Kota Bogor (ANTARA) - Kopi merupakan minuman yang paling banyak dikonsumsi di seluruh dunia. Menurut situs coffeedasher.com, sekitar 2,25 miliar cangkir kopi dikonsumsi setiap hari oleh orang dari berbagai belahan dunia.
Berdasarkan data dari goodstats.id, Indonesia termasuk dalam 10 negara dengan konsumsi kopi terbesar di dunia, mencapai 4,8 juta kantong yang setiap kantong beratnya 60 kg pada 2024/2025.
Saat ini, minum kopi bukan sekadar menghilangkan rasa mengantuk namun menjadi bagian dari gaya hidup.
Secara kimiawi, kopi adalah campuran kompleks yang mengandung lebih dari seribu senyawa bioaktif yang dapat memiliki efek fisiologis beragam pada tubuh manusia.
Senyawa dalam kopi yang paling dikenal adalah kafein, yang diketahui memiliki efek stimulan, dan memberikan kekentalan, kekuatan, serta 10% dari rasa pahit kopi.
Berbagai penelitian global menunjukkan bahwa minum kopi tanpa gula dalam dosis sedang (3–5 cangkir sehari) dapat menurunkan risiko kematian dini.
Kebiasaan ini juga berkaitan erat dengan berkurangnya risiko penyakit kronis seperti diabetes, stroke, masalah jantung, gangguan pernapasan, kepikunan, hingga jenis kanker tertentu seperti kanker hati dan rahim.
Paradoks kopi
Akan tetapi terdapat suatu paradoks yang telah ditemukan dari penelitian selama lebih dari tiga dekade, di mana konsumsi kopi dapat menyebabkan peningkatan kadar lipid darah.
Pada beberapa penelitian ditemukan bahwa semakin banyak konsumsi kopi dalam sehari dapat meningkatkan kadar kolesterol, trigliserida dan kolesterol jahat (LDL).
Senyawa yang bertanggung jawab atas fenomena ini bukanlah kafein, melainkan kandungan lipid yang dikenal sebagai senyawa diterpen, yang juga ditemukan dalam kopi.
Secara struktur kimia, diterpen merupakan senyawa hidrokarbon yang tersusun dari empat unit isoprena dengan rumus dasar C5H8.
Senyawa diterpen utama kopi, cafestol dan kahweol, umumnya berada dalam bentuk ester asam lemak. Cafestol dan kahweol memiliki struktur tetrasiklik diterpenoid yang sangat lipofilik (suka lemak).
Kadar diterpen ini sangat bervariasi bergantung pada spesies kopinya, di mana kopi Arabika umumnya mengandung cafestol dan kahweol dalam jumlah yang hampir setara, sementara kopi Robusta memiliki kadar cafestol yang lebih rendah dan hampir tidak mengandung kahweol.
Selama proses pemanggangan (roasting) dengan suhu tinggi, sebagian besar diterpen ini tetap stabil dan tidak mengalami degradasi. Oleh karena itu, potensi peningkatan kolesterol ini tetap ada dalam biji kopi sangrai yang siap dikonsumsi.
Mekanisme diterpen dalam meningkatkan kolesterol terjadi di dalam sel hati (hepatosit) melalui jalur yang cukup kompleks. Secara garis besar, cafestol dapat menghambat enzim yang bertanggungjawab pada proses pembentukan asam empedu dari kolesterol.
Ketika enzim ini dihambat, penggunaan kolesterol tubuh menjadi berkurang, sehingga kolesterol menumpuk di dalam hati.
Sebagai akibatnya, hati akan menurunkan jumlah reseptor LDL pada permukaan selnya. Penurunan jumlah reseptor LDL ini mengakibatkan pembersihan LDL dari sirkulasi darah menjadi tidak efisien, sehingga kadar kolesterol LDL dalam darah meningkat secara signifikan.
Studi klinis menunjukkan bahwa konsumsi 10 mg cafestol per hari dapat meningkatkan kolesterol total sekitar 5 mg/dL dalam waktu singkat. Efek ini bersifat reversibel (dapat berbalik), di mana penghentian konsumsi diterpen akan mengembalikan profil lipid ke tingkat normal.
Pengaruh metode seduh
Lalu apakah mulai sekarang kita harus mengurangi konsumsi kopi? Tidak juga.
Penelitian lain menunjukkan bahwa metode ekstraksi dan suhu air yang digunakan saat menyeduh kopi menghasilkan perbedaan signifikan pada kadar diterpen dalam secangkir kopi.
