Jakarta (ANTARA) - Harga emas global dalam beberapa hari terakhir mengalami koreksi jangka pendek setelah reli kuat sebelumnya. Namun, koreksi ini tidak mengubah pandangan struktural terhadap emas, yang masih diproyeksikan berada pada level tinggi dalam beberapa tahun ke depan.
Dalam laporan terbarunya, Goldman Sachs menegaskan bahwa penurunan jangka pendek emas bersifat teknikal dan volatilitas jangka pendek, sementara faktor utama pendukung harga emas tetap utuh.
GM Corporate Communication Merdeka Copper Gold Tom Malik mengatakan permintaan dari bank sentral, lindung nilai terhadap risiko kebijakan global, serta minat investor institusional dinilai bersifat “sticky” dan tidak mudah berbalik arah.
Di tengah kondisi tersebut, PT Merdeka Gold Resources Tbk (IDX: EMAS) justru berada pada posisi yang semakin menarik. Harga saham EMAS saat ini masih mencerminkan asumsi konservatif, sementara realisasi harga emas global berada jauh di atas asumsi tersebut.
Beberapa poin utama yang mendukung EMAS:
Koreksi emas bersifat jangka pendek, sementara outlook jangka menengah–panjang tetap positif.
EMAS akan segera memasuki fase produksi, dengan Proyek Emas Pani diproyeksikan menghasilkan lebih dari 90.000 ounce emas per tahun pada tahap awal.
Struktur biaya yang kompetitif membuat EMAS tetap resilient dalam berbagai skenario harga emas.
Leverage ke harga emas tetap besar, sehingga normalisasi sentimen pasar berpotensi langsung tercermin pada kinerja EMAS.
Dengan kata lain, pelemahan harga emas saat ini lebih merupakan noise, bukan perubahan arah. Fundamental EMAS terus bergerak ke fase yang lebih matang, sementara valuasi sahamnya masih tertinggal dari realitas harga emas global.
