan langsung siklon tropis.
Dalam diskusi bertajuk “Mengurai Banjir Jakarta Berbasis Riset” di Jakarta, Rabu, dia menjelaskan bahwa secara geografis Jakarta tidak berada di jalur utama pembentukan siklon tropis karena keterbatasan luas laut lepas atau tidak berhadapan langsung dengan samudera di sekitarnya.
Kondisi itulah yang dinilainya perlu diketahui masyarakat Jakarta sehingga tidak perlu khawatir berlebihan menyusul fenomena Siklon Senyar yang memperparah intensitas hujan hingga memicu bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat yang berhadapan langsung dengan Samudra Hindia.
Meski demikian, dia menyebut siklon tropis yang berkembang di kawasan Samudra Hindia, Pasifik Barat, maupun wilayah sekitar Australia tetap dapat memengaruhi kondisi atmosfer di Jakarta melalui penguatan sirkulasi udara regional.
Baca juga: Gangguan dinamika atmosfer tingkatkan potensi cuaca ekstrem di NTB
"Penguatan sistem cuaca tersebut dapat meningkatkan suplai uap air ke wilayah Jakarta dan sekitarnya, sehingga memicu hujan yang berlangsung dalam durasi panjang dan berpotensi menyebabkan banjir," kata dia, seraya mencontohkan peristiwa banjir yang nyaris melumpuhkan Jakarta tahun 2020 lalu.
Ia menambahkan bahwa saat itu hujan ekstrem berdurasi panjang menjadi faktor dominan dalam kejadian banjir di Jakarta dan bertepatan dengan keterbatasan kapasitas drainase perkotaan - penurunan muka tanah (land subsidance) hingga belasan centimeter per tahun.
"Kerentanan Jakarta tidak hanya dipengaruhi oleh faktor meteorologis, tetapi juga oleh tingginya tingkat urbanisasi, perubahan tata guna lahan, serta berkurangnya area resapan air. Dengan begitu pemahaman mekanisme siklon tropis dan sistem atmosfer pendukungnya penting sebagai dasar penyusunan kebijakan mitigasi banjir berbasis risiko di Jakarta," cetusnya.
Peneliti BRIN berharap penguatan sistem peringatan dini cuaca ekstrem berbasis riset dan data resolusi tinggi agar dampak penguatan sistem cuaca terhadap Jakarta dapat diantisipasi lebih dini dan lebih tepat sasaran.
Baca juga: BMKG deteksi kemunculan pusat tekanan rendah di Samudra Hindia selatan NTB