Metode penyeduhan yang melibatkan kontak langsung antara bubuk kopi dan air mendidih tanpa menggunakan filter menghasilkan kadar diterpen tertinggi. Contohnya adalah kopi rebus ala Skandinavia, kopi tubruk, dan kopi yang dibuat dengan metode French Press.
Dalam metode French Press, saringan logam yang digunakan memiliki pori-pori yang terlalu besar untuk bisa menahan tetesan minyak berukuran mikro yang mengandung diterpen dalam ekstrak kopi.
Metode espresso, meskipun menggunakan tekanan tinggi, menghasilkan kadar diterpen yang relatif moderat karena waktu kontak air dan bubuk kopi yang sangat singkat. Satu cangkir kopi espresso rata-rata mengandung sekitar 1 mg cafestol, jauh lebih rendah dibandingkan kopi tubruk yang bisa mencapai 4-6 mg per cangkir.
Kopi instan memiliki kadar diterpen yang sangat rendah karena proses pembuatannya di pabrik, seperti freeze-drying atau spray-drying, dapat memisahkan sebagian besar fraksi lipid yang mengandung diterpen.
Penggunaan suhu air yang lebih rendah, seperti pada metode cold brew, juga cenderung menghasilkan diterpen lebih sedikit dibandingkan metode seduh panas. Namun, karena waktu ekstraksi cold brew yang sangat lama (12–24 jam), sebagian fraksi lipid tetap dapat terbawa ke dalam konsentrat kopi.
Oleh karena itu, bagi konsumen kopi yang memiliki masalah kolesterol, pemilihan metode seduh kopi dapat menjadi salah satu intervensi gaya hidup.
Filter kertas
Penggunaan kertas filter merupakan metode paling efektif untuk menghilangkan hampir seluruh kandungan diterpen dalam kopi. Fenomena ini terjadi karena adanya proses pemisahan secara mekanik dan perbedaan karakter fisikokimia antara minyak kopi dan serat kertas.
Kertas filter kopi umumnya terbuat dari serat selulosa yang memiliki struktur jalinan benang yang sangat rapat dengan ukuran pori yang kecil.
Diterpen dalam kopi berada dalam bentuk tetesan kecil minyak dalam air saat proses ekstraksi berlangsung. Ketika cairan kopi melewati filter, tetesan minyak yang bersifat hidrofobik (takut air) ini akan terperangkap di dalam pori-pori kertas.
Selain itu, terdapat gaya adsorpsi di mana molekul lipid akan menempel pada permukaan serat selulosa melalui interaksi hidrofobik.
Penelitian juga menunjukkan bahwa filter kertas mampu menahan lebih dari 95% cafestol dan kahweol yang terekstraksi dari bubuk kopi.
Sebagai perbandingan, filter yang terbuat dari logam atau nilon tidak memiliki kemampuan menahan lipid yang sama karena permukaannya yang tidak berpori halus dan sifat materialnya yang kurang efektif mengikat lipid.
Penggunaan filter kertas terbukti dalam berbagai studi kohort dapat mencegah kenaikan kolesterol LDL pada peminum kopi berat.
Hal ini menjadikan kopi filter, seperti V60 dan coffee drip, sebagai pilihan utama untuk konsumsi kopi yang lebih aman.
Sebagai kesimpulan, konsumsi kopi tetap aman selama memperhatikan campuran kopi, frekuensi minum kopi, serta metode ekstraksi kopinya.
Meskipun memiliki potensi risiko terhadap peningkatan kadar kolesterol LDL, risiko ini dapat dimitigasi sepenuhnya melalui pemilihan metode penyeduhan yang tepat.
Inovasi dalam teknologi pangan dan pengetahuan akan teknik filtrasi memungkinkan pecinta kopi untuk tetap menikmati manfaat antioksidan kopi tanpa mengorbankan kesehatan jantung dan pembuluh darah.
Bagi praktisi kesehatan dan farmasi, memberikan edukasi mengenai perbedaan kopi filter dan non-filter merupakan langkah preventif yang sederhana namun berdampak besar bagi pasien dengan dislipidemia, suatu kondisi ketidakseimbangan kadar lemak dalam darah, ditandai dengan peningkatan kolesterol jahat (LDL), trigliserida, atau penurunan kolesterol baik (HDL).
Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengungkap potensi terapi dari diterpen dalam dosis terkontrol untuk kondisi medis lainnya.
*) Apt Erny Sagita MFarm PhD, adalah Dosen Fakultas Farmasi Universitas Indonesia (FFUI), Anggota Klaster Riset Kosmetik dan Suplemen FFUI
